Ingatan

1219 Kata
Renata mengetuk-ngetuk penanya ke meja. Layar laptopnya sudah menghitam sejak lama. Tidak ada email yang ia balas, tidak ada penjadwalan yang ia kerjakan, tidak ada form yang ia periksa. Dengan kata lain, ia tidak melakukan apa-apa sedari pagi. Espresso macchiato miliknya sudah terlalu dingin kena hawa AC. Yang Renata lakukan sedari tadi hanya mendesah dan mendesah saja. "Bu? Bu Renata!" Gina, Asistennya yang nomor 2 menegur dengan suara cukup keras. Renata terlonjak. Penanya melompat. "Gin! Bisa lebih pelan nggak, sih. Kalau gue jantungan trus anfal gimana?" "Saya sudah pake mode getar tadi, Bu tapi Ibu nggak dengar. Ya terpaksa, volume saya naikkan." Dasar asisten somplak! Apanya yang mode getar? Dia pikir vibrator kali, ya pake acara getar-getaran, pikir Renata. Duh, kenapa jadi mikir vibrator? Tapi memang tadi ada niatan dalam diri Renata untuk beli vibrator. Setelah apa yang dia dan Anggoro lakukan dan tidak bisa dilakukan Revanno, rasanya vibrator bisa jadi alternatif. Atau dildo? Shit! s**t! Kenapa pikiranku jadi ngeres? Renata kembali berusaha fokus pada asistennya yang berdiri dengan sikap sempurna di depan mejanya. Ia memandangi perempuan seperempat abad yang sudah dua tahun menjadi asistennya. Renata berpikir, dengan penampilan yang tidak bisa dibilang modis; wajah kaku, kacamata minus dengan rantai yang membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih tua, atasan turtle neck dan rok span selutut serta sepatu mirip pasukan pengibar bendera, apa asistennya ini pernah merasakan kencan dan pacaran? "Ada apa, sih? Nggak liat gue lagi sibuk?" "Sibuk ngelamun, Bu? Mentang-mentang baru pulang dinas luar bawaan Ibu hari ini melow banget." Boleh saja penampilan asistennya cupu, tapi mulutnya lumayan sadis. Kalau bukan karena kerjaannya yang super efektif dan efisien, sudah lama Renata akan minta ganti. "Jangan kurang ajar, ya, Gin!" tegur Renata. Meskipun dia dikenal sebagai atasan yang akrab dengan karyawan, tapi hari ini dia sedang tidak ingin bermanis-manis. "Ma-maaf, Bu." Gina sedikit terkejut dengan sikap Renata yang tidak biasa. "Ada apa? Lo ada kerjaan buat gue?" "Ini," Gina menyodorkan satu map berisi kertas-kertas satu rim. "Gila! Tebel banget! Proposal baru?" tanya Renata. Gina mengangguk. "Di cc ke email saya. Seharusnya sudah ada di inbox Ibu." "Gue belum baca." Gina mendesah lirih, seperti berkata 'pantes'. Renata mendelik. "Ibu baca-baca dulu saja. DLnya masih lama, kok. Kalau butuh apa-apa saya ada di meja." Gina berlalu dari ruangan Renata tanpa menunggu jawaban dari atasannya. Sepeninggalan Gina, Renata tidak membuka map yang diberikan padanya. Dia hanya menggeser sedikit hingga map tebal itu berada di ujung meja. Pikirannya kembali melayang sejauh-jauhnya. Kembali ke masa-masa bersama Anggoro. Tubuhnya berkhianat. Tubuhnya meminta lebih. Apa yang dirasakannya malam itu benar-benar lebih nikmat dari sekadar o*****e dengan jari-jari Vanno. Ah, Vanno ..., jika bukan karena cinta, entah apa yang membuatnya tetap bertahan dalam pernikahan tanpa hubungan suami istri. Tiga tahun! Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan pernikahannya. Dia selalu percaya waktu akan mengubah pendirian Vanno. Tapi tiga tahun dan dia boleh dibilang masih ... perawan? "Jujur Vanno, kamu gay?" tanya Renata ketika di hari ketiga selepas ijab kabul, Vanno masih belum juga menjebol keperawanannya. "Tidak! Aku normal, hanya ...." "Laki-laki normal pasti berahi jika melihat perempuan telanjangg. Dan aku telanjangg. Aku sah kamu tiduri. Tapi lihat! Mr d**k mu masih saja mengkerut. Apa namanya kalau bukan gay?" Renata sedikit frustasi. Dia sudah membayangkan malam-malam membara ketika mereka sah menjadi suami istri. Nyatanya? Dia harus gigit jari karena Revanno selalu gagal melakukan penetrasi. "Aku mencintaimu, Ren. Aku berhasrat padamu. Sangat! Tapi ... Ah, sudahlah! Akan kulakukan apa pun untuk memuaskanmu, kecuali dengan cara yang satu itu." "Kecuali dengan cara yang satu itu. Maksudmu, aku akan kehilangan keperawanan di ujung jarimu? Atau pake timun?" Nada sarkas tak bisa dibendung Renata. Dia hampir gila dengan sentuhan-sentuhan Revanno tapi ketika tiba saatnya kedua kaki jenjangnya membuka, Revanno selalu menarik tubuhnya menjauh. Dan kejantanan yang sempat menegang tiba-tiba lunglai. Revanno mendekati Renata dan menyelimuti tubuhnya dengan sehelai handuk. Dipeluknya dan diciuminya leher jenjang Renata. "Aku mencintaimu, Ren. Sangat mencintaimu." "Aku juga, Van. Kumohon ... Kumohon puaskan aku. Aku bisa gila jika terus-menerus kau sentuh tapi tak dipuaskan," Renata mulai mengisak. Bibirnya mencari-cari bibir Revanno. Mereka berpagutan. Tangan Revanno merayapi punggung Renata dan meremas bokongg bulatnya. Perlahan tangannya masuk ke selangkangann Renata yang basah. Desahan halus keluar dari mulut Renata. Bukan, bukan ini yang dia mau. Tapi ..., Tapi ..., Saat jari-jari Revanno mulai bermain dan menggelitik, Renata tak kuasa menolak. Masih dengan jari-jari yang tak lepas, Revanno membimbing Renata rebah di tempat tidur. Bibirnya masih memagut bibir Renata. Turun perlahan ke leher, lalu bermain di kedua pucuk bukit yang mencuat. Desahan Renata semakin tak terkendali. Tubuhnya bergerak naik turun. Mulut Revanno semakin turun ke bawah. Melewati pusar, semakin ke bawah dan berhenti di labira mayora yang membukit. Dua jari Revanno membuka bukit itu, lalu dengan lincah, dia mencecap dan bermain-main dengan indera perasanya. Merasai Renata. "Van ..., Ap-apa ... Oh! s**t!" Tubuh Renata makin tak terkendali, dua tangan Revanno kini harus menahan tangan-tangan Renata yang menggapai-gapai liar. Bagi Renata, ini pengalaman pertama dan tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sensasi geli yang aneh membuat ujung-ujung jari kakinya mendingin. Dan ketika ledakan kenikmatan itu hampir menyeruak, Renata menggelinjangg hebat. Lalu Revanno melakukannya. Melesakkan kelelakiannya dan berusaha memasuki cerukk yang sudah teramat basah. Namun gagal. Barang yang seharusnya tegang itu melayu. Renata menunggu sensasi selanjutnya, Vanno hanya menatapnya sedih. Di lain waktu, Renata pernah bertanya, apa mungkin Vanno mengalami ejakulasi dini? Impoten? "Bukan. Kurasa bukan." "Tapi gejalanya sama, Van. Kalau memang benar, masih bisa sembuh, kok. Kita masih muda. Masih bisa usaha. Kita cari dokter, ya? Ya?" "Bukan. Pokoknya bukan! Aku nggak edi tansil apalagi impoten. Aku hanya ... Ah! Ren, jika kamu menyesali pernikahan ini, kamu boleh minta cerai. Atau pembatalan nikah. Mumpung usia pernikahan kita baru sebulan. Tapi kamu harus tau, bukan aku yang menceraikan kamu atau melakukan pembatalan. Sampai aku mati tidak akan pernah kulakukan itu." Vanno menatap Renata sendu. Baru sebulan umur pernikahan mereka, apa kata orang jika tiba-tiba mereka cerai? Renata mencintai Revanno. Dia tidak cukup tega untuk menorehkan aib di wajah lelaki kesayangannya itu dan juga keluarganya. Belum pernah ada keburukan yang dia rasakan selama hubungannya dengan Revanno. Orang tua dan adik Revanno juga baik. Tidak seperti cerita orang-orang, bahwa setelah menikah, mertua dan ipar akan menjadi musuh utama. Orang tua Vanno sama seperti orang tuanya. Adik perempuan Vanno sama seperti adiknya dan mereka kompak. Tidak ada rasa iri, dengki atau persaingan fashion. Apa jangan-jangan mereka semua sekongkol? Mereka tahu kondisi Vanno dan menjebak Renata? "Papa Mama juga Mita ... Apa mereka tahu kondisi kamu?" "Gila saja. Ya enggaklah!" "Jujur Vanno." "Demi Tuhan, Ren. Kalau Mama tau, dia akan membawaku ke dokter spesialis paling hebat daripada menyuruhmu menikahiku. Perasaan mereka sama kamu itu tulus. Mereka menyayangi kamu sama seperti anaknya. Nggak mungkin mereka nyuruh kamu nikah sama aku kalau akhirnya kamu bakal nggak bisa kubahagiain." Vanno benar. Mamanya tidak mungkin setega itu. Jadi memang Vanno tidak memberi tahu siapa-siapa soal kondisinya. Baiklah. Untuk sementara Renata akan memendam hasratnya. Lain waktu, dia akan membujuk Vanno lagi untuk berobat. Renata berdiri, dia memandangi Vanno yang masih terduduk di tepi ranjang mereka. "Akan kupertimbangkan." "Apa?" Vanno menatap Renata tak mengerti. "Cerai darimu. Atau membatalkan pernikahan. Akan kupertimbangkan tentang itu," katanya sambil berlalu. Meninggalkan Vanno yang tertunduk sedih. Tiga tahun berlalu dan tak sekalipun keinginan itu muncul kembali. Hingga Anggoro menodai dirinya dan Renata mulai berpikir inilah saat terbaik untuk mengakhiri pernikahannya.©
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN