Besok yang dimaksud Bian ternyata datang jauh lebih cepat dari perkiraan Nadira. Bukan besok dalam arti hari baru sepenuhnya, melainkan jeda singkat setelah Subuh, ketika cahaya pagi masih ragu-ragu menembus tirai dan udara dingin Sapporo belum benar-benar beranjak pergi. Waktu yang menggantung antara gelap dan terang, antara kantuk yang belum tuntas dan kesadaran yang perlahan kembali setelah salat subuh. Nadira tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi karena sentuhan. Bukan sentuhan yang kasar atau terburu-buru, melainkan pelukan yang menyusup pelan, seolah memastikan ia sudah sepenuhnya hadir. Lengan Bian melingkar di pinggangnya, telapak tangannya hangat, bergerak dengan kehati-hatian yang justru membuat jantung Nadira berdegup lebih cepat. Ia menarik napas pendek. Bukan karena takut.

