Sensasi mulas kemarin ternyata tidak berkepanjangan. Setidaknya pagi ini perasaan Reza jauh lebih tenang. Tidak ada lagi drama bolak - balik ke kamar mandi seperti saat perjalanan menuju Bandung kemarin. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, duduk di tepi ranjang hotel dengan kedua telapak tangan bertumpu di paha, lalu menghela napas panjang. Ia terus - menerus mempengaruhi pikirannya sendiri untuk tidak perlu khawatir. Berkali - kali ia menanamkan sugesti, seolah sedang berbicara kepada dirinya di depan cermin. "Tenang, Rez. Direstui atau tidak direstui, kamu tetap akan menikah dengan Maya." Kalimat itu bukan sekadar keberanian kosong. Itu keputusan. Ia tidak ingin mengulangi masa lalu, ketika ia dan Maya sama - sama pasrah terhadap keadaan. Ia masih ingat bagaimana dulu ia hanya bisa me

