66.

827 Kata

"Ya Tuhan! Selamatkan aku!" doa batin Dasta yang menjerit. Sepertinya baru beberapa menit saja Dasta bisa bernafas lega, tapi harus kembali merasakan sesak nafas yang ngos-ngosan saat melihat Mei yang kembali datang dengan anak buahnya yang mengawal dirinya kanan-kiri. Dasta melirik ke arah tangan kiri Mei yang tadi terluka kini sudah di balut perban. Merasa plong ketika wanita itu sudah mengobati tangannya sendiri. "Syukurlah kau sudah mengobati tanganmu Mei," ucap Dasta tersenyum. "Jangan pernah menebarkan senyum palsu penuh kelicikanmu itu." hardik Mei sarkastik. "Maaf? Maksudnya?" "Aku tahu jika senyumanmu itu hanyalah sebuah kepalsuan, kau memiliki daya tarik untuk memikat agar orang lain luluh dengan senyummu. Kau memakai susuk kecantikan, bukan?" Dasta ternganga mendengar u

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN