Dua bulan sudah aku menjadi istri aditya, aku merasa bahagia hari hari yang kami lalui penuh dengan canda dan tawa bahagia. aku sangat bersyukur menjadi istrinya. hari ini kami berniat mengunjungi orang tua ku " dek kita jenguk ibu yuk " ajaknya " aku kangen mereka cepat kamu siap siap" lanjutnya.
Aku terharu mendengarnya yang begitu perhatian dengan keluargaku. " ayo sayang napa bengong apa yang sedang kamu pikirin ayo cepat" katanya lagi aku pun branjak dari tempat dudukku aku berjalan ke kamar untuk mengambil tas ku " sayang jangan lupa bawa baju ganti kita akan nginap di sana untuk beberapa hari" aku menoleh lalu tersenyum padanya.
Hati ku terharu sekligus bahagia yang teramat sangat tak henti hentinya aku bersyukur pada yang Kuasa karena telah mempertemukan aku dengan aditya. setelah semua siap kami berangkat menuju rumah orang tua ku.
"Assalamualaekum ibu bapak", "waalaekumsalam" ibu menyambut kedatangan kami " mari nak masuk, alhamdulillah akhirnya kalian datang ibu kangen" kata ibu dengan mata berkaca kaca " kami juga kangen bu" jawab aditya.
Malam pertama kami di rumah ibu, setelah malam kami semua berkumpul di ruang keluarga nonton tv dan bertukar cerita " apa sudah ada tanda tanda akan hadirnya cucu ibu?" tanya ibu tiba tiba. aku dan aditya saling bertatapan " insya Allah bu secepatnya kami berikan ibu cucu" jawab aditya sambil tersenyum memandangku. aku malu dan lansung tertunduk " udah kalian istirahat dulu" pinta ibu. aku menatap kearah jam dinding sudah jam 22:00 belum sempat kami memejamkan mata kami di kejutkan oleh getaran yang begitu dahsyat "gempa" teriak aditya, kami panik dan berhamburan keluar rumah " ibuuuu, bapak cepat keluar" teriak aditya. tak lama ibu pun keluar " nak kalian dimana?" tanya ibu "sebelah sini bu"
malam yang gelap pekat listrik padam, semua saudara dan tetangga berkumpul di tanah lapang depan rumah orang tua ku semua panik dentuman dan getaran dahsyat berulang ulang dan " DUMMM " semua kaget " Allah huakbar" jerit ibu pilu dengan sigap kakak laki laki ku kak rayan memeluk ibu yang menangis pilu.
Akupun menangis melihat kearah rumah orang tua ku yang abruk karena goncangan gempa yang dahsyat. kami semua yang berada di tempat itu menangis dan berdoa. tak lama berselang terdengar ada peringatan bahwa gempa malam itu berpotensi tsunami. keadaan semakin panik kami berhamburan menuju perbukitan dentuman dan goncangan semakin hebat. tak satupun dari kami berani balik kerumah, kami semua bermalam di bukit.
Pagi hari goncangan masih terasa namun tak sehebat malamnya. bersyukur tak ada korban jiwa. kami kembali ke pemukiman ku lihat sekitar rumah rumah warga ambruk rusak total.