Galaunya Luna

1114 Kata
Sejak semalam, hingga pagi datang. Luna merasa waktu berjalan begitu lama. Setiap detik, selalu digunakan untuk memikirkan bukunya. Makan pagi terlihat membosankan, tangan Luna tidak selera memasukkan makanan ke dalam mulut. Ia lebih banyak merenung, dan diam sejak tadi. Mellya melihat aneh. Padahal kalau biasanya, pasti ia yang ngambek dan tidak mau makan. Tapi, jelas penyebabnya. Sedangkan Luna, tidak ada hujan tidak ada angin, mukanya berubah jadi butek begitu saja. "Luna! Kok nggak dimakan sarapannya?" Tanya Bu Mira. "Udah kok Bu!" Jawab Luna. Bu Mira kemudian mencermati lagi isi piring Luna. Masih banyak isinya. "Masak, coba kamu lihat piring kamu!" pintanya dengan bijak. Mellya terlihat kesal. Ia meraaaLuna sedang mencari perhatian saja. Ditambah lagi, sang Daddy ikut menyatakan pertanyaan yang sama. Seakan kedua orang tuanya hanya memperhatikan Luna seorang. Padahal di meja makan tersebut ada dua putri yang sama-sama ingin diperhatikan. Karena kesal, Mellya meletakkan sendok makannya begitu saja. Lalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun dari meja makan. Pak Ferdi hanya melihat sekilas lalu menatap ke arah piring yang digunakan media tadi. "Lho Mell, kamu mau kemana, papa sama Luna kan belum abis makannya." Luna pin ikut memandang saja. Ia tahu kalau Mellya pasti tidak terima, jika kedua orang tua yang sedang ada dihadapannya saat ini memberikan perhatian untuk dirinya. 'Mellya selalu begitu,' batin Luna. Rasanya semakin tidak selera saja dirinya untuk menghabiskan sarapan. Selesai sarapan dengan piring yang masih dipenuhi banyak makanan. Luna menyusul Mellya ke dalam mobil. Hawa suram seketika menyeruak. Luna melihat Mellya begitu emosi menatap ke arahnya. Mau bagaimana lagi, bagi Luna tidak ada pilihan untuk bisa dilakukan. Selain berangkat ke sekolah dan harus satu mobil dengan Mellya. Dibetah-betahkan saja dulu. Lagipula masih ada satu masalah yang belum terpecahkan, mengenai keberadaan bukunya. Mobil yang mengantar akhirnya sampai. Luna dan Mellya berpamitan pada papanya secara bergantian. "Kalian berdua yang akur dan kompak ya. Tunjukkan kalau kalian ini saudara tiri yang bagaikan saudara kandung. Saling menyayangi, dan menjaga," perintah pak Ferdi pada dua putrinya. "Iya, Pa." "Okey Dad!" "Kalau begitu, kita berdua masuk kelas dulu Pa!" tambah Luna. "Iya, semangat ya belajarnya." Luna tersenyum kecil, lalu melangkah pergi ke dalam lingkungan sekolah SMA Pelita. Mellya mengikuti dari belakang. Rasanya kesal melihat punggung gadis yang dianggap upik abunya itu maju berjalan duluan. "Lo ngapain sih, pagi-pagi udah cari perhatian aja. Nggak banget ih!!!! Manja!" Luna malas menyahut. Ia lebih kepikiran pada buku dengan sampul gambar kelinci yang belum kunjung ditemukan. "Heh, nggak punya mulut ya!" Mellya menarik baju Luna ke belakang hingga membuat terlihat berantakan. "Ngomong dong. Atau Lo emang mau jadi anak manja biar bisa dapat kasih sayang Daddy. Itu nggak mungkin. Lo tau kan, selamanya cuma gue yang akan jadi anak resmi Daddy Ferdi. Bukan Lo!" Sayangnya, Luna benar-benar malas menyahut. Ia tidak memiliki daya dan upaya. Selain bisa menemukan bukunya, mungkin setelah itu dirinya bisa kembali bertenaga. Luna pun hanya berusaha membetulkan dan merapikan lagi seragamnya. Tanpa banyak ekspresi, ia kemudian berputar menatap Mellya. Dia akan mengatakan sesuatu, tapi cukup sekali saja. "Udahlah Mell, anggap aja aku emang nggak punya mulut buat ngadepin cara bicara kamu yang pinternya ngalahin dosen OXFORD. Lagian ketimbang aku balas omongan kamu yang mau menang sendiri itu. Aku lebih suka untuk memilih diam. Membela diri juga, cuma bikin kamu makin bertingkah. Aku nggak mau ibuku repot!" Pungkas Luna. Ia lalu memutar tubuhnya hendak berjalan lagi menuju kelas. Sayangnya, omongan Luna barusan amat sangat berhasil membuat Mellya semakin emosi. Darahnya yang sudah panas, justru sekarang semakin panas dengan meletup-letup bagai air yang mendidih. Mellya pun berjalan cepat, lalu mendorong keras dan kuat tubuh Luna. Hingga membuat gadis itu terperosok ke depan dan jatuh keras mengenai lantai. Luna tampak syok, wajahnya menunduk dan tidak bergerak sama sekali. Kedua tangan menempel di lantai keramik menahan diri supaya tidak semakin jatuh. Begini saja sudah sangat terasa sakit. "Itu balasannya kalau kamu, karena sudah bicara tanpa ada rasa hormat sedikitpun. Dasar upik abu, selamanya akan tetap jadi upik abu. Jangan pernah mikir buat naik kasta ya!" Melly berlalu meninggalkan Luna begitu saja yang masih mematung. Sebagian murid yang melihat hanya Lima masih terduduk di lantai. Hanya diam tanpa ada yang berkenan membantu. Kejam bukan, begitulah dunia. Banyak kaki melangkah tapi gak ada yang mau berhenti untuk menolong Luna, meski hanya untuk mengulurkan tangan sekedar membantu Luna berdiri. Hanya menangis yang Luna pikiran saat itu. Separah ini perlakuan dari Mellya. Sampai kapan ini akan bisa berakhir. Luna mengangkat wajahnya perlahan, merasakan nyeri di telapak tangan. Juga lutut, dilihat bagian tersebut ternyata memar dan sedikit mengeluarkan cairan merah. "Hah! Perih luar dalam!" Keluh Luna. Saat akan berdiri, sosok Daffa muncul dan langsung duduk berjongkok di sebelah Luna sambil menatapnya. Ia menggunakan kedua tangannya untuk membantu Luna bangun. Dipegang kedua bahu Luna agar bisa berdiri dengan baik. Mungkin saja nyeri dan luka kecil itu, membuat Luna jadi sempoyongan. "Kamu, ngapain, udah sana, jauh-jauh. Jangan ganggu aku. Hidupku ini udah begitu pait. Jangan sampai kemunculan kamu malah bikin tambah pait," celoteh Luna. Ia berusaha berjalan sendiri. Membiarkan nyeri di lutut menjadi bagian rasa dari hari ini. "Sampai kapan sih Lun? Kamu nggak peduli sama Mellya. Apa kamu kira dia bakal berhenti ganggu kamu kalau kita nggak berteman." "Apa!" Luna kaget mendengar Daffa berkata lagi mengenai hubungan mereka. Luna pun menghela nafas, berniat membalas ucapan Daffa. "Selamanya Mellya bakal ganggu aku terus Daf. Tapi, ada kamu disekitarku. Itu bikin yang sulit jadi makin sulit. Kamu pahami dong, apa yang aku maksud. Jadi, please! Aku mohon sama kamu, jauhi aku. Kita nggak perlu banyak bicara. Apalagi saling sapa." Daffa diam saja. Tidak mengira kalau Luna akan seserius itu. Mungkin batin Luna memang begitu tersiksa dengan kehidupannya selama ini, ada bayangan Mellya yang menghantui yang terus menggangunya. "Tunggu Lun, gimana dengan tugas kelompok. Aku mau minta maaf soal kemarin." Luna masih dendam untuk hal tersebut. Dengan seenaknya Daffa tidak jadi beli bahan tanpa sebab. Padahal mereka berusa sudah susah payah datang. Namun, karena Luna tak ingin memperpanjang masalah. Iapun memaklumi saja. "Iya, udah aku maafin." Daffa pun tersenyum. "Kalau begitu nanti siang!" "Nggak!" Luna langsung menyela. "Nanti siang, biar aku sendiri aja yang nyari bahan. Udah aku oustuji. Soal pengerjaannya, kamu pilih mau bentuk relief seperti apa. Kamu kirim ke nomerku. Biar aku bantu print out-nya." "Oh, gitu. Ya udah nggak papa. Tapi, kalau butuh sesuatu." "Aku nggak akan butuh apa-apa kok." "Yakin nggak ada lagi yang mau diomongin?" Daffa kembali memancing perkara. "Nggak!" Daffa lalu mengeluarkan buku di dalam tasnya tanpa Luna tahu. Ia membawanya dalam pegangan tangan kiri yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana bentuk sampulnya. "Kalau begitu, aku masuk kelas duluan ya." Luna tidak menjawab. Ia masih berpikir tentang buku. Hingga sepasang matanya melihat buku yang sedang dibawa oleh Daffa. 'Itukan, buku kelinciku,' batin Luna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN