BAB 5

1886 Kata
Wanita ini bilang jika dirinya belum makan sejak tadi padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Seharusnya aku tidak perlu terlalu memikirkan tentang dirinya yang sudah makan atau belum namun aku juga manusia biasa yang masih punya rasa empati dan simpati. Terlebih aku juga tahu jika seharian ini dia terus saja menangis karena takut dengan keadaan wanita yang bahkan tidak dia kenali sama sekali. Setidaknya dari kejadian ini aku tahu jika Tante Vita adalah wanita yang baik. Saat ini aku dan Tante Vita tengah berada di sebuah restoran di dekat rumah sakit dan sedang menikmati makan malam yang sangat terlambat ini atau lebih tepatnya dia yang makan dan aku hanya menemani dengan segelas jus jeruk. "Apa suaminya sudah datang?" tanyaku sambil memperhatikan dirinya yang makan dengan sangat lahap. "Sudah tadi sekitar jam 9. Mas Ridwan bekerja dan selama bekerja dia tidak di perbolehkan untuk melihat handphone sehingga baru bisa dihubungi setelah dia selesai tadi." "Hm." "Oh iya, berapa lama bayi biasanya di inkubator?" "Tergantung kondisinya." "Tetapi tidak akan terjadi masalah kan? Maksud gw bayinya akan baik-baik saja kan Darren?" "Bayi itu akan baik-baik saja." "Syukurlah dan gw harap tidak akan terjadi masalah apa pun ke depannya untuk bayi dan ibunya." "Kamu terlihat begitu khawatir." tanyaku penasaran. Maksudku jarang sekali ada orang yang akan bersikap seperti dirinya padahal orang yang dia tangisi dan khawatirkan bukan siapa-siapa bagi hidupnya dan bahkan baru dia temui tadi pagi. "Wanita tadi mengingatkan gw dengan kondisi ibu dan adik gw dahulu.” dapat kulihat jika Tante Vita sudah bersiap kembali menangis namun dengan cepat dia pun menghalau air matanya agar tidak jatuh sambil terus berusaha tersenyum di hadapanku. "Dulu gw mempunyai seorang adik namun beberapa saat setelah dia lahir, Tuhan justru berkehendak lain.” "Ibumu?" "Meninggal saat melahirkannya di ruang operasi. Dokter bilang, ibu mengalami pendarahan hebat saat melahirkan terlebih kondisinya ketika itu juga sangat lemah. Maka dari itu gw sangat ketakutan tadi. Bagaimana jika keadaan seperti itu juga terjadi kepada ibu dan anak tersebut. Maaf gw pasti membuat elo panik." "Tidak." ucapku jujur. Aku memang tidak merasa panik mengenai kejadian pagi tadi namun jika boleh jujur aku lebih merasa terkejut dengan sikapnya yang awalnya aku nilai cukup aneh dengan orang yang baru pertama kali dia temui dan kenal. Namun kini aku tahu alasan dibalik itu semua, dia trauma. "Sekali lagi terima kasih Darren dan gw rasa gw telah salah menilai elo selama ini. Maksud gw kalau elo ternyata enggak se-apatis seperti dugaan gw." "Apatis?" "Iya, maaf ya habisnya sikap dan tampang elo menunjukkan demikian sih jadinya kan gw salah paham. Baiklah mulai hari ini kita teman, bagaimana?" aku hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa dengan ajakan pertemanannya ini. Berteman? Dengan wanita ini? Astaga, aku bahkan hanya mempunyai satu orang teman selama hidupku dan itu pun juga karena paksaannya di awal perkenalan kami berdua. Setelah selesai makan malam kami berdua kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing dan sebelum aku masuk ke dalam mobil tante Vita kembali mengucapkan terima kasih kepadaku baru setelahnya dia pun pergi. Aku terus saja memperhatikan mobilnya hingga akhirnya menghilang dari pandanganku dan setelahnya aku pun ikut melajukan mobilku untuk kembali ke rumah. Aku baru saja selesai mandi dan bersiap ingin tidur namun tiba-tiba saja handphone milikku memunculkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Aku enggan membuka apalagi membalasnya terlebih saat ini sudah lewat dari jam tidurku. Namun pesan terakhir yang bertuliskan dari Vita membuatku akhirnya membuka pesan tersebut. +876.... : Ren, jangan lupa save nomor gw ya. Sekali lagi makasih untuk semua kebaikan elo hari ini dan gw harap kita beneran bisa menjadi teman. Dari vita Aku hanya membaca tanpa berniat membalasnya kembali. Selain aku yang memang sudah sangat lelah, aku juga bingung harus membalasnya seperti apa. *** Aku baru saja mengirimkan pesan kepada Darren dan seperti dugaanku sebelumnya jika dia hanya akan membaca pesanku tanpa berniat untuk membalasnya. Oh tidak, bahkan awalnya kupikir dia tidak akan membacanya sama sekali. Darren dan sikap dinginnya memang sudah satu kesatuan aku rasa. “Baiklah karena tampan maka aku maafkan.” Kutaruh handphone milikku kembali ke atas meja di samping tempat tidur dan setelahnya aku memilih untuk duduk di kursi dekat balkon kamar. Setidaknya aku butuh udara segar terlebih saat ini pikiranku sangat kacau. Kejadian hari ini telah membuatku teringat akan peristiwa buruk di masa lalu, sesuatu yang tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Aku menikmati udara malam yang sebenarnya tidak baik bagi kesehatan terlebih aku yang memang gampang masuk angin namun begitu aku terus saja berusaha menikmatinya sambil memejamkan mataku. Sayangnya di saat aku memejamkan mata, aku justru membayangkan sosoknya. Sosok yang membuatku terluka dan trauma. Dahulu keluargaku adalah keluarga yang harmonis bahkan dapat dikatakan sebagai keluarga yang bahagia. Namun di saat aku duduk di bangku kelas 1 SMA tiba-tiba saja ayahku pergi dari rumah dan ingin menggugat cerai ibuku. Aku selalu bertanya kepada Ibu tentang apa yang sebenarnya terjadi namun Ibu tidak pernah memberikan jawaban apa pun. Hingga beberapa bulan kemudian baru aku ketahui jika ayahku telah berselingkuh dengan seorang wanita muda, teman kantornya. Ibuku yang mengetahui hal tersebut merasa marah dan kecewa namun dia tetap berusaha memaafkan dan mempertahankan rumah tangganya. Sayangnya, ayahku sepertinya sudah gila dan telah dibutakan oleh cintanya yang terlarang karena bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, beliau justru meminta cerai agar bisa bersama dengan wanita tersebut. Bahkan ketika ibuku akhirnya mengetahui bahwa dirinya telah kembali hamil anak ke-dua, Ayah tetap bersikukuh ingin berpisah. Jujur saja saat itu rasanya duniaku hancur. Pria yang selalu aku sayangi dan banggakan justru berhasil menyakitiku dan Ibu karena dirinya dengan begitu tega meninggalkan kami hanya demi wanita lain. Sejak bercerai, Ibu makin sering sakit-sakitan terlebih kondisi kandungannya yang begitu lemah sehingga pada bulan ke-8 kehamilannya, Ibu terpeleset di kamar mandi. Aku yang saat itu memang sedang membolos sekolah untuk menjaga Ibu langsung membawanya ke rumah sakit namun dokter mengatakan jika kondisi adikku sudah tidak bisa diselamatkan. Aku hancur saat mendengarnya. Adik yang selama ini aku harapkan telah pergi bahkan tanpa bisa aku dengar suara tangisannya dan makin hancur ketika dokter juga mengabarkan jika ibu mengalami pendarahan yang hebat sehingga beliau pun menyusul adikku tidak lama setelahnya. Dalam satu hari aku kehilangan dua anggota keluargaku dan membuatku menjadi seorang diri di dunia ini. Ayah? Entahlah sejak bercerai pria itu pergi dan tidak pernah kembali atau mencoba menghubungi kami. Lagi pula aku juga sudah menganggapnya meninggal dunia sejak mengetahui berita perselingkuhannya itu. Sejak saat itu aku berjuang seorang diri di dunia ini meski ada beberapa anggota keluarga dari pihak Ibu yang ingin aku tinggal bersama mereka namun aku menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan siapa pun. Ini pulalah yang membuatku akhirnya tidak percaya akan cinta dan pria. Cinta yang dahulu membuat ibuku merasa bahagia namun cinta pulalah yang membuatnya merasa sengsara hingga napas terakhirnya. Bahkan karena rasa cinta itu juga adikku menjadi korban. Bagiku cinta itu hanya sebuah omong kosong sehingga jangan pernah percaya jika pasanganmu kelak berkata bahwa dia cinta mati kepadamu karena semua itu bohong. Merasa angin malam makin kencang bertiup dan jam yang sudah menunjukkan lewat tengah malam, aku pun memutuskan pergi ke dapur untuk membuat segelas s**u cokelat panas dan setelah meminumnya aku akan pergi tidur. Bagaimanapun aku harus kembali bekerja besok dan tidak boleh terlambat apalagi sampai tidak masuk kembali. "Astaga kenapa gw bisa lupa ya kalau pernikahan Kevin itu lusa. Mana belum dapet cowok lagi." langsung saja aku kembali ke kamar untuk mengambil handphone dan menghubungi A'Muda, menanyakan apakah dia sudah mendapatkan pria sesuai keinginanku atau belum. Jam menunjukkan pukul 1 dini hari dan aku yakin jika A'Muda sudah pergi tidur. Namun begitu aku tetap ingin meneleponnya karena aku tidak akan bisa merasa tenang dan tidur nyeyak jika belum mengetahui jawaban apa pun darinya mengenai masalah ini. Tanpa merasa bersalah karena akan membangunkannya aku pun menelepon A'Muda dan pada deringan ke-6 baru diangkat olehnya. "......" "Sorry A' enggak bermaksud mengganggu waktu tidur elo yang berharga tetapi gw cuman mau nanya ke elo, apa cowok pesanan gw kemarin sudah ada?" "......" "Serius A' itu yang paling murah? Enggak bisa dikasih diskon lagi?" "......" "Ya sudah gw mau deh tetapi beneran ganteng banget kan dan enggak akan malu-maluin gw di hadapan Kevin?” "......" "Iya-iya. Ya sudah sana lanjutin lagi sama pak Richard-nya. Bye." setelahnya aku pun segera mematikan telepon karena A'Muda sudah merasa kesal karena diriku yang telah mengganggu waktu kebersamaannya dengan kekasihnya tersebut. Kevin, lihat saja nanti kalau gw akan dateng ke pernikahan elo sambil gandeng cowok ganteng nan memesona! Flashback Saat ini aku tengah ditarik atau mungkin lebih tepatnya diseret paksa oleh Kevin menuju tangga darurat di lantai ruanganku bekerja. Tiba-tiba saja saat aku sedang bersiap-siap ingin pulang, Kevin sudah berdiri di samping kubikelku dan mengatakan jika dia ingin berbicara sesuatu kepadaku namun aku segera menolaknya dan inilah yang terjadi. Kevin marah dan memaksaku untuk ikut dengannya agar kami bisa berbicara berdua atau lebih tepatnya dia yang berbicara. Pegangannya ditanganku dilepas secara kasar dan Kevin langsung menatapku dengan tatapan intimidasinya yang sangat aku benci. "APA MAKSUDNYA KAMU MEMBLOKIR NOMERKU VIT? KAMU MARAH KARENA AKU NONJOK COWO ITU? IYA? JAWAB!" "Elo tuh apa-apa sih Vin? Kemarin asal maen nonjok orang saja terus sekarang elo nyakitin gw kaya begini. Mau gw laporin ke kantor polisi lo? Sudah untung Rangga enggak ngelaporin elo kemarin." ucapku dengan emosi yang tidak bisa kubendung lagi. Setelahnya Kevin kembali bersikap dan berkata lembut kepadaku. "Aku hanya enggak suka cowok itu deketin kamu. Kamu seharusnya ngerti kalau aku tuh beneran sayang dan cinta sama kamu Vit." Sungguh aku muak dengan pernyataan cintanya itu. Seharusnya ketika aku menolak dia sadar, tetapi apa? Kevin justru makin berusaha membuatku agar menyukai dirinya namun sayangnya bukannya rasa cinta yang mucul melainkan perasaan marah dan benci. "STOP KEVIN! SEKALI LAGI GW BILANG KALAU GW ENGGAK SUKA SAMA ELO. GW BENCI SAMA ELO DAN SIKAP ELO YANG KAYA BEGINI. JADI PLEASE MENJAUH DARI GW DAN HIDUP GW!" Kevin terlihat begitu kecewa mendengar ucapanku yang harus aku akui sedikit keterlaluan kepadanya namun dia juga harus aku beritahu jika perasaannya kepadaku hanya akan sia-sia saja. "Apa tidak ada kesempatan untukku Vit?" "Enggak ada dan enggak akan pernah ada!" "Kamu yakin?" "Sangat. Jadi mendingan elo pergi atau perbuatan elo barusan akan gw laporin ke pihak berwajib." ancamku sambil membuang muka dan pandanganku ke arah lain untuk menghindari tatapannya yang sejak tadi membuatku merasa sangat tidak nyaman dan juga ketakutan. "Baik. Mulai sekarang anggap saja apa yang pernah aku ucapin dan lakuin ke kamu selama ini enggak pernah terjadi sama sekali." Kevin lalu pergi dan setelahnya hubungan kami berdua makin memburuk padahal dahulu dia adalah teman dan rekan kerja yang baik untukku. Flashback Off Kebencian Kevin kepadaku sebenarnya bisa aku mengerti. Lagi pula aku memang cukup keterlaluan saat menolak cintanya dahulu. Akan tetapi apa yang Kevin lakukan setelahnya juga membuatku merasa sangat marah dan kecewa. Berkat gosip yang dia buat hampir berbulan-bulan lamanya diriku selalu menjadi hot topik dan dibicarakan oleh orang-orang baik yang aku kenal maupun tidak di kantor bahkan sampai saat ini gosip tersebut terkadang masih sering aku dengar. Belum lagi beberapa kejadian tidak menyenangkan yang aku dapat karena gosip tersebut sehingga wajar saja kan jika aku marah kepadanya? Tiba-tiba saja handphoneku kembali berbunyi dan menampilkan sebuah pesan dari A'Muda dengan disertai sebuah foto pria tampan yang mana ternyata adalah gigolo yang akan aku booking nanti. "Selera A'Muda memang tidak pernah mengecewakan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN