BAB 7

1341 Kata
Pernikahan Kevin dan istrinya yang bernama Kinan diselenggarakan cukup mewah, terlihat dari lokasi dan dekorasi yang ada. Sepertinya tema pernikahan ini adalah garden party karena hampir seluruh ruangan pesta dihiasi oleh berbagai macam jenis bunga termasuk tempat dimana kedua pengantin sedang berdiri dan menyambut para tamu undangan yang datang. Setelah menyapa beberapa rekan kerja, aku pun mulai melangkahkan kaki ke atas pelaminan dengan Darren yang masih memeluk pinggangku erat. Meski semenjak turun dari mobil pria ini terus saja memilih diam akan tetapi dia tetap dapat diandalkan terlebih untuk menjadi gandengan yang bisa aku pamerkan. “Terima kasih.” ucapku setengah berbisik saat kami berdua tengah mengantri untuk bersalaman “Untuk?” “Mempunyai wajah tampan sehingga bisa gw pamerin ke orang-orang tadi hehehe.” Tidak berselang lama kami pun telah berada di hadapan kedua mempelai dan dapat aku lihat jika raut wajah kedua pengantin ini nampak bertolakbelakang. Kevin dengan wajah terkejut dan sedikit sinis sedangkan istrinya yang terus saja menatap kami dengan senyum menggembang. "Selamat ya Kevin akhirnya ada juga yang mau sama elo buat dibawa ke pelaminan." ejekku namun Kevin terlihat tidak terlalu peduli dengan ucapanku tadi karena sepertinya dia lebih tertarik dengan Darren, pasanganku malam ini. "Thanks buat ucapan dan kedatangannya. Gw enggak menyangka jika seorang Vitalia Cecilia beneran akan datang ke acara pernikahan gw.” "Tentu saja gw harus datang apalagi ini undangan dari elo jadi enggak mungkin kalau gw enggak datang kan?" "Benarkah? Bahkan yang lebih mengejutkannya lagi elo datang dengan menggandeng seorang pria. Bertemu dimana? Atau elo bayar berapa buat menemani elo malam ini?” "Maksud elo apa bicara begitu?" belum sempat Kevin membalas ucapanku, tiba-tiba saja Darren telah menarik pelan tanganku untuk turun dan pergi dari hadapan pria ini. Selain memang karena antrian di belakang kami sudah cukup panjang, sepertinya Darren juga tidak ingin melihat jika nantinya terjadi keributan di antara kami berdua. “Astaga benar-benar deh tuh si Kevin selalu saja bikin tekanan darah gw naik. Alhamdulillah bukan gw yang nikah sama dia karena kalau itu terjadi maka hanya akan ada dua hal kemungkinan, gw mati muda atau gw akan menjadi gila dan terkena penyakit kronis karena selalu mengalami tekanan batin. Terima kasih ya Allah karena dia bukan jodoh hamba." ucapku sambil pergi menjauh dari Kevin dan istri barunya tersebut sementara Darren tetap memilih diam tanpa berniat berkata apa pun setelah mendengar segala perkataanku sejak tadi. *** Aku tidak tahu hubungan seperti apa yang dimiliki antara Tante Vita dengan mempelai pria di depanku ini. Apa mereka mantan yang berakhir buruk atau bagaimana? Karena dapat kulihat jika keduanya seperti saling membenci satu sama lain bahkan ucapan keduanya pun sangat jelas menggambarkan hubungan buruk mereka selama ini dan jika aku tidak menarik Tante Vita untuk segera pergi maka aku yakin jika sebentar lagi akan ada adegan konyol yang terjadi, adegan perkelahian. Setelah bersalaman dengan si pemilik acara kami pun memutuskan untuk makan. Awalnya aku ingin menolak karena diriku benar-benar ingin cepat pulang dan tidur namun mengingat sejak siang aku belum makan apa pun akhirnya aku pun mengiyakan permintaannya itu. Beberapa kenalan Tante Vita dan Mami Maura di kantor menyapa kami berdua kembali dan sekali lagi mereka menanyakan mengenai siapa diriku. Tentu saja dengan segala kebohongan seperti sebelumnya Tante Vita kembali mengatakan jika aku adalah kekasihnya. Aku tidak terlalu peduli dia akan mengatakan apa kepada mereka karena selama aku tidak harus berbicara itu tidaklah menjadi masalah untukku. "Dokter Darren?" ucap seorang wanita cantik dengan hijabnya yang jika aku ingat adalah Sarah salah satu dokter coas di rumah sakit milik daddy yang pernah di kenalkan Rega beberapa waktu yang lalu. "Maaf, Anda siapa ya?" tanya Tante Vita sambil memeluk lenganku erat seakan ingin menunjukkan kepemilikan diriku atas dirinya. "Maaf, saya Sarah salah satu dokter coas di rumah sakit dan adik dari mempelai pria. Dokter Darren kenal Bang Kevin atau Mbak Kinan?" "Tidak keduanya." jawabku cepat dan jujur "Kamu adik Kevin?" tanya Tante Vita sambil terus saja menatap Sarah bahkan tatapannya saat ini lebih terlihat seperti sedang menilai. "Maaf, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan hanya sedikit terkejut karena ternyata Kevin memiliki adik yang cantik dan lembut seperti kamu. Kebetulan saya teman satu kantor Kevin jadi ini undangan punya saya bukan punya PACAR saya." "Pacar?" "Iya, kenapa? Ada yang salah?" "Ah, tidak mbak maaf saya hanya sedikit terkejut karena selama ini dokter Rega bilang kalau dokter Darren itu jomblo sejak lahir." "Kamu suka sama Darren?" tanya tante Vita to the point. Apa maksudnya bertanya seperti itu kepada orang yang baru ditemui dan dikenalnya? benar-benar wanita yang aneh. "Maaf bukan seperti itu. Sungguh saya tidak bermaksud apa pun. Sekali lagi maaf mbak. Kalau begitu saya permisi dahulu karena kakak saya sepertinya memanggil. Mari dokter Darren." setelahnya Sarah pun pergi dan berjalan menuju ke arah kakaknya di atas pelamin. Entah apa yang mereka berdua bicarakan namun dapat aku lihat jika sejak tadi Kevin terus saja menatap ke arah kami. "Gila, dunia sempit banget." kulirik sekilas wanita di sampingku ini. Sepertinya Tante Vita sedikit terkejut mengetahui dokter Sarah yang ternyata merupakan adik dari Kevin. “Kayanya bener deh istilah kalau dunia itu tidaklah selebar daun kelor. Bagaimana mungkin Kevin punya adik dan dia kenal sama elo?” Aku tidak menjawab apa pun dan membiarkannya terus saja membicarakan soal Kevin dan Sarah sementara diriku lebih memilih untuk menghabiskan makananku. Setelah makan, kami pun memutuskan untuk pulang karena memang dari awal kami berencana hanya sebentar berada di sini. Selama di dalam perjalanan Tante Vita menjadi sangat pendiam, sangat berbeda saat kami berangkat dan berada di dalam gedung resepsi tadi. Sejujurnya aku lebih merasa nyaman akan tetapi entah mengapa rasanya menjadi sedikit aneh melihat wanita ini mendadak menjadi diam seperti saat ini. "Ada apa?" tanyaku sambil melirik sekilas ke arahnya di samping. Tante Vita yang mendengar pertanyaanku seketika menatapku dengan wajah bingungnya yang mana dapat aku lihat dari kedua alisnya yang saling bertautan. "Maksudnya?" "Tante diam saja. Biasanya bawel." “Sebenarnya gw lagi mikirin sesuatu.” “Apa?” “Sebelumnya sorry banget kalau permintaan gw ini terkesan ingin kembali memanfaatkan elo tetapi gw merasa enggak punya pilihan lain. Bisa enggak kalau kebohongan ini berlanjut? Maksud gw seenggaknya di depan Sarah. Jujur saja gw sedikit merasa cemas dan takut kalau dia tahu. Bagaimana kalau Sarah kasih tahu hal ini ke Kevin? Bagaimana kalau akhirnya Kevin tahu yang sebenarnya soal hubungan kita? Gw bahkan enggak bisa membayangkan hal buruk seperti apa yang bakal gw alami lagi nanti.” “Kenapa berfikir seperti itu?” “Entahlah, gw hanya merasa takut. Jadi gw mohon sama elo Ren, tolong bantu gw lagi. Gw janji gw enggak akan minta hal lainnya. Hanya status palsu, hanya itu yang gw butuhkan dari elo." "Dia mantan tante?" akhirnya aku menanyakan hal ini juga kepadanya. Maksudku setidaknya aku harus tahu alasan dari semua kebohongannya ini. Apakah sesuatu yang bisa aku terima atau tidak. “Sebenarnya...” Tante Vita pun mulai menceritakan hubungannya dengan Kevin selama ini. Mulai dari kedekatan mereka sebagai rekan kerja, pernyataan cinta Kevin, penolakan Tante Vita, dan berakhir dengan drama di antara keduanya yang masih berlanjut hingga saat ini. Aku hanya diam sambil terus menyimak ceritanya dan mulai menimbang mengenai apa yang harus aku lakukan nanti, membantunya atau tidak. Satu sisi aku ingin menolak karena aku tidak ingin hidup dalam kebohongan apalagi berada di tengah drama cinta yang belum selesai atau justru drama cinta yang berakhir tanpa ada permulaan namun di sisi lain aku juga merasa kasihan dengannya. Baiklah menolong orang tua berpahala bukan? Selain itu, bukankah dokter Sarah juga sudah mengetahui jika aku telah memiliki kekasih sehingga jika ingin berbohong maka sekalian saja. "Hm." jawabku setelah sekian lama terdiam seusai Tante Vita bercerita. "Hm apa? Hm iya atau hm enggak?" "Iya." jawabku yang masih tetap fokus menyetir. Tanpa rasa malu atau pun bersalah Tante Vita justru langsung memeluk lenganku sehingga membuatku menjadi terkejut dan hampir menabrak mobil di depan kami. Aku langsung menatapnya tajam karena bagaimanapun dia hampir membuat kami berdua mengalami kecelakaan. "Sorry." ucapnya dengan menampilkan dua jari yang dibentuk seperti huruh V kepadaku. Semoga saja keputusanku ini tidak akan menjadi bumerang untukku di kemudian hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN