Putra terbangun. Tubuhnya liar mengais kesadaran yang seolah terlempar di tengah lautan. Dedaunan kering, tanah, dan gelap. Kelima inderanya berusaha mengenali tempat itu. Sekelumit mimpi buruk membuatnya nyaris hilang akal. Putra memejamkan mata sambil menarik napas dalam - dalam. Dalam diam, dia menginginkan ketenangan.
Menit demi menit berlalu. Napasnya kembali berjalan teratur. Putra membuka mata perlahan. Tak ada bayangan hitam itu lagi, kerajaan bertakhta emas permata, atau ....
"Bunda!" Napasnya kembali tersengal
Putra terbatuk - batuk seolah ada segumpal benda mengganjal di tenggorokannya. Dia lalu memutar pandang. Berupaya menemukan alat penerang yang sebelumnya terpegang.
Putra berdiri ketika melihat pendar cahaya dari senternya. Benda itu tergeletak di arah jam dua. Buru - buru dia melangkah, mengambil penerang bertenaga baterai itu. Tampak tak ada masalah, pikirnya, itu bagus. Dia punya cahaya untuk menemukan jalan.
Putra mengarahkan benda itu ke kanan dan kiri. Tak berapa lama dia menyadari bahwa dia masih berada di tempat yang sama, di bawah pohon besar yang mungkin berusia ratusan tahun tadi.
Putra meraba leher, mencari seuntai kalung yang seharusnya melingkar di sana.
"Liontinnya? Di mana benda itu? Aku yakin telah mengikatnya dengan baik. Ya, dia ada bersamaku. Tidak tertinggal di rumah pak tua itu." Betapa terkejutnya Putra ketika mendapati mustika peninggalan sang ayah telah lenyap. Dia memutar pandang, melihat hamparan tanah di sekitarnya. "Ke mana benda itu?"
Mimpi atau nyata? Putra kembali mempertanyakan pertemuannya dengan Ratu Kidul barusan. Jika benar, maka mau tidak mau dia harus menerima fakta, bahwa dunia gaib Alas Purwo yang selalu digembar - gemborkan paranormal hampir merenggut nyawanya.
"Bunda ... benarkah dia ... ah, tidak! Semua itu pasti hanya halusinasi. Aku pasti bermimpi." Sekali lagi Putra menolak untuk percaya. Dia masih berpikir, hal semacam itu tidak mungkin terjadi. Rekayasa setan semata agar dia terlena oleh tipu muslihatnya.
Usai mengoyak rambut dan membuatnya semakin berantakan, Putra mengarahkan senter ke kiri dan menemukan jalan setapak. Putra berdiam cukup lama di sana. Alat penerang itu tidak membantu memberinya petunjuk arah mana yang harus dipilih.
Putra membuang udara ke angkasa. Dipandangnya langit yang tampak begitu tenang. Malam terlihat terang ketika tak terhalang ranting - ranting pohon dan dedaunan yang rimbun. Rasanya, dia ingin melewati hutan ini dengan terbang saja. Tanpa bersusah payah mencari jalan pulang dan takut tersesat lagi.
***
Di bagian Alas Purwo yang lain, seorang gadis merebahkan tubuh rampingnya di dahan pohon besar. Dia jadikan lengan kanan sebagai bantalan kepala. Satu kakinya berayun, sementara kaki yang lain menekuk, dia pandangi bulan yang tampak sombong malam ini. Seolah - olah ingin mengalahkan pendar cahaya yang terpancar dari tubuhnya. Gadis berambut hitam itu tersenyum. Matanya berbinar. Mungkinkah dia sedang berdialog dengan rembulan?
Entah kenapa dia memilih gaun putih. Alih - alih mengenakan gaun hijau bertahtakan intan permata yang telah disiapkan ibundanya. Kain sutra itu melambai - lambai tertiup angin. Pun rambut panjang hitamnya yang terkulai. Dia biarkan sepasang kunang - kunang bermain di sekitarnya, merelakan tubuhnya menjadi tempat persembunyian dan pelarian yang sempurna bagi mereka. Dia tersenyum lebar, menikmati permainan kedua hewan mungil itu.
Tanpa tahu dari mana, mendadak angin bertiup dua tingkat lebih kencang. Mata indah berlensa cokelat itu berkedip, ketika sehelai rambut terbawa angin dan jatuh di wajahnya. Tidak masalah. Gadis itu menganggapnya sebagai hal biasa. Dia kembali bersenang - senang. Menengadahkan tangan kirinya sebagai landasan bagi kunang-kunang. Keceriaan di wajahnya menular pada makhluk - makhluk di sekitar tempat itu. Namun, siapa sangka, di balik kebahagiaan itu, ada asa yang menyeruak dari dalam sanubarinya. Dia mendambakan kebebasan.
Putri Kusuma, anak angkat Ratu Kidul yang telah dibesarkan dengan tata krama kerajaan. Pun dibekali ilmu kanuragan dan kedudukan yang pantas dalam istana Pantai Selatan. Tak seorang pun berani melawan, sebab tahu dialah putri kesayangan sang Penguasa Laut Kidul. Status itu tak pantas membuatnya berbangga diri. Dia menikmati kehidupan yang dijalaninya saat ini, hingga suatu hari dia menyadari bahwa apa yang dilihatnya selama ini bukan tindakan yang benar.
Orang - orang itu rela datang dari jauh, membawa sesaji dan perbekalan secukupnya. Mereka rela menyusuri jalan setapak nan gelap dan licin kala musim penghujan. Terjaga semalam suntuk sambil merapalkan mantra. Memuja - muja sang ibunda demi harta dan tahta. Tak sedikit pula yang rela kehilangan anak dan saudara. Bahkan berani menjual suami mereka demi mengabulkan keinginannya.
Kusuma lantas bertanya - tanya, sepenting itukah harta dan tahta bagi bangsa manusia?
"Akhirnya aku menemukanmu. Sedang apa di sini?" Seorang wanita datang menghampiri, Safitri. Dayang yang bertugas menjaga Kusuma memudar, lalu mewujud di samping putri kerajaan. "Kamu sedang mengamati mereka?"
Safitri adalah salah satu orang di istana yang dia percaya. Meskipun demikian, Kusuma tidak bisa mengatakan isi hatinya secara gamblang pada wanita itu. "Iya. Kehadiran mereka membuatku iri. Terkadang, aku juga menginginkan kesetiaan seperti yang Ibunda Ratu miliki. Lihatlah mereka! Rela datang tengah malam, menembus kegelapan, dan mengabaikan marabahaya yang mungkin menghadang hanya demi menemui ibunda."
"Putri, kamu tahu alasan mereka datang, bukan? Mereka hanyalah manusia yang tamak. Demi kekayaan dan ilmu hitam. Mereka juga manusia yang kejam. Setiap permintaan selalu ada imbalan dan tanpa ragu mereka menyetujuinya, bahkan ketika Kanjeng Ratu meminta nyawa keluarga. Apa kamu menginginkan kesetiaan semacam itu?"
"Tidak Safitri! Mungkin saja ada satu di antara mereka yang berbeda."
Safitri mendengkus. Dilihatnya sinar bulan yang menerobos dedaunan. Kicau hewan malam masih merajai hutan. Lelah. Berulang kali dia menasihati gadis di sampingnya. Namun, Kusuma seakan tak mendengar semua ucapan itu. Teguh dalam pendirian yang sia - sia.
"Semua orang yang datang ke tempat ini, tak ada satu pun yang berbeda, Putri. Mereka hanya memikirkan duniawi. Ilmu kanuragan, harta, dan tak satu pun yang pernah kutemui, datang membawa cinta. Lebih baik kita pergi sebelum Kanjeng Ratu melihatmu."
"Safitri, kenapa aku tidak bisa seperti para dayang?" Wanita berkemban hijau menghentikan geraknya, lalu kembali duduk. "Mereka bisa menikahi manusia sesuka hati. Kenapa aku dibedakan?" ucap Kusuma dengan kekecewaan. Dia menunduk, mengamati jemari dengan kuku indahnya, warna peach yang berkilau.
"Karena ...."
"Karena aku seorang putri?" sela Kusuma, "ini tidak adil."
"Putri, hutan ini punya peraturan: Jangan ambil apa pun dan jangan meninggalkan apa pun. Para dayang hanya menuruti perintah yang telah turun - temurun. Manusia - manusia yang melanggar dan mengotori hutan, akan diseret ke alam kita dan sulit untuk bisa kembali. Pernikahan hanya sekadar formalitas yang berujung pada perbudakan." Safitri menatap seorang pria yang baru saja menaiki anak tangga menuju mulut gua istana. "Kanjeng Ratu akan tiba sesaat lagi. Masihkah kamu memilih untuk tetap berada di sini?"
Anggukan kepala dua kali menjawab tanya wanita bersurai putih itu. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Kembalilah secepatnya. Jangan membuat Kanjeng Ratu marah!"
Wujud Safitri menghilang bagai tertiup angin, sementara gadis yang masih termangu itu menghirup dalam aroma wewangian yang semakin merebak. Dupa dan berbagai macam bunga. Tak ingin terlena, Kusuma meninggalkan dahan pohon, lalu mewujud di tengah rimba.
Langkah pelan dia jejakkan di dedaunan kering, menciptakan suara remahan yang nyaring. Perlahan, sembari melambungkan pikiran ke perawangan. Jemarinya memainkan selendang sutra di depan d**a. Dia mulai bosan dengan kehidupan. Kehadiran warna dibutuhkan dalam ruang kosongnya. Jika benar, di mana dia bisa menemukan warna - warna itu?
Di tengah perjalanan, terlihat beberapa monyet ekor panjang berlarian, menjauh dari kegelapan di hadapan Kusuma. Disusul beberapa merak hijau dan rusa. Ada ketakutan yang terpancar dari aura mereka.
"Ada apa?" monolog Kusuma, seraya menerka - nerka. "Mungkinkah ... Maung?"
Kusuma melangkah semakin cepat. Di balik barisan bambu, tampak seekor harimau benggala berukuran lebih besar dari batas normal sedang murka. Binatang buas itu mengaum begitu keras. Pandangannya lurus ke arah jam sembilan dengan posisi tubuh yang siap menerkam.
Mangsa, ucap Kusuma dalam hati sembari melihat ke arah lawan panglima hutan itu.
"Manusia?" Dia semakin kebingungan setelah melihat keberadaan seorang pria. Tak ada aroma dupa maupun kembang yang tercium darinya. Entah kenapa Kusuma yakin, makhluk tampan itu bukan bagian dari bangsa jin. "Dia bukan pertapa. Bukan pula pemuja ibunda. Lalu, bagaimana bisa dia sampai di tempat ini? Mungkinkah dia tersesat? Ini pasti ulah para dayang."
Tubuh gadis berambut panjang itu memudar. Ketika mewujud, dia telah berada di belakang punggung pria asing itu. Dengan sigap Kusuma menarik tubuh kekarnya, lalu menatap tajam sang harimau lapar.
Pergilah!
Perintah Kusuma yang terlontar lewat pikiran itu menghentikan aksi cabik - mencabik, yang sebelumnya ada dalam benak sang Harimau. Hewan buas itu mundur perlahan, lalu meninggalkan Kusuma dan manusia yang dilingkupi ketakutan.
Kusuma menekuk lutut. Dia sentuh pundak lelaki itu sambil bertanya, "Apa kamu baik - baik saja?"
***
To be continue ....