#6. Keindahan yang Samar

1273 Kata
** Di tengah barisan bambu, langkah Sekar dan Lastri terhenti. Bayang mereka perlahan tampak sempurna, seiring rasa panas di d**a Sekar yang mulai sirna. Selang beberapa saat, dia bisa kembali bernapas lega. Dihirupnya aroma kemenyan yang masih merajai hutan hingga dia menyadari asal panas yang begitu menyiksanya. Liontin dalam genggamnya. “Sekar.” Lastri menatap paras sahabatnya yang tampak linglung. Dia menilai, ada sesuatu yang bergelayut di benak wanita itu. Tak ingin terlalu memaksa, Lastri mencoba menerka. Dan keanehan itu hadir kala melihat tangan Sekar menghitam. “Ada apa dengan ....” Kalimat Lastri terhenti seketika setelah melihat perubahan warna liontin. Hitam. Batu yang sebelumnya tampak berharga, kini tak ubahnya batu kali yang tiada arti. “Sekar, bagaimana bisa ... astaga!” Wanita itu kembali terhanyut dalam tanya yang tak berujung pada jawaban. Sementara itu, Sekar masih termangu menatap telapak tangannya yang legam, Dia tak habis pikir dengan apa yang telah menimpa. Beberapa saat yang lalu, semua terasa biasa saja hingga Nyi Roro memejamkan mata dan ... Sekar terduduk. “Sekar! Sekar!” Lastri berusaha menyadarkan rekannya. “Mungkinkah ini milik Nyi Roro?” lirih Sekar. Lalu dia bangkit dalam sekelebat, terburu melepas kalung itu, dan menghilang setelah membuang apa yang dirampasnya. Lastri tak bisa berbuat banyak. Air muka ketakutan tergambar jelas di wajah Sekar. Sendu dia menatap benda itu. Tak ingin mengalami hal serupa, dia pun pergi. Dalam kesendirian, liontin itu kembali bernyawa. Warna hitam kini serupa asap yang terisap, lenyap, kembali seperti semula. Di atas daun - daun kering, dia menanti. *** “Jadi, inikah rupa kerajaan di dunia lain? Dunia tak selama ini jauh dari pandanganku, bahkan benakku pun tak menyangka akan nyata hadirnya." Betapa terkejutnya Kusuma. Pria yang seharusnya terlelap hingga esok hari, tersadar di saat yang tidak tepat. Nada bicaranya begitu santai, hampir - hampir tak terdengar bias ketakutan, heran, atau terkejut. Sedikit pun tidak terlihat. Kusuma menggeleng, lengkung manis tampak di bibirnya walau sekejap. Keberanian lelaki itu mengherankan, tapi dia bukan yang pertama ditemuinya. Ada banyak sosok yang serupa. Namun, hati kotor mereka bagai tangan raksasa yang siap merengkuh kenikmatan dunia. Gadis itu melirik sembari berkata, “Bukan. Ini rumahku.” “Rumah?” Putra beringsut, meninggalkan kehangatan selimut dan peraduan. Jendela besar bergawang perak, ukiran indah yang tampak serupa dengan perkakas dari Jepara, menarik pandangannya. Lain daripada itu, asal hiruk pikuk yang lirih terdengar, ingin dia temukan. “Bukankah kau janji akan membawaku pulang?” tanya Putra setibanya di depan jendela. “Janji tetaplah janji. Aku tak kan pernah mengingkari apa yang terucap. Kamu tampak begitu lelah. Jadi, kuputuskan untuk membawamu kemari. Akan kusuruh dayang untuk menyiapkan pakaian dan air hangat.” Hening. Sejujurnya, Putra tidak begitu menghiraukan apa yang dikatakan Kusuma sebab terpukau dengan hamparan hutan, ah, tidak! Dia berada di tengah perkotaan padat penduduk. Pasar, perumahan, pertokoan, gedung sekolah, bahkan dia bisa melihat stadion megah yang tak jauh dari .... “Apa itu gedung pernikahan? Ini gila! Di mana aku sebenarnya?” Putra mengusap - usap wajah, lalu membelalakkan mata, mengucek, dan membukanya kembali selebar mungkin. Dia yang tak percaya dengan alam lain, kini mulai meyakini keberadaannya. “Subhanallah, Maha Suci Engkau yang telah menciptakan jin dan manusia. Ini luar biasa. Apa kau ....” Pertanyaan Putra terhenti setelah menyadari dirinya tinggallah sendiri. Neon cantik itu tak lagi ada di seberang ranjang. Lelaki itu berkerut kening, mencoba mengingat apa yang terlewat. “Sejak kapan dia pergi?” Putra kembali membuang pandang ke luar jendela, memindai sosok - sosok yang berlalu lalang di bawah sana. Tak ada yang aneh. Wujud mereka layaknya manusia, atau mungkin memang manusia? Putra tak habis pikir. Dia mengulik kembali perihal dunia gaib yang sempat terbaca, terdengar, maupun dari tontonan di media visual. Jin pandai melakukan tipu muslihat, mungkin saja ini salah satunya. Kusuma ingin aku tinggal dan menjadi budaknya, lalu ... ah, tidak! Aku harus pergi dari sini. Aku harus kembali! Bunda pasti mengkhawatirkan aku. Bara dalam d**a kembali berkobar. Dia tak menyangkal jika dunia di luar sana sangatlah menggiurkan, tapi tidak mungkin baginya untuk tinggal lebih lama. Putra percaya bahwa segala sesuatu yang dilihatnya adalah fana. Fana, bukankah dunia manusia juga sama? Putra kembali bermakrifat. Lelaki itu bagai setrika tanpa kabel, mondar - mandir di sisi ranjang hingga dua dayang tiba. Kain yang membalut tubuh mereka, tak serupa dengan Kusuma. Meskipun sama putihnya, tapi penampilan mereka lebih mirip peri tanpa sayap. Tak ada selendang yang menjuntai, hanya gaun panjang yang terawang di bagian lengan, perut, dan betis. Rambut hitam tergelung rapi, berhias bunga dan batang perak yang melintang serupa bandana. Putra tak menyangkal jika kedua sosok itu sama cantiknya. Pipi mulus merona, warna peach di bibir, dan tubuh semampai. Alih - alih kabur, dia malah mematung dan mungkin lupa akan bagaimana cara berkedip. “Kami sudah menyiapkan air hangat dan pakaian untuk Tuan. Mari, Tuan!” Gadis dengan gelang mawar merah di tangan, mempersilakan Putra mengikuti mereka. Lembut dan ringan langkahnya, inikah sebab Putra tak bisa mendengar jejak kaki mereka? Lelaki itu menelan saliva. Dia bagai ekor yang mengikuti gerak kepala. Dalam perjalanan yang entah ke mana, Putra mengamati setiap sisi ruang demi ruang yang terlewati. Pakaian para wanita di sana serupa, hanya bunga di kepala dan pergelangan tangan yang tampak berbeda. Seperti inikah perasaan Jaka Tarub kala bertemu para bidadari? ucapnya dalam hati. Tak sampai sepuluh menit, sampailah dia di pemandian. Jika ditilik, tempat ini hampir mirip jacuzzi kamar hotel VVIP. Air jernih mengisi cawan alam—susunan bebatuan andesit dan batu hampar—bertabur bunga, serta gelembung - gelembung refleksi, menarik Putra untuk segera menikmatinya. Kedua wanita itu, yang menuntunnya, menata handuk, peralatan mandi dan pakaian ganti yang diletakkan sedikit jauh dari kolam. Kemudian, mereka mundur beberapa langkah, hanya sampai di pilar yang terlilit anggrek putih. “Apa kalian akan berdiri di situ selama aku mandi?” tanya Putra. “Iya, Tuan. Kami ditugaskan untuk melayani Anda,” jawab dayang berbunga kuning. “Panggil Ku-Ku....” “Putri Kusuma, Tuan,” sahut yang lain. “Ah, siapa pun itu. Katakan padanya, aku tidak terbiasa mandi di hadapan para wanita. Pergilah!” Perintah tegas Putra berhasil. Mereka mundur perlahan dan hilang setelah melewati gawang pintu. Sunyi dan sepi. Sendiri adalah momen yang tepat untuk melarikan diri. Putra meneliti setiap sudut, juga dinding - dinding bata, berharap ada celah yang bisa dia gunakan untuk kabur. Sedikit waktu, Putra hanya butuh sedikit waktu hingga senyum kembali mengembang di bibirnya. *** Sementara itu, di tengah kerumunan bambu - bambu yang sedang bersenda gurau dengan angin, tapak kaki jelas terdengar. Daun - daun kering terinjak dengan sangar. Kain putih menyapu mereka laksana buaian. Derit aur yang saling bersahutan, seakan - akan menjadi irama pengiring sang pejalan. “Mingkar - mingkur ing angkoro ... akarana karenan mardi siwi ... sinawung resmining kidung ... sinuba sinukata ... mring kretarta pakartining ngelmu luhung ... kang tumrap neng tanah Jawa ....”(1) Kidung Jawa mengalun syahdu dari mulut lelaki itu, menjadi pelengkap suasana. Mata sayu dengan kerut - kerut penuaan, menatap jauh ke depan, menembus celah dari ruas - ruas yang sesekali bertabrakan hingga bertemu dengan sinar biru kehijau - hijauan yang menyilaukan mata. Tembang terhenti, dia melompat begitu cepat dan mendarat tepat di depan liontin. Kedua alis lelaki itu mendekat seiring mata yang menyipit. Dia jongkok, lalu mengambil benda yang membuatnya penasaran. Diamatilah dengan saksama batu bertuah yang terapit ibu jari dan telunjuk. Sesaat kemudian, bola matanya membulat sempurna. “Ini?” Dia menggenggamnya erat, lalu lenyap. *** Catatan kaki: (1)Mengalih dari sikap menuruti nafsu ... karena keinginan mendidik generasi penerus ... melalui keindahan syair ... yang juga dihiasi ... dengan tujuan mencapai kesempurnaan dengan mempelajari ilmu ... yang diterapkan di tanah Jawa ....)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN