15. Bukan yang Dicinta

1061 Kata
Beberapa hari ini, Mas Alex sering sekali berangkat pagi kemudian pulang malam sehingga aku tak punya banyak waktu untuk mengajaknya mengobrol. Kami memang tidur dalam satu kamar yang sama, bahkan juga tidur di ranjang yang sama, tetapi sama sekali tidak melakukan apa-apa. Aku mengatakan ini bukan karena aku ingin disentuh, hanya saja bukankah sangat wajar ketika aku memikirkannya? Aku adalah istri dari Mas Alex, sebagai pasangan suami istri melakukan hubungan itu sangat perlu karena itu bisa mengeratkan hubungan suami-istri. Namun, tidak mungkin aku mengatakan dengan gamblang karena itu hanya bisa membuatku malu saja, apalagi saat Mas Alex terlihat tak tertarik melakukannya denganku. Entah mengapa, aku jadi merasa curiga, meskipun aku berusaha untuk selalu berpositif thinking, tetapi pikiran buruk itu selalu datang sendiri. Aku khawatir kalau Mas Alex memilih wanita lain dalam hidupnya, tetapi bukankah dia yang bilang kalau dia menyukaiku? Dia bahkan mengajakku menikah karena tertarik padaku. Tak mungkin Mas Alex selingkuh setelah seminggu kami menikah. Mungkin saja kantornya sedang sibuk sehingga ia tidak punya banyak waktu di rumah. Mas Alex masih terlelap saat aku terbangun dari tidurku, hari ini aku bangun kesiangan sehingga aku lupa melaksanakan shalat tahajjud. Mungkin, besok-besok lebih baik aku memasang alarm saja supaya nantinya aku bisa bangun tepat waktu. Usai melaksanakan shalat subuh, aku pergi ke dapur untuk memasak sarapan untuk Mas Alex. Tadi aku sudah berusaha membangunkan Mas Alex agar dia bisa shalat subuh, tetapi Mas Alex sama sekali bergeming. Beberapa kali aku mencoba membangunkannya, hingga akhirnya dia sadar. Tadi saat ia sudah pergi ke kamar mandi, aku langsung meninggalkannya menuju dapur. "Nyonya mau masak apa?" tanya Mbok Siti yang kini menghampiriku. "Nasi goreng, Mbok," jawabku. "Ada yang bisa Mbok bantu?" "Nggak perlu, Bi, saya bisa ngerjainnya sendiri. Lagipula ini hanya nasi goreng," ucapku sambil tersenyum. "Kalau gitu Mbok pergi ke depan ya, Nyonya, mau nyiram tanaman. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil Mbok ya." Aku hanya mengangguk dan membiarkan Mbok Siti pergi. Aku mulai memasak nasi goreng, hal yang pertama aku lakukan adalah memisahkan bawang dari kulitnya kemudian memotongnya tipis-tipis. Semua step tentang memasak nasi goreng sudah aku lakukan sehingga akhirnya nasi goreng yang di atasnya ditaruh telur mata sapi pun jadi. Aku menaruh dua piring nasi goreng itu di atas meja makan. "Aku harus panggil Mas Alex buat sarapan bersama," ucapku yang kini melangkahkan kaki menuju kamar mandi. "Mas Alex—" Aku menghentikan kata-kataku saat aku memasuki kamar, Mas Alex tengah mengancingkan kemejanya sehingga tubuh depannya terlihat. Aku berdehem pelan kemudian kembali keluar dengan wajah yang memerah, ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu dan itu membuatku sedikit malu. "Kenapa di luar? Masuk saja," ucap Mas Alex dari dalam. Aku meliriknya yang kini sudah berpakaian lengkap dan sedang memasang dasi di lehernya, aku pun akhirnya memasuki kamar kami. "Sarapan sudah aku siapkan, Mas," ucapku. "Ya, nanti aku ke bawah," balas Mas Alex. Hingga kami sama-sama terdiam, aku bingung ingin mengatakan apa karena ini pertama kalinya aku mengajak Mas Alex sarapan bersama. Ya, pertama kalinya karena kemarin-kemarin Mas Alex pergi ke kantor pagi-pagi sekali di saat aku belum menyiapkan sarapan untuk kami. "Eum, Mas Alex ingin dibuatkan kopi atau teh?" tanyaku. "Kopi." Aku mengangguk. "A-aku duluan ke bawah ya, Mas," ucapku akhirnya. Ia hanya mengangguk hingga aku benar-benar kembali ke dapur. Aku membuatkan secangkir kopi untuk Mas Alex, aku tidak tahu selera Mas Alex seperti apa sehingga aku hanya mengandalkan instingku saja dalam membuatkannya kopi. Saat aku sudah selesai, aku pergi ke meja makan. Aku meletakkan secangkir kopi itu di dekat piring nasi goreng milik Mas Alex, bertepatan dengan itu Mas Alex berjalan menuju kemari. "Sarapan, Mas," ucapku. Mas Alex mengambil duduk di depanku, ia mulai melahap sarapannya tanpa berkomentar apa-apa. Aku sedikit kecewa karena aku sudah berharap setidaknya ia memberikan komentar tentang sarapan kami, entah itu pujian atau mungkin kritikan, aku sama sekali tidak masalah. Salahkah kalau seorang istri mengharapkan hal itu pada suaminya? Aku rasa, sama sekali tidak salah. "Mas hari ini pulang jam berapa?" Aku memulai pembicaraan karena sedari tadi Mas Alex hanya diam saja dan tidak berniat mengajakku berbicara. "Belum tahu," jawab Mas Alex singkat. Lagi, aku kecewa, padahal aku berharap ia menceritakan sedikit tentang pekerjaannya agar suasana sarapan ini tidak terlalu canggung dan kaku. "Apa Mas akan lembur lagi?" Ia menatapku sejenak kemudian menyesap kopinya. "Mungkin iya." "Oh ya, Mas, tadi Mama mengirimkan pesan kalau kita diminta ke sana nanti malam. Apa Mas bisa hari ini nggak lembur dulu?" Tadi pagi memang ibu mertuaku itu mengirimkan pesan, meminta agar kami makan malam di sana. "Ya, Mama juga sempat mengirimkan pesan itu padaku," ucap Mas Alex. Pria itu terdiam beberapa saat kemudian lebih memilih menghabiskan sarapannya. "Kamu langsung berangkat aja nanti ke rumah Mama, aku akan berangkat dari kantor," ucap Mas Alex dingin. Tanpa berkata-kata lagi, Mas Alex berdiri dari duduknya dan berniat pergi meninggalkanku. Namun, sebelum itu aku langsung menyusulnya, aku sungguh tidak tahan dengan sikapnya yang berbeda dari pertama kali kami saling mengenal. "Mas, mengapa sikapmu menjadi dingin kepadaku?" tanyaku akhirnya. Mas Alex menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya untuk menatapku. "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini padamu, tetapi kamu harus tahu." Aku penasaran dengan apa yang akan ia katakan, aku menunggu sampai ia berbicara. "Ketahuilah, aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku menikahimu karena permintaan Mama, Mama mengancamku untuk mengambil alih perusahaan jika aku tak ingin menuruti keinginannya untuk menikahimu." Deg. Bagaikan disambar petir di siang bolong ketika mendengar penuturan Mas Alex, hatiku terasa sakit saat mendengarnya. "Jadi, kau tidak perlu repot-repot memberi perhatian lebih. Pernikahan ini terjadi mungkin hanya untuk sementara, kau mungkin kecewa dengan fakta ini. Maka dari itu aku akan membebaskanmu melakukan apapun yang kamu mau termasuk mencari pria yang bisa mencintaimu karena aku tidak bisa memberi itu padamu." "Pernikahan kita memang tidak terlihat seperti pernikahan kontrak, karena yang menentukan bertahannya pernikahan ini adalah aku. Ingat hal ini, jangan coba-coba mencampuri urusan pribadiku atau kau akan tahu akibatnya. Saat di depan keluarga nanti, bersikaplah biasanya." Usai mengatakan itu, Mas Alex pergi meninggalkanku yang berdiri mematung sambil menatap punggungnya dengan nanar. Ternyata aku bukan orang yang dicinta, Mas Alex melakukan semua hal yang membuatku luluh itu karena ancaman Bu Sievania. Sedih? Sakit? Tentu saja aku merasakannya, tetapi tidak ada yang bisa kuperbuat. Aku sudah menikah dengan Mas Alex, aku tidak bisa mundur lagi. Maka, aku akan berusaha membuat suamiku mencintaiku, aku yakin kalau cinta itu akan ada di hati Mas Alex, akan aku usahakan untuk itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN