Pagi ini Kanaya telah berada di kelas nya, tentu masih menggunakan perlengkapan nerd nya, ia sengaja datang pagi pagi supaya dapat sarapan dengan leluasa di kantin sekolah. Siswa yang kebanyakan tak peduli padanya, membantu Kanaya makan dengan tenang tadi.
Sekarang gadis manis itu duduk di meja nya sembari membaca buku novel favorit nya. Jika nanti anak kelas nya datang, maka ia akan berpura pura mengerjakan soal di buku soal. Karena mana ada gadis miskin yang menghamburkan uang untuk membeli novel?
Namun, karena terlalu hanyut dalam cerita novel, Kanaya tak menyadari bahwa ada tiga kakak kelasnya yang sudah di hadapan nya sembari berkacak pinggang. "HEH?!" kakak kelas itu menggebrak meja Kanaya, membuatnya tersentak kaget.
"I-iya kak? A-ada apa?" Tanya Kanaya, ia berusaha sekuat mungkin untuk tak mematahkan tangan kaka kelasnya, dan berpura pura takut. Maka sebab itu penyamarannya akan aman.
"Ikut gue" Kakak kelas dengan name tag Rachel itu berbicara. Membuat Kanaya mau tak mau mengikuti setiap langkahnya menuju tempat yang Rachel tuju.
Tak lama mereka tiba di belakang sekolah, tempat ini jarang menemukan orang lewat, guru maupun siswanya. Karena terkenal dengan tempatnya yang tak cocok di jadikan tongkrongan.
Dengan kasar Rachel menghentakkan tubuh mungil Kanaya ke tembok kasar di belakangnya. "Dapet duit dari mana lo? Bisa masuk Dirgantara's senior high School"
Kanaya meringis, tatkala punggungnya terasa sakit akibat terkena tembok kasar di belakangnya. "Sa-saya da-dapat beasiswa kak" Ucap Kanaya susah payah, punggungnya sudah sangat sakit, sepertinya ia merasakan sesuatu yang mengalir dari punggungnya.
"Beasiswa?" Tanya gadis di samping kanan Rachel, gadis itu ber name tag Dina.
"Sok pinter njir" Ucap gadis lainnya yang berada di sisi kiri Rachel, ber name tag Ela.
'Emang gue pinter, masalah buat lo?'
Tentu Kanaya hanya bisa mengatakan itu dalam hati, jika ia utarakan secara langsung, maka di pastikan penyamarannya akan langsung terbongkar dalam beberapa menit saja.
"Lo tau gak, DSHS itu sekolah buat orang kaya?" Tanya Rachel.
Tangan kanannya menekan pundak Kanaya, supaya lebih menempel di tembok yang kasar itu. Lagi lagi Kanaya meringis kesakitan.
"Ta-tau kak" Ucap Kanaya sembari menahan ringisannya. Sepertinya punggungnya memang berdarah. Bisa Dirasakan sesuatu mengalir dari arah punggung.
"Kena—
"Ada apa ini?" Suara yang cukup familiar di telinga Kanaya itu terdengar. Membuat semuanya menoleh secara serempak pada mereka.
Di sana ada 4 cowok. Kanaya cuma kenal 2 cowok, kakaknya sendiri yaitu Imanuel, dan Alfian.
Ketiga perempuan yang tadi sempat bully Kanaya gemetaran karena menahan rasa takut mereka. Tentu mereka tau, di hadapannya ini berdiri 4 cowok mos wanted di sekolah ini.
Terkenal dengan wajah tampan namun datar milik mereka masing masing. "Kita gak ngapa ngapain kok" Jawab Rachel dengan nada bergetar nya. Takut di keluarkan dari sekolah karena kasus bully.
Kanaya melirik sinis Rachel, setelah membuat punggung Kanaya terluka, di bicara tak melakukan apa pun? Topeng yang sudah basi.
"Gak ngapa ngapain itu kenapa dia sampe berdarah banyak gitu? Lo kira kita buta" Jawab salah satu cowok yang di sebelah Fian. Kanaya liat cowok itu ber name tag Bisma.
"Mending pergi deh, dari pada gue aduin ke kepsek kan" Ucap Liam, cowok yang berada di sebelah Manuel. Dengan wajah datarnya.
Ketiga gadis itu bergemetaran dengan hebat, mereka takut akan di adukan kepada kepala sekolah, itu artinya akan mendapat sanksi besar.
-Fake Nerd-
"Lo gak papa kan?" Tanya Bisma sembari berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kanaya, yang entah sejak kapan telah merosot hingga ia kini duduk di atas tanah dengan kondisi yang tak di katakan baik.
"I-iya kak, gak papa. Makasih" Ucap Kanaya sembari berusaha untuk bangkit, namun dirinya kembali terjatuh ketika merasakan punggungnya yang sangat terasa sakit.
Entah karena mungkin terbentur tembok semen yang tak rata di belakang nya ini terlalu keras, atau karena bagian belakang nya di tekan hingga sangat menempel di bagian tembok itu.
Tanpa aba aba, Liam segera menggendong Kanaya menuju UKS. Karena kondisinya yang tak siap, membuat Kanaya reflek melingkar kan tangannya di leher pria itu.
"Ka-kak tu-turunin sa-saya kak" Ucap Kanaya gelagapan. Ia khawatir akan mendapat yang lebih parah dari tadi, ketika mencoba mendekati salah satu mos wanted sekolah ini.
Bagaimana pun juga demi kelancaran misinya, Kanaya harus menjaga jarak dengan mereka berempat. Jadi sebisa mungkin Kanaya harus menghindar.
"Lo berdiri aja gak bisa, apa lagi jalan." Ucap Liam dengan dingin. Membuat Kanaya bungkam, dalam hatinya Kanaya membenarkan ucapan Liam.
Di belakang Liam dan Kanaya, mereka—Manuel, Alfian, Bisma— mengikuti dengan gaya cool nya. Selama perjalanan ke UKS, banyak bisik bisik yang memenuhi koridor tentang salah satu mos wanted bisa menggendong anak baru yang bahkan penampilannya jauh dari kata sempurna.
Mereka tak tau saja, jika penampilan Kanaya yang sebenarnya amat sangat dekat dengan kata sempurna.
Setelah tiba di UKS Kanaya tak dibaringkan, melainkan di dudukkan di tepi ranjang oleh Liam. Jika di baringkan, maka bisa di pastikan akan membuat Kanaya meringis kesakitan.
Melihat itu, anak PMR yang kebetulan menjaga UKS segera mengobati Kanaya, sebelumnya mereka sempat terpana akan ketampanan makhluk ciptaan Tuhan di hadapan mereka.
"Makasih kak" Ucap Kanaya dengan menundukkan kepala nya. Liam hanya menganggukkan kepala nya samar dan berlalu pergi bersama ketiga sahabatnya.
-Fake Nerd-
Sekarang Kanaya sedang berada di apartemen miliknya, setelah selesai di obati di UKS tadi, Kanaya di perbolehkan pulang karena lukanya yang tak bisa di katakan ringan. Bahkan Kanaya harus repot repot membeli seragam baru.
Hari sudah menunjukkan pukul 13.00, Kanaya baru saja selesai makan siang. Rencana nya malam ini ia akan pergi bersama teman temannya. Bianca dan Andhara.
Para Cabe Pasar
Kanaya, Bianca, Andhara.
Bianca cans
| gengs
| main yok.....
Andhara anak siwon
| kemana?
Kanaya
|Cafe aja yok, ntar malem
|Mo gak?
Bianca cans
|yok
| eh betewe lo di mana dah nay?
| kak Nuel sama tante Raina teleponin gue
Andhara anak siwon
|hooh kemana lo bocah?
Kanaya
|Apartemen
|Jan kasih tau keluarga w ya
|Awas
Andhara anak siwon
| anda pikir apartemen tu satu doank
| apart mana lo?
Kanaya
|Golden
Bianca cans
|hehehe
| main ya?
| unit berapa?
Andhara anak siwon
| ^2
Kanaya
|Yeu
|619 lantai 6
Read by 2
Kanaya mengumpat kesal begitu melihat pesannya hanya di baca oleh kedua sahabatnya, Kanaya yakin mereka sedang dalam perjalanan kemari, padahal niat nya mau langsung bertemu di cafe.
Namun sepertinya realita berkata lain.
Tak sampai beberapa menit setelah mengirim alamatnya, Kanaya merasa keduanya memang sangat cepat jika itu menyangkut makanan gratis yang pasti sudah Kanaya siapkan, buktinya mereka berdua sekarang sedang cengengesan gak jelas di depan pintu apartemen Kanaya.
Kanaya mendengus kesal, sambil mempersilahkan mereka untuk masuk ke unit apartemen nya. Tak seperti Andhara yang langsung nyelonong masuk buka kulkas, Bianca masih mempunyai sedikit kewarasan untuk tidak melakukan tindakan yang menunjukan dirinya seorang gembel.
"Udah kayak gembel yang gak makan aja Lo" ledek nya kepada Andhara yang duduk di sofa panjang, setelah meletakkan makanan makanan ringan yang tadi ia ambil dari kulkas, di meja kecil depan sofa.
"Gue bukan gembel, gue cuman suka gratisan" Jelas Andhara santai. Mulutnya tak berhenti mengunyah makanan.
Diam diam Kanaya menyesal telah memberikan alamatnya kepada teman teman iblisnya.