Keputusan bang Nino jelas menimbulkan berbagai reaksi, pro dan kontra. Papa yang merasakan sekali imbasnya karena rencana bang Nino, pasti jadi pihak yang kontra. Juga om Narez, yang menilai bang Nino terlalu terburu buru. “Pikirkan lagi No…seperti om butuh Reno di perusahaan om, karena om sudah tua, papamu juga butuh kamu” kata om Narez saat kami semua berkumpul untuk makan malam di rumahku. Kedua eyang pun ikutan, bang Reno, dan Radit yang memang biasa datang untuk menemuiku di malam sabtu, sebelum weekend datang. “Aku tetap bantu papa om….” jawab bang Nino. Aku lirik bang Reno yang santai menyesap kopinya, seperti eyang kung. Radit hanya diam mengawasi sama sepertiku. “Udah sih pah, biar aja, lihatin aja gundul mau apa, nanti kalo gagal juga balik bantu papa” komen mama. “Mama m

