Manis Asam Kehidupan

2061 Kata
Awan terksiap. Dia mencari ponsel ketika membuka mata, menatap keterangan waktu di layar. Jarum pendek sudah mendekati angka enam. Bergegas Awan mandi dan bersiap-siap. Saat pria itu keluar kamar dalam keadaan rapi dengan jas dan dasi disampirkan di tangan, Yoko sudah berada di dapur. “Nggak usah, Ko. Biar aku aja,” tampiknya ketika dilihat Yoko akan memindahkan bubur ayam ke mangkuk. “Tidak apa-apa, Pak. hal-hal kecil seperti ini juga merupakan tugas saya.” “Kamu ngurusin orang sampai hal remeh begini, kamu sendiri sudah sarapan?” “Sudah, Pak,” jawab Yoko seraya mengangguk, kemudian meninggalkan Awan. Awan makan dengan cepat, memakai dasi dan jas di dalam mobil karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Dalam perjalanan, dia menanyakan kembali info-info yang dilihatnya semalam. Data-data yang dicetak sengaja dibawanya untuk dilihat kembali. “Ko, seberapa sering Elang berinteraksi dengan dewan direksi di luar jam kantor atau urusan pekerjaan?” tanya Awan sambil memperhatikan kembali kertas-kertas di tangan. “Hampir tidak ada, Pak, selain Pak Wangsa.” Awan melihat nama yang dicari dalam bagan dewan direksi. Nama Wangsa Wibisana tercantum dalam kotak dengan keterangan ‘Direktur Lain’. Dia berusaha mengingat-ingat nama yang terasa familiair dalam benak. Seperti membaca pikiran Awan, Yoko berkata, “Pak Wangsa ini teman lama Tuan Besar. Yang saya dengar, saat kecil dia dan istrinya sering berkunjung ke rumah Tuan untuk berkunjung. Mereka banyak menghabiskan waktu dengan Bapak dan Pak Elang ketika belum memiliki keturunan.” Awan berusaha menemukan kenangan yang disebutkan Yoko dalam potongan memorinya. “Tapi aku nggak ingat dengan nama ini.” “Beliau sering ke rumah mungkin sampai Bapak berusia sekitar dua tahun. Jika informasi saya tidak salah, saat itu belum ada Bu Dita.” “Sesering apa mereka berinteraksi?” Yoko menjelaskan jika Pak Wangsa sesekali makan siang dengan Elang di restoran lantai dasar, dia juga sering menyempatkan waktu sebelum atau sesudah rapat untuk berbicara dengan Elang. “Menurut pengamatan kamu selama ini, Pak Wangsa ini bisa dipercaya?” Yoko mengangguk dan memberikan fakta-fakta bagaimana Pak Wangsa membantu orang tua Awan juga perusahaan selama ini. Awan mengangguk-angguk menerima informasi yang diapaprkan. “Hubungan secara personal?” “Tidak terlalu akrab karena. Pak Wangsa lama tinggal di luar negeri dan kembali ketika Bapak kuliah. Tapi setiap Pak Elang memiliki masalah atau perlu bicara, Pak Wangsa selalu menyediakan banyak waktu untuknya. Saya rasa, Pak Elang juga tidak ingat jika dulu sering dikunjungi Pak Wangsa, dia terlihat biasa saja menanggapi setiap interaksi dengan Pak Wangsa. Namun, dari pihak Pak Wangsa, saya sering melihat gestur yang menunjukkan kepedulian seperti menepuk lengan.” Awan memilah-milah lembaran kertas, memberikan beberapa pada Yoko melalui celah antara kursi depan mobil. “Nama-nama ini minta Dex selidiki lebih lanjut.” Tanpa menolah, Yoko mengambil kertas dan meletakkannya di kursi penumpang di sebelahnya. “Karena keadaan Papa sudah lama tidak membaik, bisa saja ada yang akan mengajukan pergantian direktur utama. kita harus memikirkan segala kemungkina dan bersiap.” Awan mengusap alisnya. “Sejauh ini, kandidat terkuat siapa, Ko?” “Pak Elang, Pak. Selain karena kemampuan, memang beliau yang menggantikan Tuan Besar selama sakit. Banyak kemajuan juga selama Pak Elang pegang kendali.” “Ada usaha-usaha untuk menjatuhkan Elang selama ini?” “Paling hanya hal-hal kecil, Pak, seperti menghambat proses produksi. Semuanya bisa teratasi dengan baik.” “List semua hambatan dan kendala selama Elang menggantikan Papa, minta Dex menyelidiki hingga ke akar, siapa tahu kita dapat petunjuk.” Awan memastikan Yoko mendengar kalimatnya sebelum melanjutkan. “Oya, Ko, minta foto-foto terbaru semua anggota dewan. Saya harus memastikan bisa mengenali semua orang dengan baik.” Sepanjang perjalanan menuju kantor, Awan berkutat dengan pikirannya. Dia tidak ingin otaknya berpikir keras pagi-pagi. Sayangnya, piikiran-pikiran itu menari-nari tanpa henti. Jika memang Elang kandidat kuat dan memberikan keuntungan bagi perusahaan, harusnya semua orang mendukungnya menggantikan Papa. Tapi, kecelakaan ini terlalu mencurigakan mengingat timing yang pas. Antara rapat direksi dan tender, salah satunya pasti berhubungan dengan kecelakaan yang menimpa Elang. “Bapak mau singgah beli kopi?” tanya Yoko. “Memangnya saya harus beli kopi?” tanya Awan balik. “Kadang Pak Elang beli hazelnut coffee pagi-pagi.” Awan mendesah. Dia lupa kalau hal terberat menjadi Elang adalah kebiasaan minum mereka yang tolak belakang. Awan menyukai orang squash yang segar dan cenderung asam, sementara Elang penyuka minuman manis. Awan bergidik mengingat kopi yang dulu pernah mereka minum bersama. Kala itu, Elang menawarkan membuat mocha latte saat mereka bergadang mengerjakan proyek akhir tahun untuk perpisahan sekolah. ** “Udah selesai, Wan, editing bagian lo?” tanya Elang dari meja belajarnya. Awan menjawab tanpa menoleh sedikit pun. “Dikit lagi. Lo gimana?” “Udah ini. Tinggal nunggu bagian lo buat disatuain. Masih lama?” “Paling lama sejam lagi.” “Buset! Gue tidur dulu, ya, ntar bangunin kalau lo udah kelar.” “Nggak!” teriak Awan setengah histeris. “Lo tidur kek kebo, susah dibangunin. Kalau lo tidur, gue tinggal ni, biarin nggak kelar!” “Jangan gitu dong, Wan. Gue janji kasi panitia besok buat mereka cek.” “Makanya, jangan tidur. Lo tahu kan otak gue kadang nggak bisa diajak kompromi? Ini gue udah maksain tetap melek, kalau lo tidur, gue tidur juga.” “Rese lo!” “Lo yang rese! Tahun terakhir bukannya enak-enakan jadi senior, malah nawarin garap proyek buat perpisahan. Mana ajak-ajak gue lagi!” “Ya, kan nggak mungkin gue bikin dokumentasi setahun sendirian, semua kelas lagi. Makanya, minta bantuan lo juga.” “Ah, dasar lo aja mau sok keren, biar dilirik Nia.” Awan mencebik. “Mana sia-sia lagi, si Nia malah jadian sama orang lain.” “Bagian itu nggak usah dibahas deh, Wan.” Melihat Awan yang kembali ingin membuka mulut, Elang bangkit. “Gue mau bikin minuman. Lo mau?” “Boleh. Yang biasa, ya,” jawab Awan. Dalam lima belas menit, Elang sudah kembali membawa dua cangkir minuman. Dia meletakkan salah satunya di meja Awan, lalu duduk di bangkunya sendiri dan menyeruput minuman hangat tersebut. Bunyi seruputan terdengar nyaring. “Ah … sedap. Minuman buatan sendiri emang paling enak,” ucap Elang. Awan menoleh cangkir yang diletakkan Elang, menatap bingung. “Sejak kapan orange squash warnanya cokelat?” “Jeruk habis, jadi gue samain aja. Hitung-hitung biar kita nggak ngantuk.” Awan menatap Elang sinis. Yang ditatap melemparkan senyum manis sembari mempersilakan saudara kembarnya minum. Awan menyeruput minumannya yang langsung tersembur tidak sampai sedetik kemudian. “Gila! Ini gula sekilo lo masukin sini? Manis banget!” protes Awan. “Hiperbola banget. Cuma tiga sendok sirup gula, kok.” “Manis banget gila! Lo kalau mau bikin manis, buat lo aja. Lo kan tahu gue nggak doyan manis.” “Males dua kali kerja. Itu juga udah gue kurangi, Bro. Biasanya lima sendok, kadang malah gue tambahin SKM. Demi lo ini nggak manis-manis banget gue bikin.” Awan mendesah, meletakkan cangkir di meja belajar Elang, lalu turun dan menenggak dua gelas air mineral di dapur. ** Awan bergidik mengingat rasa manis mocha latte malam itu. dia menanyakan dengan hati-hati di mana Elang biasa membeli minumannya, memastikan konter tersebut tidak menggunakan cairan kental berperisa s**u yang selalu berhasil membuatnya merinding. Dia mewanti-wanti, tidak boleh ada setetes pun s**u kental manis di dalam minumannya. “Tanpa gula ya, Ko,” tambahnya sebelum Yoko keluar setelah memarkirkan mobil. Sesampainya di kantor, sekretaris sudah menunggu. Perempuan itu mengikuti langkah Awan, mengingatkan jadwal-jadwal penting yang tidak boleh dilewatkan, juga meminta tanda tangan untuk berkas-berkas yang sudah berada di mejanya. Awan menatap lesu berkas-berkas tersebut. Dia memanggil Yoko untuk membantunya memilah mana berkas yang bisa ditunda. Sayangnya, semua berkas harus ditandatangani paling lambat minggu ini. Pria itu memijat kepalanya, kembali mempelajari tanda tangan Elang, meminta Yoko tetap berada di tempat sampai tanda tangannya bisa diakui sebagai milik saudara kembarnya. “Sepertinya, sudah cukup mirip, Pak,” ujar Yoko setelah kurang lebih satu jam Awan meniru tanda tangan Elang. Awan bernapas lega. Dia mempelajari berkas-berkas yang perlu persetujuan segera, mencoba sekali lagi tanda tangan pada kertas coretan, baru membubuhinya di berkas-berkas penting tersebut. “Yang lain besok saja, atau nanti sore.” Awan memutar pergelangan tangan. Yoko tersenyum melihat perilaku Awan, membuat pria itu menelengkan kepala. “Ada yang lucu, Ko?” “Itu, Pak. Saya nggak menyangka Pak Elang punya kembaran, sifatnya bertolak belakang pula.” “Kelihatan banget ya bedanya? Bukannya bahaya ya? Bisa-bisa dalam waktu dekat saya ketahuian kalau begini.” “Sejauh ini masih aman, Pak.” Pembicaraan dengan Yoko terkesan sederhana, tetapi membuat Awan menjadi waspada. Dua hari ini dia belum bertemu orang-orang yang dekat dengan Elang. Dalam lubuk hati, Awan berharap hal itu tidak terjadi, meskipun dia sadar doanya sia-sia. Salah satunya tentu saja pertemuan dengan tunangan Elang yang cepat atau lambat akan terjadi. Kala menyibukkan diri, pesan dari Gantari masuk, menyampaikan bahwa dia sedang berada di rumah sakit, menjenguk Papa sekaligus Elang. Awan langsung menelepon sang Mama menanyakan kabar saudaranya, berharap ada perkembangan. “Elang masih belum sadar, tapi kata dokter tanda-tanda vitalnya bagus. Nggak ada yang mengkhawatirkan. Mama harap dia segera sadar.” “Papa gimana, Ma?” “Belum ada perkembangan juga, Wan.” Awan mendengar desahan dari seberang panggilan. Dia berharap bisa menemani Mamanya, membantu meringankan sedikit kegundahan. “Mama kapan pulang?” “Mungkin besok.” “Kabari ya, Ma. Nanti aku ke rumah.” Pemikiran-pemikiran perihal Elang masih berkecamuk karena Awan belum menemukan petunjuk berarti. Semua terasa terlalu tenang setelah kecelakaan yang menimpa Elang. Orang-orang yang sudah ditemuinya tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Dia teringat Nolan dan kegugupannya ketika ke kantor kemarin. Adik iparnya terlihat ketakutan. Namun, Awan merasa itu wajar karena Nolan bersama Elang sebelum kejadian. Terlebih, Elang adalah kakak iparnya, tidak mungkin pria itu tidak khawatir. Yoko mengetuk pintu, membawa beberapa berkas pekerjaan sekaligus informasi baru, termasuk foto-foto yang sebelumnya dipinta. Awan memandangi satu per satu foto, berusaha mengingat-ingat wajah tersebut. “Oh iya, Pak, terkait informasi yag tadi pagi Bapak minta, sudah saya kirim ke Dex. Dia berjanji akan memberi infomasi lebih lanjut hari ini.” “Bagus,” jawab Awan cepat. “Pastikan Dex mencari info selengkap-lengkapnya. Kita perlu memastikan apakah ada kandidat lain selain Elang juga keterlibatannya dengan kecelakaan Elang tempo lalu.” Yoko sudah ingin beranjak, kemudian berbalik arah. “Saya hampir melupakan satu hal, Pak,” ucapnya. Awan menengadahkan kepala. “Apa?” “Tadi Nona Keina menelepon sekretaris, dia meminta jadwal anda untuk sore ini. Sepertinya Nona Keina mau ke mari.” Refleks, Awan memijat dahi. Baru saja dia berharap tidak bertemu dengan orang terdekat Elang, ternyata jawaban dari kekhawatirannya sangat cepat. “Baiklah.” Saat Yoko ingin keluar, Awan memanggilnya. “Ada hal yang perlu saya siapkan untuk sore ini?” Awan menggoyang tangan, meminta masukan dari Yoko. Yang ditanya berdiri mematung beberapa saat sambil berpikir. “Air mineral, Pak,” jawab Yoko kemudian. “Air mineral?” Ekspresi Awan membuat Yoko tersenyum geli. “Untuk jaga-jaga, Pak. Yang sudah-sudah, Nona Keina akan membawa kesukaan Pak Elang, paling tidak segelas minuman. Mengingat selera kopi Bapak tadi pagi, saya rasa Bapak akan membutuhkan banyak air mineral sore ini.” Awan menelan ludah. Manis mocha latte buatan Elang yang langsung dimuntahkannya dulu tiba-tiba terasa di lidah seolah baru saja dipinum. Dia tidak ingin membayangkan apa yang akan dibawa gadis itu nanti, tetapi keyakinan bahwa itu tidak akan cocok dengannya sangat kuat. “Kalau begitu, tolong siapkan beberapa botol. Minta OB untuk membuatkan orage squash nanti sore. Tidak, tidak. Kopi saja. Siapkan kopi seperti ini,” Awan mengangkat gelas kertas yang masih berisi. “Persis seperti ini untuk nanti sore. Jangan sampai lupa.” “Baik, Pak. kalau begitu saya permisi.” “Tunggu, Ko.” Awan sekali lagi menahan langkah Yoko. “Minta sekretaris menghubungi Keina dan tanya jam berapa dia akan ke mari. Sampaikan saja saya akan mengosongkan jadwal untuknya.” Tidak lama setelah Yoko keluar, sekretaris Elang masuk, mengabarkan jawaban dari Keina yang bersemangat menemuinya sekitar pukul empat nanti sore. “Baiklah. Te−” Awan berdeham menutupi ucapan terima kasih yang hampir meluncur dari bibir. “Kamu boleh keluar.” Awan tidak ingin membuang banyak waktu, urusannya harus sudah selesai ketika tunangan Elang datang. Bila perlu, beberapa jam sebelumnya supaya dia bisa berlatih menjadi Elang. “Jika gadis ini benar-benar mencintai Elang, dia pasti sangat hapal gelagatnya. Aku harus bersiap-siap,” ucap Awan pelan. Awan menggeleng cepat, mengalihkan pandangan pada berkas yang belum dicek, lalu mulai membacanya satu per satu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN