Yang Ada Antara Keina dan Bima

2058 Kata
19. Saat Keina bertanya siapa dia yang Awan maksud, bibir pria itu kelu. Dia kemudian berdalih asal bicara karena sudah mulai mengantuk, efek alkohol mulai mempengaruhi tubuh dan otaknya. “Lagipula, aku nggak ngomong juga kamu bakal tanya orang-orang di sekitarku,” kilah Awan. Keina tersenyum centil, menganggap kalimat Awan barusan sebagai pujain. “Harus kreatif dan inisiatif kalau ngadepin orang kayak Kakak,” balasnya. “Kalau merepotkan, nggak usah.” “Kapan aku pernah bilang merepotkan?” Awan mengambil kesimpulan lebih baik dia mengkahiri pembicaraan. Gadis di sampingnya benar-benar tidak bisa dihentikan jika sudah bicara. Sebelum benar-benar nyenyak Awan sempat mendengar keluhan, “Makanya, harusnya tadi Kakak nggak pesan koktail.” Awan tidak mendengear kelanjutan kalimat tersebut, jika memang Keina masih bicara. Dia bangun ketika gadis itu menepuk pundaknya dan mengatakan mereka sudah sampai. Awan tidak ingin bertanya pada gadis itu apakah dia juga tidur nyenyak setelah mengetahui kebiasaan Keina, menjelaskan panjang atau melompat ke pembahasan apapun agar pembicaraan terus terjadi jika dia bertanya. Keina menawarkan Awan untuk ikut bersamanya ke apartemen. Di sana masih ada cukup ruang untuk tamu. Gadis itu yakin orang tuanya tidak akan keberatan. Awan menolak dengan halus dan berkata lebih nyaman berada di hotel. Keina pun mengusulkannya menginap di hotel tempat resepsi akan diadakan malamnya. “Jadi, aku nggak bakal kehilangan Kakak,” paparnya. Awan mengiyakan agar bisa segera beristirahat. Beberapa jam di pesawat, meskipun tertidur, baginya bukan istirahat jika tidak bisa berselonjor dan merasakan seluruh tubuhnya rileks. Dia meminta Keina untuk tidak menggangu sampai siang karena sangat butuh tidur. Gadis itu mengangguk riang dan berkata akan menjemputnya pada jam makan siang. Ketika sampai di kamar hotel, Awan mandi. Setelahnya, dia merebahkan diri di kasur. Ponsel disetelnya pada mode diam agar tidak ada yang mengganggu waktu istirahatnya. Awan berharap waktu berjalan lambat. Sayangnya, baru saja dia merasa nyenyak, ketukan pintu terdengar bertalu-talu. “Kakak ke mana aja sih? aku telepon-telepon nggak angkat?” Wajah Keina ditekuk. Tanpa perlu bertanya lebih jauh, Awan tahu gadis itu kesal. Dia sama sekali tidak menyembunyikannya. Awan tersenyum geli sambil membayangkan, sudah berapa kali Elang mendapat ekspresi seperti ini dan tidak bisa apa-apa. “Aku masih capek. Tadi hp-ny ku-silent,” pungkas Awan. Mimik kesal sontak berubah menjadi khawatir. “Kakak perlu kupanggilkan dokter?” “Aku cuma butuh istirahat, Kei.” Tatapan Keina berubah sendu. Dia duduk di sofa dengan posisi membungkuk, seperti meringkuk. “Padahal, aku mau ajak Kakak jalan-jalan,” desahnya. Awan mendekati gadis itu, duduk di sebelahnya. “Kita makan siang di sini aja gimana? Di balkon,” tunjuk Awan ke arah jendela yang terbuka lebar. Dari dalam, Keina melihat pemandangan laut. Dia ingin protes, tetapi sepasang bangku di sudut balkon menggodanya. Dalam benaknya, sudah menari bayangan mereka tertawa di sana. Yah, mungkin hanya dia yang tertawa, tetapi tawaran tersebut rasanya cukup baik. “Oke. Aku nyerah. Tapi, semua waktu Kakak hari ini buatku. Ponselnya biarin aja di-silent seharian,” tuntutnya. Awan mengangguk setuju. Dia membiarkan Keina mengambil alih dan mengatur semuanya. Dengan cekatan gadis itu menelepon layanan kamar, memesan ini-itu setelah bertanya detail. Dia juga menelepon asisten rumah tangga untuk mempersiapkan dan mengantar gaun yang dia butuhkan untuk malam ini. Dalam waktu setengah jam, bunyi ketukan kembali terdengar. Keina menyambut petugas layanan kamar dengan riang, mempersilakannya mengemas meja di balkon agar siap untuk mereka. Setelah sang petugas pergi, dia menarik Awan dan duduk di sana. Matahari cerah, tetapi tidak terlihat terik. Semilir angin membelai wajah. Mata Keina dan Awan dimanjakan oleh pemandangan laut, pantai, juga area pejalan kaki yang dihiasi banyak pohon. “Kak, nanti sore kita ke pantai, yuk! Atau duduk-duduk di bawah sana, kayaknya seru.” Keina menunjuk bangkuk-bangku taman yang berada di area pejalan kaki yang cukup luas. Pohon-pohon menaungi taman sehingga orang-orang bisa bersantai sore menikmamti pemandangan laut. “Atau Kakak mau joging? Nanti aku tunggu Kakak di taman bawa air dan handuk kecil.” Meskipun sudah beberapa klai bertemu dan tahu tunangan Elang ini cukup unik, Awan masih sering dikejutkan dengan pemikiran-pemikirannya mengenai bagaimana mereka menjalani hubungan. Lambat laun, Awan paham kenapa Elang bisa menerima keberadaan gadis ini. Dia adalah warna yang mencerahkan hari Elang yang tadinya hanya hitam-putih. “Terima kasih, Kei,” ujar Awan seketika.” “Oh!” seru Keina kaget sekaligus bahagia. “Sepertinya Dewi Fortuna memang sedang memihakku. Pak Elang yang jarang mengucapkan terima kasih mengucapkan kata ajaibnya!” “Sebegitu ajaibanya?” Keina mengangguk cepat. “Katanya, maaf, tolong, dan terima kasih adalah kata ajaib. Kurasa itu memang ajaib kalau Kakak yang ngomong.” Awan sekarang mengangguk pelan. “Karena ini ajaib, dengarkan baik-baik.” Awan menatap lurus gadis di depannya. “Terima kasih sudah menemaniku. Seburuk apapun perlakuanku, kamu tidak pernah pergi. Bisa saja ini karena perjodohan ini dan kita terikat karenanya, tapi aku tetap berterima kasih.” Keina mematung. Dia menatap Awan sambil terdiam. Setelah beberapa detik, Keina mengedipkan mata, seolah jiwanya baru kembali ke raga. “Kak, kalimat barusan serius?” Awan mengangguk. “Jangan minta aku ulang, nggak akan.” Bibir Keina yang tadinya akan terbuka mengerucut. Namun, detik berikutnya dia sudah kembali ceria. “Oh iya, mohon dikoreksi bagian perjodohan.” Keina bangkit dan mendekati Awan. “Kita memang dijodohkan, tapi aku rasa Kakak harus tahu kalau aku benar-benar suka Kakak.” “Suka,” gumam Awan pelan. Dia kembali mengangguk. “Kak, I love you.” Keina mencium pipi Awan sekilas, lalu kembali ke bangkunya. Sekonyong-konyong Awan merasa kalimat panjang yang baru saja dia ucapkan merupakan kesalahan. Dia merasa sudah mencampuri hubungan Elang dengan Keina. Terlebih, dia belum tahu pasti bagaimana perasaan Elang pada gadis ini. Awan mengurut alisnya. Namun, gadis di depannya malah asyik menikmati makan siang sembari senyam-senyum. Dia sepertinya terlalu bahagia dengan kalimat yang baru saja diterima. Sesekali Keina menatap Awan dan memberikan senyum manis. Dia kembali mengutarakan niatnya mengajak Awan menikmati sore di bawah. Awan menolak dengan alasan lelah. “Kakak sih, minum koktail kemarin. Syukur aja banyakan aku yang minum. Kalau nggak, bisa-bisa sekarang juga masih tidur,” sungut Keina. “Kayaknya aku masih butuh tidur.” “No! pokoknya habis ini kita duduk di situ,” tunjuk Keina pada sofa yang tadi dia duduki. Sofa tersebut berada di kaki kasur, dilerakkan menempel ke dinding. Di depannya terdapat televisi berukuran empat puluh tiga inci yang tidak Awan perhatikan apalagi gunakan semenjak kedatangannya ke mari. “Ya sudah. Tapi, kita di kamar aja ya. Aku masih capek.” Tidak ada protes dari Keina. Masing-masing menikmati makanan juga pikiran yang berkelebat dalam benak. Awan memikirkan Liana, sementara Keina memikirkan bagaimana mereka akan menghabiskan hari sampai waktu resepsi tiba. Ketika sudah selesai makan, Keina menelepon layanan kamar, meminta pelayan membersihkan sisa makan siang sekaligus membawa kudapan dan minuman. Dia memesan makanan dan minuman serba manis yang baru saja mendengar namanya sudah membuat gigi Awan ngilu. “Kei,” panggilnya ketika gadis itu masih berbicara dengan layanan kamar. “Aku mau orange squash kalau ada.” Keina mengangguk kemudian meneruskan permintaan Awan. Gadis itu mengonfirmasi ulang pesanan sebelum menutup telepon. Awan menunggu sambil merebahkan tubuh di kasur. Dia hampir asja terlelap ketika Keina menghampiri. “Kakak nggak boleh tidur.” Menyadari jarak yang terlalu dekat, Awan bergegas bangkit dan duduk di sofa. Dia menyalakan televisi, menonton apapun yang pertama muncul. Keina mengikuti dan mengambil tempat di sebelahnya. Gadis itu menatap Awan beberapa saat. Awan merasa tidak nyaman dan menduga-duga apakah Keina menyadari jika dia bukan Elang. Saat Awan menanyakan kenapa gadis itu menatapnya seperti itu, Keina menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, kok,” jawabnya pelan. Serta-merta Keina memeluk Awan. Dia meraih pinggang pria itu dan menyandarkan tubuhnya di bahu Awan. Pria itu mencoba menampik dengan bertanya apakah Keina ingin menonton tayangan lain. Gadis itu malah menjawab, “Ini lebih menyenangkan dari nonton.” Kali ini, Awan tidak mau kalah. Sudah cukup banyak perasaan bersalah menggerogoti, dia tidak ingin menambahkan. “Kalau gitu, aku tidur aja deh.” Awan bersikap seolah akan berdiri. Dengan berat hati, Keina melepaskan rangkulan. Dia kemudian mengambil remot, mengecek semua saluran dan berhenti pada saluran yang ingin ditonton. Namun, tiba-tiba Keina kembali menatap Awan. “Kak,” panggilnya pelan. Keina menggigit bibir, wajahnya seketika keruh. Sedangkan Awan, tetap diam menunggu walaupun dia penasaran dengan perubahan drastis Keina. “Aku mau minta maaf.” Awan menaikkan sebelah kaki ke sofa, melipatnya seperti sedang bersila, agar bisa lurus menatap Keina. Mendapatkan perhatian penuh dari Awan membuat Keina semakin salah tingkah. Dia menunduk sembari memainkan kuku-kukunya. Jika yang di hadapannya saat ini Liana, Awan pasti sudah menggenggam tangan atau mengelus pundaknya. Untuk itu, dia hanya diam dan menunggu Keina bicara lebih lanjut. “Di hari Kakak kecelakaan …” Tenggorokan tercekat. Jantung Awan pun ikut berdegup kencang. Satu sudut hatinya berharap kalimat lanjutan dari Keina bisa memberikan petunjuk mengenai peristiwa yang menimpa Elang. “Hari itu aku ketemu Mas Bima. Dia ke mal cari aku … lalu kasi tas sama sepatu.” Bingo! Ini memang bukan informasi yang Awan tunggu, tetapi setidaknya dia mendapat satu potongan puzzle yang menjelaskan kenapa hari itu Bima membeli barang-barang tersebut.” “Tunggu, berarti selama ini kamu kenal Bima?” Keina mengangguk. “Dia itu teman akrab Mas Bimo. Dulu sering main ke rumah. Mereka sering dijuluki kembar karena nama mereka mirip dan sering bersama.” Bimo yang Keina maksud adalah saudaranya yang meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Awan sempat mendengar sekilas dari Yoko. Dia mengabaikan informasi ini karena dipikirnya tidak penting. Sekarang, informasi ini malah seperti benang merah yang menghubungkan Bima dengan kasus ini. Jika Bima sampai menghadiahi Keina dengan barang-barang, pendapat pertama yang menguak tentu perasaan pria itu untuk gadis yang baru saja berbicara jujur pada Awan. “Tapi nggak aku terima kok, Kak,” sergah Keina, buru-buru mengonfirmasi keadaan tersebut. “Karena Mas Bima belanja di mal kami, aku tawarin buat kembalikan dan minta pengembalian dana kalau dia mau.” Awan bergeming. Dia sedang mempertimbangkan apakah ini info yang cukup penting dan berhubungan dengan motif pelaku. Sayangnya, semua itu dianggap Keina sebagai bentuk cemburu. “Tapi cuma itu kok, Kak. Suer! Aku nggak enak, gimanapun dia pernah dekat sama Mas Bimo. mas Bima juga dulu rajin jemput aku pulang sekolah kalau Mas Bimo nggak sempat.” Awan mendekatkan wajah, melihat ekspresi Keina dengan saksama. Gadis itu menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah dan menatp tajam. “Kak, aku nggak bohong. Kakak bisa tanya sama sekretaris atau cari pegawai yang angkat teleponku waktu itu. aku hanya ketemu bentar sama Mas Bima. Dia datang bawa hadiah, kutolak, tawari pengembalian, telepon bagian kasir biar mau terima kalau dia kembalikan. Itu aja.” Daripada klarifikasi mengenai hubungan yang pernah ada antara Keina dan Bima, sebenarnya Awan lebih penasaran dengan kronologis kejadian waktu itu. Banyak pertanyaan berkelebat dalam benaknya, ingin segera dipastikan. “Aku percaya,” kata Awan. Dia pun meminta Keina menjelaskan lebih detail pertemuannya dengan Bima waktu itu. Seperti yang sudah Keina jeaskan, mereka hanya bertemu sebentar. Perkiraan waktu dia bertemu Bima sekitar pukul setengah sebelas. “Kakak ingat waktu aku telepon kan? Yang Kakak jelasin lagi di jalan, mau makan siang sama Mas Nolan. Nah, waktu itu kejadiannya.” Ini harus masuk dalam catatan Awan. Ternyata, hari itu Keina juga sempat bicara pada Elang. Nanti dia harus kembali mengecek Riwayat panggilan Elang. “Kak, kok diem. Marah ya?” Awan segera menggeleng. “Waktu kamu telepon, ada Bima di dekat kamu?” Keina mengangguk. “Kakak telepon setelah aku bilang sama dia aku udah hubungi kasir supaya dia bisa minta refund.” “Berarti dia dengar pembicaraan kita?” “Kalau suara Kakak nggak kayaknya, tapi suara aku udah pasti.” Keina tiba-tiba cemberut. “Aku jadi ingat waktu itu bilang pengin nyusul tapi Kakak larang. Padahal kan, aku juga suka seafood, mau ikut makan bareng.” “Yakin memang suka seafood?” Keina tersipu. “Nggak suka-suka gimana sih. Aku Sukanya kalau bisa sering-sering makan bareng Kakak.” Awan mengangguk asal. “Ya udah, nonton lagi ya.” Sebelum matanya kembali menatap layar petak yang menempel di dinding, Keina kembali memastikan bahwa pria di sampingnya ini tidak marah dan berpikiran buruk tentang dia dan Bima. Awan mengiyakan semua kalimat Keina agar gadis itu tenang dan tidak lanjut mencecarinya dengan banyak pertanyaan. Dalam hati, Awan menyesali kesepakatannya untuk tidak menyentuh ponsel hari ini. Tangannya gatal ingin menghubungi Yoko atau Dex untuk memastikan riwayat kedekatan Bima dengan Keina juga almarhum kakaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN