Kecurigaan dan Rasa Bersalah

2023 Kata
“Mas!” teriak Keina ketika menyadari siapa yang baru saja membuat Awan tersungkur. “Kenapa lo nggak mati aja sih, kemaren?” Emosi Bima masih tinggi. Dia ingin mendekat dan memukul Awan yang mulai berdiri. Keina bergegas menghalangi melihat gelagat Bima. “Apa-apaan sih ini, Mas?” geramnya. “Kenapa belain dia sih, Kei?” “Dia tunanganku, Mas! Harusnya aku yang nanya, Mas kenapa sampai mukul-mukul Kak Elang? Dia salah apa?” Ujung bibir kanan Bima terangkat. “Ngapain tunangan sama dia sih? Kayak nggak ada pilihan lain aja.” Awan yang sudah berdiri menepuk pelan pundak Keina. Gadis yang tadinya kembali berniat bicara itu pun diam. Tatapan nyalang Bima bersirobok dengan ekspresi penuh keingintahuan dari Awan. “Lebih baik gue mati, kata lo? Apa kecelakaan kemaren sebenarnya udah lo rencanain dan gagal?” Bima mencebik. “Orang arogan kayak lo pantes dapat musibah.” Keina kembali bersuara demi membela Awan, tetapi pria itu menenangkannya, mengatakan tidak ada gunanya meladeni orang yang sedang emosi dan meracau. Awan menanyakan bagaimana Keina datang, kemudian mengajaknya pulang bersama. “Masuk mobil dulu, ya,” ajak Awan. Keina menggeleng sambil melirik Bima. “Aku nggak akan masuk sebelum Kakak masuk.” “Kamu ngapain sih, Kei, masih bela dia?” Bima mengambil beberapa langkah, mendekati gadis itu sembari berusaha meraih tangannya. “Ikut gue, ya, please.” Awan menepis tangan Bima. “Dia mungkin udah kayak adek buat lo, tapi tolong diingat dia tunangan gue.” “b******k!” Bima kembali melayangkan tinju. Kali ini, Awan bisa menghindar karena sudah bisa membaca gerakannya. Keina berteriak sekali lagi, tidak terima perlakuan Bima. “Sebenarnya masalah lo apa sih, Mas?” “Masalah gue ya dia karena terus ada di samping lo!” “Ini pilihanku, Mas. Bukan dia yang dekatin aku, tapi memang aku yang mau dekat-dekat Kak Elang!” “Kei …” Keina menampik ketika Bima berusaha meraih tangannya. Gadis itu mundur selangkah, tangannya memberi kode agar Bima tidak mendekat. “Ini udah pernah kita bahas, Mas udah tahu jawabanku dan itu nggak akan berubah.” Bima menatap nanar gadis yang dulu sering bergelayut manja padanya ketika kecil. Gadis mungil yang dulu seenang menempel padanya setiap dia bermain ke rumahnya dan bahagia untuk hal kecil apapun yang dia bawa kini sudah berubah. Dan perubahan itu tentu saja terjadi secara drastis setelah gadis itu mengenal Elang. Bima menahan tangannya yang terkepal untuk tidak lagi terangkat. Tatapan Keina jelas-jelas berkata akan membencinya jika masih terus melanjutkannya. Bima pun berbalik tanpa berkata sepatah kata pun. “Kita pulang, Ko. Minta kosongkan sisa jadwalku,” titah Elang yang langsung bersambut anggukan dari Yoko. Awan membukakan pintu untuk Keina, kemudian menyusulnya masuk. Sementara Yoko sibuk menelepon sebelum memasuki bagian kemudi mobil. Awan hanya diam selama perjalanan menuju apartemen, membuat Keina merasa bersalah. Dia menatap sudut bibir Awan yang sepertinya luka karena Awan sesekali memegangnya atau mencoba merasakan sesuatu di sana. Ketika sampai di apartemen, Awan membuka jas, menyampirkannya di sandaran sofa, lalu mencari kotak PPPK. Keina duduk di sofa tempat Awan barusan menaruh kemeja sambil mengikuti ke mana langkah Awan dengan pandangan. Keina menawarkan diri mengecek luka Awan ketika pria itu duduk di depannya. Gadis itu mengambil kotak yang Awan letakkan di meja lalu mendekat. Dengan saksama, Keina memperhatikan wajah yang tadi dipukul dan mengobati ujung bibir Awan yang terluka. “Ini nggak sakit, Kak?” tanyanya seraya menekan pipi di dekat luka. Ketika Awan menggeleng, Keina berucap, “Sebaiknya dikompres buat jaga-jaga.” Awan menurut. Dia mengambil sebotol air dingin dari kulkas, melapisinya dengan serbet bersih. Ketika sudah kembali duduk, dia menyandarkan tubuh ke sandaran sofa, menekan botol tersebut area yang terasa sakit. Beberapa menit kemudian hening menguasai. Awan memejamkan mata sembari merasakan nyamannya kompres dingin, sedangkan Keina duduk serba salah di sampingnya. “Kak, maaf,” ujar Keina memecah keheningan. Awan membuka mata kemudian menatap Keina. Gadis itu menggigit bibirnya. “Kenapa jadi kamu yang minta maaf?” Awan tersenyum lembut. “Siapa yang mukul, siapa yang minta maaf.” “Aku rasa Mas Bima kayak gitu sama Kakak karena aku.” Awan tidak mengalihkan pandangan. Dia membiarkan waktu kembali terisi keheningan sambil menunggu Keina melanjutkan kalimatnya. “Dulu, waktu awal-awal ktia tunangan, Mas Bima pernah nggak terima. Dia protes kenapa aku mau terima perjodohan kita.” Keina menunduk sesaat, kemudian mengangkat wajah. “Tapi aku udah tegasin kalau aku melanjutkan perjodohan ini karena suka.” Awan tersenyum geli. Gadis yang sedang serba salah di sampingnya itu terlihat lucu, semakin membuatnya menyadari kalau kehadirannya pasti menjadi angin segar bagi Elang yang suka menjaga jarak dengan orang lain. Dari dulu, saudara kembarnya selalu begitu, membatasi diri dari banyak orang. Dia merasa tidak perlu terlalu banyak berhubungan dengan orang lain, berbanding terbalik dengan dirinya yang senang bergaul. “Berhubungan dengan banyak orang itu ribet,” kilah Elang dulu ketika Awan mencoba mengajaknya menemui teman-teman di sekolah. “Nggak seribet itulah, Bro.” “Eh, gue kasi tahu nih, ya. Makin banyak berurusan sama orang, makin banyak orang yang harus lo pikirin. Kemungkinan dikhianati juga makin besar. Gue nggak mau ambil risiko cuma buat senang-senang,” sanggah Elang. “Lagian, lo amat Dita udah cukup baut temen berantem sekaligus nongkrong. Gue nggak butuh banyak orang dalam hidup gue kalau cuma ngerepotin.” Begitulah Elang. Dia yang sejak kecil sudah mengemban tanggung jawab sebagai anak pertama yang juga penerus Wirya selalu membuat Batasan terhadap orang-orang di sekitar. Elang lebih senang duduk diam dan memperhatikan gelagat manusia daripada mengambil bagian dalam pergaulan. “Nanti, pasti bakal datang orang-orang yang bisa gue percaya, Wan. Saat momen itu datang, pasti gue pertahankan.” Awan yakin, gadis yang berada di sebelahnya kini merupakan salah satunya. Jika bukan, Elang tidak akan memberikan ruang seluas ini buat Keina. Sekilas memang tidak nampak karena Elang dikabarkan tidak pernah memulai interaksi antara mereka. Namun, Elang yang selalu menjauhkan diri dari orang lain membiarkan Keina membuka semua pintu untuk lebih mengenalnya. “Aku nggak tahu juga, Kak, kenapa sekarang mas Bima jadi seprotektif itu. Padahal, kami tidak lagi seakrab dulu semenjak kepergian Mas Bimo,” lanjut Keina. Awan tiba-tiba terpikir untuk menggoda gadis itu. “Kamu nggak tahu padahal udah sejelas itu?” Keina menatap Awan dengan pandangan bingung. Dia tidak tahu apa yang begitu jelas di mata tunangannya jika dia tidak melihat apapun. “Bima itu suka sama kamu. Jelas banget kellihatan.” Awan tersenyum jenaka. “Kamu tahu, waktu dia bahas pilihan? Dia berharapnya dia yang jadi pilihan kamu.” Keina tergagap, ingin menjelaskan tetapi kehilangan kata-kata. Akhirnya, hanya kata tidak mungkin yang keluar dari bibir penuhnya. “Nggak mungkin, Kak," ulangnya pelan. "Selama ini Mas Bima tuh, udah kayak abang sendiri. Dia selalu baik dari aku kecil,” pungkas Keina. “Memangnya kalau bareng lama dan jarak umurnya terpaut jauh hanya bisa jadi kayak saudara?” Keina masih berkelit dengan berkata tidak mungkin ada hal seperti itu di antara mereka. Bima sudah mengenalnya sejak dia TK, melihatnya dari ketika dia ingusan dan belum tahu apa-apa tentang dunia apalagi lelaki. “Oh, dulu kamu ingusan,” cetus Awan. “Kak, kenapa fokusnya ke situ sih?” gerutu Keina kesal. “Intinya, Mas Bima kenal aku dari kecil banget, nggak mungkin dia naksir, tahu aku dari sebelum bisa ngerawat diri apalagi flirty-flirty.” “Hmmm, pantesan begini, sekarang udah pandai ngegoda ternyata.” “Kakak!” teriak Keina sebal. Awan tergelak melihat rajukan Keina. Gadis di sebelahnya takjub karena sebelumnya sang tunangan tidak pernah tertawa lebar. Tanpa pikir panjang, gadis itu mengambil ponsel dan merekam video. Awan hanya bisa menggeleng setelah tertawa, sudah mulai terbiasa dengan perangai Keina yang satu itu. “Tapi serius, aku yakin dia suka sama kamu. Kamu memangnya nggak sadar kapan dia mulai kasi perhatian lebih?” Keina menggeleng. Sekali lagi dia menegaskan bahwa dia tidak tahu sama sekali dan tidak memiliki perasaan apapun terhadap Bima. “Pokoknya, Kakak nggak perlu khawatir. Aku Sukanya cuma sama Kakak, Kok.” Tatapan centil dan senyum menggoda menghiasi wajah Keina. Awan tidak menggubris, malah berdiri, melangkah menuju pantri. Dia mengambil dua gelas orange squash dingin dan memberikan satu pada Keina. Gadis itu menerima minuman yang diberikan Awan, meminumnya sembari tersenyum simpul. Dia mengucapkan terima kasih sambil memuji perhatian yang Awan berikan. Keina menatap lama gelas yang diberikan seraya tersenyum untuk kemudian tersadar akan sesuatu. Dia pun menoleh Awan dan melihat gelas milik pria itu sudah tandas. Ini pertama kalinya dia melihat tunangannya meminum sesuatu yang tidak manis seperti yang dia sukai. Keina meneguk minumannya, memastikan jika memang minuman tersebut agak asam, tidak semanis minuman yang biasa Elang minum. Gadis itu lalu mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan, tidak ada yang berubah. Dia menggeleng kecil karena sudah berpikir aneh. namun, setelah menggeleng matanya bersirobok dengan botol yang tadi Awan gunakan untuk mengompres pipinya. Keina menghabiskan minumannya, lalu bangkit dengan alasan ingin mencuci piring. Ketika Awan menolak, dia bersikeras ke pantri. “Aku taruh di wastafel aja, nggak bakal kucuci, kok.” Setelah menaruh gelas di wastafel, Keina berjalan ke arah kulkas. “Kak, aku mendadak kepengin buah. ada?” tanyanya ketika sudah memegang pintu kulkas. “Ada. Cari aja di kulkas.” Awan memperhatikan Keina yang membongkar isi kulkas, mengeluarkan apel dan anggur. Gadis itu mengupas apel lalu menatanya di piring yang sudah berisi anggur. Seketika, Awan pun tersadar jika keadaan kulkas berbeda jauh dengan pertama kali dia melihatnya. Apakah Keina menyadari sesuatu? Awan menelan liur ketika Keina duduk di sampingnya dengan wajah semringah. Gadis itu menyuapi Awan dengan sepotong apel kemudian ikut memakannya. Awan menanti dengan was-was. Keina memasukkan beberapa potong apel lagi ke mulutnya beserta anggur. Dia mengunyah sembari tersenyum pada Awan. “Ini aku minum ya? Udah selesai dipakai kan?” tunjuknya pada botol minum di meja. Setelah mendapat anggukan dari Awan, Keina membuka dan meminum beberapa teguk. “Kulkas Kakak sekarang penuh, ya,” celetuk Keina setelah mulutnya kosong. Awan tersenyum simpul. Mereka saling tatap beberapa detik, sama-sama menanti respons dari lawan bicara. “Kakak sekarang lebih sering di rumah kayaknya ketimbang di kantor,” tambahnya. “Udah jarang lembur?” “Habis sakit harus banyak istirahat,” dalih Awan. Keina mengangguk-angguk. “Jadi, itu penyebabnya sekarang minum jeruk? Kakak ngurangin makanan manis? Tapi kayaknya nggak mesti segitunya deh.” “Nggak, kok. Aku cuma perbanyak konsumsi buah aja, makanya di kulkas sekarang banyak buah.” Awan mencari-cari alasan yang lebih logis untuk diungkapkan. “Sebagian juga dikirimin Mama,” imbuhnya. “Oh … kirain.” “Kirain apa?” “Kirain selama ini menghindari dari aku. Tiap mau ke sini, selalu dilarang. Alasannya lembur.” Keina mengerucutkan bibir. Apa membiarkannya ke mari keputusan yang salah? Awan mengira selama ini Keina sudah sering ke mari mengingat pertunangan mereka sudah lebih dari setahun. Dia ingin mengetahui sudah berapa kali Keina mendatangi apartemen ini selama menjadi tunangan Elang, tetapi tentu saja akan aneh jika dia bertanya langsung. “Kayaknya, kamu nggak usah lagi ke mari.” Awan menunjukkan ekspresi serius. “Lho, kok gitu?” “Tiap datang ke sini, kamu makin cerewet.” Spontan, Keina menutup mulutnya. Dia lalu mengayunkan tangan yang bebas ke udara, mengisyaratkan bahwa dia tidak akan lagi cerewet. “Ya sudah. Kamu boleh pulang.” “Siapa bilang aku mau pulang?” Kala Awan mendelik, Keina merapatkan bibir. Dia menggigit bibir bagian dalam agar tidak bicara lebih lanjut. “Aku mau istirahat,” cetus Awan kemudian. “Aku habisin buahnya dulu, ya.” Keina beralasan. “Nggak boleh sengaja dilama-lamain.” Bibir Keina maju, rencananya berlama-lama menghabiskan buah terbaca sudah. Dia pun menghabiskan isi piring, lalu pamit pada Awan. Ketika sampai depan pintu, Keina berbalik, membuat Awan kaget. Bibir gadis itu berkedut, kemudian berucap, “Nggak jadi, deh.” Awan mengacak rambut Keina, membuat gadis itu tersipu. Dia pun memainkan tangan, memberi kode agar Awan mendekat. Gadis itu tidak menyerah ketika Awan tidak memberikan respons sesuai kehendak. “Sini, aku mau bisikin sesuatu.” Awan pun mencondongkan badan, mendekatkan telinganya ke wajah Keina. Gadis itu membisikkan kalimat cinta kemudian mengecup pipi Awan. “Terima kasih jamuannya hari ini.” Keina melambai dengan manis sebelum menutup pintu, meninggalkan Awan yang kini menimbun perasaan bersalah terhadap istri yang sedang berada di lain pulau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN