31. Berangkat Bersama

1060 Kata
Setiap orang punya kemampuan, dan kemampuanku hanya mengingatmu tanpa henti. *** Ini pagi hari yang biasa, yang tak akan lagi menjadi hari di mana Lisa sibuk menyiapkan dua kotak bekal, bahkan ketika matahari belum naik ke permukaan. Bukan pagi yang selalu ia lewati dengan berdiri di depan pintu rumah seseorang, sambil membawa bekal, handuk kering beserta botol minum yang sudah disiapkannya dengan sepenuh hati. Dia akan berdiri di sana, menunggu seseorang yang sama, berdiri diam selama setengah jam ke depan hingga sang pemuda menunjukkan batang hidungnya. Ini bukan lagi pagi yang seperti itu. Ini justru pagi hari yang normal. Pagi yang hanya diisi dengan kegiatan orang normal lainnya. Ini pagi hari yang berbeda. Seharusnya memang sudah seperti itu. Setelah pamit dengan sang ayah, Lisa yang menjalani hari-hari yang normal pun berjalan melewati pintu, menuju halaman dan siap keluar dari gerbang rumahnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat Gina Leckner yang sedang sibuk menyirami tanaman di halaman rumah seberang. "Selamat pagi, Tante Gina," sapa Lisa dengan sopan, ia ternyata sudah berdiri di depan pagar rumah Dino sambil tersenyum ramah kepada wanita yang telah membesarkan pemuda itu sampai sekarang. Gina yang baru menyadari ada 'kekasih' sang anak langsung menghentikan aktivitasnya. Ekspresi wanita yang masih cantik meski tak lagi muda itu terlihat bersinar cerah saat melihat Lisa dengan senyuman manisnya, menyapanya dengan lembut. Sampai kapan pun, bahkan setelah apa yang terjadi sejauh ini, Gina tetap mendambakan Lisa menjadi anak perempuannya. "Pagi juga, Lisa-chan. Tidak menunggu Dino dulu?" tanya Gina, sang nyonya keluarga Leckner. Wanita itu membalas senyuman gadis muda kesukaannya. Lisa mendadak canggung, ia tersenyum tak enak di depan Gina. Hubungannya yang tak bisa dipertahankan dengan Dino pasti belum diketahui oleh wanita itu, sebab Lisa tak ingin memberitahu wanita yang baik hati itu, dan berakhir membuat wanita itu kecewa. Sementara si bungsu Leckner tentu tak mau memberitahukan hal itu padanya. Karena sudah pasti, pemuda itu tidak ingin dinasihati oleh sang ibu yang sangat mempedulikan Lisa. "Bukankah Dino-kun sudah berangkat duluan, Tante?" tanya Lisa dengan gugup, kebiasaannya saat berbohong pun keluar. Sang gadis meremas pelan rok sekolahnya dengan canggung. "Ah, dia masih ada di dalam kok, tunggu saja dulu sebentar di sini, Lisa-chan. Kalian berangkat bersama seperti biasa, ya." Gina Leckner tersenyum lembut kepada gadis yang ayahnya merupakan seorang guru di salah satu sekolah dasar. Lisa membeku di tempat, jika dibiarkan berlangsung lebih lama dari ini, dia pasti akan melihat Dino keluar dari rumah dengan ekspresi datar khasnya. Akan susah jadinya jika dia tak kabur dari sekarang. Mungkin Dino pagi itu berencana untuk pergi bersama-sama ke sekolah dengan Rosa, si gadis Manoban, dan jika Lisa ikut dengannya, mungkin saja kebencian Dino terhadapnya akan semakin menjadi-jadi. Lisa sudah cukup bersabar dengan apa yang dia hadapi ini. "A-ah, tapi Dino-kun pasti ada keperluan dan tak bisa berangkat sekarang. A-aku akan berangkat sendiri saja, Tante," tolak Lisa dengan halus, masih mencoba menolak tawaran berbahaya itu. Wanita setengah baya di hadapan gadis itu menggeleng. "Sebentar lagi dia keluar kok. Tunggu sebentar, ya," balas Gina yang bersikeras menahan gadis pemalu itu untuk tetap berada di sana. Lisa tak bisa berkutik, pasti tak lucu baginya tetap dibenci Dino meski mereka berdua sudah tak bersama lagi. Niatnya tentu tak seperti ini, sang gadis pemalu itu hanya ingin hubungannya dengan Dino Leckner kembali seperti sedia kala, ke waktu saat dia masih berteman baik dengan si bungsu Leckner itu, tanpa membuat keduanya harus terikat ke dalam sebuah jalinan asmara secara sepihak. Betapa kerasnya Lisa mencoba bersikap biasa saja di depan sang bungsu Leckner, nyatanya dia tetap saja merasa takut bertingkah seperti dulu, sebelum mereka menjadi sepasang kekasih. Lisa masih ingat, sebelum mereka masuk ke SMP yang sama, betapa mudahnya dia dulu bisa bersikap terbuka di depan Dino, tanpa adanya status yang ternyata malah menjadi halangan bagi mereka berdua untuk terus melanjutkan pertemanan seperti sebelumnya. Ternyata benar, teman yang menjalin hubungan itu hanya akan membuat pertemanan mereka retak setelah keduanya tak lagi bersama. Lisa tak tahu harus bagaimana menyikapinya. Antara dia dan Dino dulu masih bisa berinteraksi dengan nyaman, bertingkah seperti layaknya orang-orang dalam sebuah pertemanan kebanyakan. Menyapa dengan tulus tanpa harus merasa canggung atau tertekan seperti ini. Meski terdengar indah, sebenarnya semua itu hanya berlaku dalam kehidupan Lisa Hogward seorang. Sementara Dino sangat jarang menyapanya lebih dulu. Bahkan tertawa karena sebuah lelucon saja tak pernah. Mereka memang berteman, tapi jurang perasaan dari salah satu pihak membuat jarak di antara keduanya menjadi semakin lebar. Dino muncul beberapa saat kemudian sambil menyampirkan tasnya ke pundak. Padahal saat itu Lisa masih sibuk menyusun kalimat untuk menjadi sebuah alasan dalam menolak ajakan Gina sebelumnya. Namun justru semuanya berantakan, tatkala hanya terbersit kalimat sapaan saat bertemu dengan Dino nanti. "Ah, ini dia orangnya. Kenapa lama sekali? Lisa-chan sudah menunggumu sejak tadi loh, Dino-kun." Gina berkata tiba-tiba, tanpa memberikan aba-aba. Membuat kedua nama yang disebut pun bertemu mata dalam sekejap. Wanita dewasa itu tersenyum kepada sang anak yang langsung memalingkan wajahnya sambil mendengkus kecil. Gina mengelus surai lembut gadis kesayangannya, lalu mengatakan padanya untuk berhati-hati di jalan. Tak lupa juga mengingatkan gadis itu untuk terus mengawasi Dino di sekolah. Lisa langsung gelisah, ia menatap takut-takut pada Dino yang tak sengaja bertemu pandang dengannya. Sayangnya, yang diperhatikan tak menunjukkan ekspresi apa pun selain menatap lurus ke sebelah kirinya. Pemuda berhati dingin itu memilih untuk melihat pohon pisang ketimbang seseorang yang berdiri tak jauh darinya. "Emm, selamat pagi, Dino-kun," sapa Lisa dengan suara pelan. Dia tak berani lagi menatap pemuda itu, sang gadis memilih menundukkan kepalanya. "Hm, pagi," jawab si bungsu Leckner dengan singkat. Pemuda dingin itu melirik sekilas pada sang ibu yang menatap keduanya dengan penuh kelembutan, lalu beralih pada gadis yang baru saja menyapanya, yang kini sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menendang-nendang entah apa di ujung sepatunya. Lisa Hogward, gadis yang menjadi alasan mengapa dia selalu memutar matanya dengan bosan. Pemuda minim ekspresi itu lalu berjalan ke samping rumah dan mengambil sepeda kesayangannya, menuntun sepeda yang selalu dia bawa ke sekolah itu keluar dari pagar dan memiringkan sedikit tubuhnya menghadap Lisa, seolah memberitahu gadis itu bahwa mereka harus segera pergi dari tempat itu. Melalui tatapan mata yang tajam dengan iris warna hitam, Dino mengatakan maksud dan tujuannya, yaitu agar sang gadis segera naik ke kursi belakang dan tak lagi berbicara mengenai hal yang tak penting dengan sang ibu. Dia berusaha untuk mengakhiri kebersamaan mereka, agar bisa menjauh dari sana secepatnya. Toh, mereka tak lagi memiliki hubungan untuk apa terus berpura-pura?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN