29. Sosok Yang Ramah

1065 Kata
Aku berusaha untuk tidak peduli, tapi melihat dirimu yang sekarang, seperti aku yang sedang melihat ke cermin. Cermin yang memantulkan refleksi diriku yang menyedihkan saat memandang orang yang kusayang. *** "Lisa, kenapa kau belum pulang?" Sebuah tangan secara tiba-tiba menepuk bahu Lisa dengan pelan. Arahnya datang dari belakang. "Sudah sore loh ini, bahaya kalau kau pulang terlalu larut," lanjut pemilik suara itu lagi dengan penuh perhatian. Gadis yang bahunya ditepuk pun menoleh, dan mendapati seraut wajah oriental yang sedang tersenyum tipis padanya. Dia merupakan salah seorang anggota klub berkebun. Sama seperti Lisa, tapi lebih dulu bergabung dalam organisasi itu, namany Rio. Karena terlalu sibuk memperhatikan interaksi Sarah dan calon kekasihnya, Dani, Lisa pun tak menyadari keberadaan Rio yang ternyata sudah sejak tadi berjalan beberapa langkah di belakang mereka. "A-ah, i-iya sudah sore, tapi aku masih ingin di sini ... hm ... sebentar lagi," jawab gadis itu dengan suara pelan, setengah berbisik. Untuk kalimat terakhirnya tadi bahkan tidak terdengar jelas, sebab diucapkan dengan sangat pelan. Rio masih mengembangkan senyuman, sama sekali tak terlihat risih dengan cara bicara Lisa yang terbata-bata. Toh, semua orang pernah merasa canggung kepada satu sama lain karena belum berteman akrab. Nanti dia juga akan akrab dengan gadis ini, dan pastilah saat itu Lisa akan berbicara dengan lancar di hadapannya. "Oh, baiklah. Wakatta*, aku juga belum mau pulang sih ini," balas Rio sambil terkekeh kecil. Lalu gening sesaat sebelum akhirnya Rio mengusap tengkuknya perlahan. "Emm, Lisa. Jadi begini ... apa kau ... mau pulang bersama—ku?" Begitu kalimat itu selesai, Rio buru-buru memalingkan muka, hanya memperlihatkan satu sisi wajahnya yang bersemu merah muda. Daun telinga pemuda itu bahkan ikut memerah. Rio berusaha keras menjaga sikap, agar tak terlihat jelas bahwa dia sedang salah tingkah di depan Lisa, sebab sudah berani mengajak gadis itu pulang bersama. Lisa sedikit terkejut mendengar tawaran pemuda itu barusan. Rio mengajaknya pulang bersama-sama? Baru kali ini Lisa diajak pulang oleh laki-laki lain, terlebih lagi dia adalah Rio, teman barunya dari klub berkebun. Seumur hidupnya, Lisa hanya pernah pulang bersama Dino yang waktu itu merupakan kekasihnya, itu pun mereka naik sepeda dengan disertai suasana hati si bungsu Leckner yang kurang baik. "Ah, maaf, sepertinya aku membuatmu tak nyaman, ya?" tukas Rio sembari menepis pikiran tentang Lisa yang setelah ini akan menganggapnya sebagai laki-laki tak baik karena sudah berani mengajaknya pulang bersama, padahal mereka belum sedekat itu. "Maaf, ya, Lisa. Ini bukan ajakan yang aneh-aneh. Tapi sepertinya memang lebih baik jika kita pulang sendiri-sendiri saja." Lisa merasa tak enak, terutama setelah Rio menyelesaikan kalimat yang disusul dengan tawa yang terdengar begitu canggung. Gadis itu buru-buru menggelengkan kepala dan berkata, "Maaf, aku diam bukan berarti aku menolak tawaranmu itu, tapi aku hanya tak ingin merepotkan seorang teman." Lisa mengangkat wajahnya, dan menatap Rio dengan mata bulat yang seperti kelereng m "Bukankah dulu Rio-san pernah bilang kalau rumahmu ada di Palingkau?" "Palingkau 'kan jauh dari sini." Tanpa sadar gadis itu menyatukan jari-jemarinya, sebuah kebiasaan ketika dia tak ingin merepotkan seseorang. Jika bisa dilakukan sendiri, kenapa harus bergantung pada orang lain? Padahal dia masih memiliki kekuatan dan keberanian untuk pulang sendiri ke rumah. Lagipula Basarang adalah tempat teraman dan sangat nyaman, jadi dia tak perlu takut jika ada orang jahat yang mungkin saja akan berbuat sesuatu yang buruk padanya. Lisa lebih mengkhawatirkan cerita seram desa kecil ini ketimbang kriminalitas yang ada di daerah tempat tinggalnya itu. Sayang sekali, padahal semua orang saat ini tahu jika manusia adalah makhluk yang jauh lebih menakutkan daripada makhluk halus jenis apa pun. Itu karena manusia bisa melakukan apa saja, dengan menghalalkan segala cara. Tak peduli itu baik atau buruk. Mereka hanya ingin tahu dengan hasil yang akan diperoleh. "Ah, kau ini." Rio tergelak, hilang sudah kecanggungan yang sempat ia rasakan sebelumnya. "Kupikir kau diam karena takut aku melakukan sesuatu yang aneh setelah menyadari reputasiku yang buruk di sekolah! Ha ha, siapa juga yang keberatan?" "Aku sama sekali tak keberatan mengantarmu pulang ke rumah." Rio tersenyum, memamerkan deretan gigi yang cukup rapi kepada gadis yang menarik perhatiannya. Pemuda itu sedang berusaha mempertahankan sikap santai dan tenang di depan gadis pemalu ini. Keduanya bahkan tak sadar jika sudah tak lagi berada di koridor lantai dua, juga tak menyadari bahwa Sarah dan Dani telah menghilang entah ke mana sejak percakapan di antara mereka dimulai. Lisa tersenyum, sebenarnya dia tak tahu harus menjawab apa, tapi ketika melihat Rio yang sudah kembali tersenyum normal, akhirnya gadis itu tahu harus melakukan apa. "Terima kasih banyak, Rio. Kau ternyata lebih baik daripada rumor yang kudengar." Dengan pipi yang merona, Lisa pun menerima tawaran Rio sebelumnya. "Karena aku belum pernah pulang dengan laki-laki lain selain orang itu ... mungkin aku ... bisa ... ikut denganmu hari ini?" Hening seketika menyelimuti keduanya, seolah sedang larut dalam kecamuk pikiran masing-masing dari dua manusia yang berlainan jenis itu. Rio tergelak dan senang mendengar apa yang baru saja Lisa sampaikan. Setelahnya, dia berterima kasih dan keduanya pun berjalan beriringan sambil berbincang tentang topik yang pastinya menarik perhatian mereka. "Omong-omong, Lisa, apa aku boleh tahu alasanmu masuk ke organisasi yang berurusan dengan tanaman ini?" Rio bertanya tiba-tiba, dan berakhir dengan Lisa yang menatapnya dengan wajah kebingungan. Gadis itu tak tahu harus menjawab apa. Apa sebaiknya dia jujur saja tentang alasan mengapa dia memilih gabung ke sebuah organisasi yang tak banyak peminatnya ini? Apa dia harus mengatakan bahwa dia masuk ke sebuah organisasi hanya karena ingin melupakan seorang lelaki? "Eum, aku ... entahlah. Aku sendiri tak yakin dengan alasanku yang ingin masuk ke sebuah organisasi. Lagipula, sebelum ini tak ada organisasi yang aku ikuti. Jadi mungkin sebenarnya, aku bergabung ke klub berkebun karena aku tertarik saja," jawab Lisa sambil tersenyum canggung. Meski berkata demikian, faktanya Lisa memang tertarik dengan klub yang tak banyak kegiatan ini. Baginya merawat tanaman seperti sayur-sayuran dan juga buah-buahan itu tak mudah, tapi klub ini percaya jika dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang tanaman-tanaman itu akan tumbuh subur dan bahagia. Merasa Rio hanya diam saja membuat Lisa penasaran, apa pemuda itu akan menganggapnya main-main saja di klub ini? Sang gadis pun menoleh dan terkejut saat menemukan Rio yang begitu tenang. Tersenyum sambil menatap wajahnya. "Begitu, ya." Rio mengusap lengannya, seperti ada sesuatu yang mengusik pikiran pemuda itu. "Kau sama sepertiku, bergabung ke organisasi ini karena merasa tertarik dengan kegiatannya, bukan karena ada hal lain." Seketika Lisa merasa malu karena sudah berbohong dengan teman barunya. Ah, andai saja ada lobang, mungkin Lisa akan memilih masuk ke dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN