Luka yang kau berikan terlalu sakit untuk dikenang, tetapi terlalu manis untuk dilupakan begitu saja.
****
"Tadi aku lihat kapten sedang bersama si penggila pink itu. Eng, tunggu, siapa namanya, ya?" Pemuda berambut merah itu diam sejenak, berpikir cepat. "Oh, ya, Rosa! Kapten sedang bersama Rosa tadi," ucapnya sambil memasang ekspresi tak bersalah karena sudah memberitahukan hal menyakitkan.
Mendengar dua nama itu, Lisa seperti diajak berlari estafet sejauh 50 meter, jantungnya berdetak kencang ketika nama gadis yang dikenalnya disebut bersamaan dengan kekasihnya.
"Kau tak pergi? Tak diajak, ya?" Nada suara pemuda itu terdengar menyebalkan. Ya, Lisa tahu itu hanyalah ejekan untuk menghinanya yang dicap sebagai seorang pembantu daripada kekasihnya Dino.
Namun, Lisa lebih memilih diam dan berdiri setelah semua makanannya terkumpul lagi di dalam kantong plastik. Jantungnya sudah berdetak dengan normal. Gadis itu menggeser tubuhnya sedikit ke samping kanan, dan berjongkok, mengambil bola yang ia yakini milik sang pemuda, lalu mengembalikannya tepat ke tangan pemuda itu.
"Bolamu, kan?" tanyanya dengan suara yang terdengar tak bersemangat. "Kalau begitu, aku pulang dulu."
Lisa menahan napas dan berjalan melewati si surai merah jika saja kerah bajunya tak ditarik secara tiba-tiba dari belakang, dan membuat dia langsung tertahan di tempat.
"Hoi, aku sedang bicara denganmu, Gadis Es Krim. Sebaiknya dengarkan dulu apa yang akan lawan bicaramu sampaikan. Kau punya sopan santun, 'kan?"
Lisa tak ingin meladeni pemuda itu, hatinya telanjur pupus oleh kenyataan yang mencampakkannya. Namun, jika dia bersikap tak peduli, mungkin saja pemuda itu akan lebih sering menganggunya. Sambil menoleh malas, Lisa berbicara dengan nada seolah-olah ia sudah lelah dengan dunia yang penuh penipuan ini.
"Aku mendengarkan, tapi memangnya aku harus apa?"
Pertanyaan sederhana dari seorang gadis yang telah dipatahkan sayapnya. Hanya bisa meratapi gadis lain yang lebih beruntung darinya dalam hal memikat seorang pemuda yang dicintainya sejak lama.
Bisa dilihat jika tangan pemuda itu terkepal erat, mungkin jengkel karena melihat Lisa yang berkata seakan ini sama sekali tak penting. "Berhenti sok kuat!" tegasnya tiba-tiba.
Minatnya pada bola yang diserahkan Lisa menjadi berkurang, dia langsung melempar bola itu ke belakang. "Aku tahu kau mencintai Dino! Tapi dengan bodohnya kau berlagak seperti orang yang baik-baik saja. Lihat apa jadinya? Dia bersama gadis lain, gadis yang bukan kau! Sana, cepat kejar dia!"
Lisa tersenyum sedih, pemuda itu masih saja membentaknya.
Pemuda yang tidak Lisa ketahui namanya ini terus saja memberondonginya dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan yang membuat semangat Lisa berkurang.
"Kau sering membuntuti Kapten, kan? Susul dia seperti yang biasa kau lakukan!"
Lisa diam. Pemuda ini, bisiknya dalam hati. Ia merasa geram dengan pemuda yang baru bertemu tiga kali dengannya, tapi seakan tahu semua hal tentangnya dan Dino. Dia tak mengenal si surai merah yang sibuk mengurusi kisah cintanya ini, tapi pemuda itu terlalu mengurusinya.
Semua ini urusan Lisa dan hidupnya. Masalah yang sedang terjadi sama sekali tak boleh dicampuri oleh orang sok tahu yang tak mengenal siapa dia sebenarnya. Lisa tidak mau membalas apa yang pemuda itu sampaikan.
"Jadi, kau sengaja seperti ini? Seolah kau sedang berbuat baik padanya, ya? Kau berusaha melonggarkan ikatanmu yang terlalu kencang pada Dino agar dia sedikit lebih bisa bernapas. Kau tahu? Itu tak akan berhasil, Lisa. Dino jelas memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari kesenangannya sendiri."
Lisa berusaha tersenyum. Pemuda ini sudah terlalu banyak bicara. Dia pun membalasnya dengan tenang, "Aku hanya ingin Dino bahagia. Selama melihatnya bahagia, maka itu sudah cukup untukku, karena aku juga akan ikut bahagia untuknya."
Senyuman Lisa memudar, berganti dengan ekspresi pahit begitu menyadari ucapannya sendiri. Bahagia? Apa setelah melepaskan orang yang disayangi dia akan merasa bahagia? Pemuda di depan Lisa kemudian mengulas senyum mengejek.
"Kata-katamu terdengar seperti ungkapan, 'Asalkan kau bahagia, aku juga akan bahagia'." Pemuda itu berdecak lidah sekali, tangannya sibuk meremas kaos bola berwarna hitam putih yang basah karena keringat. Sepertinya dia sudah lupa dengan bola yang tadi dikejarnya. "Ck, yang kau katakan itu semua omong kosong!"
Lisa tak ingin mengeluarkan sepatah kata pun, tapi dia masih mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan pemuda di depannya.
"Mustahil ada orang yang merasa bahagia saat melihat orang yang dicintainya bersama orang lain yang bukan dirinya."
"Dilihat dari situasi apa pun, pemilik cinta yang bertepuk sebelah tangan itu akan tetap terluka. Mereka akan terpuruk kesedihan dan depresi. Kau tahu? Mereka akan merasa kesal karena seharusnya dialah yang lebih bisa memberi kebahagiaan pada orang yang dicintainya itu. Mereka akan terus menyalahkan diri sendiri, lalu akhirnya ketika rasa bersalah itu membesar, mereka akan menempuh jalan pintas ...."
Pemuda itu menggantungkan kalimatnya, lalu menatap Lisa yang masih sibuk mendengarkan.
"Lalu apa?" Lisa bertanya, tak bisa membendung rasa penasaran yang ia miliki.
Si pemuda angkat bahu. "Ya, mereka akan bunuh diri."
Kalimat terakhir diucapkan sang pemuda dengan seringai andalannya. Senyum miring yang terlihat culas tercetak di wajahnya yang manis untuk seorang laki-laki. Lisa langsung bergidik ngeri ketika mendengar kata bunuh diri. Skenario terburuk melintas di benaknya. Buru-buru Lisa mengenyahkan bayangan mengerikan dari benaknya, dia tidak akan seperti itu. Meski cinta membuatnya gila, dia tak akan membuang nyawanya begitu saja. Itu sumpahnya.
"Aku tahu kau takut. Jadi, kau pilih yang mana? Menyerahkan Dino dan menjadi si bodoh yang berakhir tragis; mati dengan penyesalan di dalam hati, atau tetap berusaha mempertahankan cinta di hatimu meski terasa sakit dan menyiksa?"
Bagai seorang penentu nasib, pemuda itu melayangkan tatapan misterius kepada Lisa.
Gadis yang ditatap hanya bisa diam, sebelum akhirnya menatap kesal pemuda di depannya. Lisa sudah muak mendengar apa yang dilontarkan pemuda itu, tapi dia akan menyimpan seluruh energinya untuk hal lain saja daripada marah-marah tak jelas.
"Kalau kau bisa membahagiakannya dengan tanganmu sendiri, kenapa kau harus meminjam tangan orang lain? Kau mencintainya, 'kan? Kejar cintamu! Jangan jadi orang yang memendam cinta sepihak. Cepat kejar Kapten sana dan jauhkan dia dari si gadis pink itu!" Pemuda itu berseru untuk kesekian kalinya.
Lisa mengembuskan napas panjang, ia lelah menghadapi pemuda ini.
"Aku tak akan menyerah berjuang untuknya," sahut Lisa lirih. "Tapi aku memilih opsi ketiga, mencintainya dalam diam dan melupakannya dalam kesunyian ini, tanpa harus terikat dan terus tersakiti. Aku yakin aku tak akan melakukan hal bodoh hanya karena dicampakkan oleh orang yang aku cintai."
Terdengar helaan napas gusar dari seorang laki-laki. Lisa tahu siapa pemiliknya. "Baru kali ini aku melihat, seorang gadis yang mati-matian mempertahankan hatinya pada pemuda yang jelas-jelas tak mau terikat dengannya. Apa yang sebenarnya kau harapkan, Lisa?"
Terdiam kembali. Lisa masih membiarkan pemuda itu meneruskan ocehannya. Benar-benar pemuda yang plin-plan, ungkap Lisa dalam hati. Sebelumnya pemuda itu berkata seolah Lisa tak pantas dengan Dino, sekarang dia malah meminta Lisa untuk terus bersama pemuda Leckner itu.
"Kau orang teregois yang pernah kutemui, Lisa."
Kata-kata ini ... benar. Terlalu benar sampai rasanya menyesakkan d**a. Lalu, apa yang salah dengannya?
"Jika kau membiarkan pemuda itu pergi, dia akan bersama gadis itu. Mereka akan bahagia dan kau akan terpuruk sendirian, membusuk dengan perasaan yang tak akan pernah terbalas. Kau bertingkah seolah kaulah yang paling menderita, tapi kau yang paling kejam dalam hubungan ini karena kau serahkan hatimu untuk menderita, dan aku tahu kau sadar sepenuhnya tentang itu."
Lisa menarik napas dalam-dalam, tak ada gunanya terpancing dengan perkataan pemuda yang sama sekali tak dikenalnya. Lagipula, pemuda itu berkata seolah tahu segalanya, tak mungkin benar-benar paham terhadap apa yang terjadi di antaranya dan Dino, atau Rosa. Ini lebih rumit dari yang terlihat.
Gadis itu kemudian berbalik pergi, seperti yang seharusnya ia lakukan sejak tadi, tapi kini bajunya tak lagi ditarik untuk dipaksa berhenti. Lisa benar-benar meninggalkan pemuda itu sendirian.
Sementara si pemuda bergumam dengan suara pelan, "Ini akan sulit." Sebuah kalimat yang tidak jelas apa maksudnya.