Malam Pertama?

1036 Kata
Hingga malam tiba, jantungku masih berdegub kencang mengingat permintaan suamiku tadi pagi. Karena ini pertama kalinya bagiku, aku masih grogi dan takut sakit. "Kila makan yang banyak ya." ucap ibunya Dira yang mengambilkanku banyak nasi. Kami makan malam dengan banyak tertawa, ibu mertuaku menceritakan masa lalunya dengan ayah yang banyak hal-hal lucunya. Aku senang ada hari seperti ini, hari di mana aku bisa tertawa bareng suamiku dan keluarganya. Aku merasa senang karena keputusanku agar memberi kesempatan kepada suamiku. Bagiku, manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Tak ada salahnya aku memberi kesempatan suamiku demi kebahagiaan bersama. Selesai makan malam, aku dan Dira masuk ke kamar. Tentu saja Dira ingin menagih haknya seperti yang ia katakan tadi pagi. Aku pergi ke kamar mandi dulu, untuk mempersiapkan mentalku terlebih dahulu. Aku menatap wajahku di cermin besar yang ada di kamar mandi, menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya pelan, kulakukan berulang kali agar detak jantungku dapat terkontrol. Aku bahkan mengecek ketiakku, apakah bau atau tidak. Setelah mengetahui bahwa suamiku sering berhubungan badan dengan wanita lain, tentu saja aku harus ekstra menjaga penampilanku. Jangan sampai aku suamiku tak puas dengan pelayananku di ranjang. Setelah aku puas bercermin, aku ingin buang air kecil sebelum keluar kamar. Deg, aku kaget melihat noda merah di celana dalamku. Ah, rupanya aku datang bulan kali ini. Entah aku harus senang atau sedih karena hal ini. Aku keluar dari kamar mandi dengan gugup, kulihat suamiku sudah bertelanjang d**a dan rebahan di kasur. "Mas.." panggilku ke Dira dengan manja, "Apa?" tanyanya lantang ketika melihatku bersikap manja, sementara selama ini memang aku tak pernah melakukannya. "Aku datang bulan.." kataku pelan, "Apa?!" teriak Dira yang tampak tak percaya dengan ucapanku. "Aku datang bulan, barusan aja keluarnya." lanjutku, kali ini aku mulai berani bicara lantang. "Kamu bohong kan? Pasti cuma nyari-nyari alasan." sahut Dira yang saat ini melangkah menghampiriku. "Aku nggak bohong mas, bener." ucapku meyakinkan Dira. "Arrrgghh." teriak Dira yang kemudian menendang angin, mungkin karena kesal. Aku tahu Dira pasti sudah tidak sabar ingin menagih haknya. Namun apa daya ketika aku datanv bulan seperti sekarang. Akhirnya malam ini tak ada namanya malam pertama. Tak ada juga pijatan dari suamiku, mungkin ia kesal. Dira langsung menyibukkan dirinya dengan mengerjakan pekerjaannya di ponselnya. Aku memilih untuk langsung tidur karena memang badanku yang rasanya sangat lelah. *** Pagi ini aku kuliah diantar oleh suamiku, aku manut saja. Semenjak dibelikan mobil, aku sama sekali belum pernah menggunakannya ke kampus. Mobil itupun saat ini masih ada di rumah Dira. "Kamu pulang jam berapa? Biar aku jemput." ucap Dira, akhir-akhir ini Dira memang tampak seperti manusia biasa karena sudah tak membentakku lagi. "Nggak usah mas, nanti aku naik taksi aja ya." ucapku ke Dira agar ia tak perlu menjemputku. "Ya udah, aku pergi dulu." pamit Dira yang mampu membuatku tersenyum senang. Aku bak ABG labil yang baru mengenal cinta, sementara usia sekarang sudah 21 tahun. Aku berharap keharmonisanku dengan Dira kali ini akan bertahan lala, selamanya kalau perlu. "Itu suami mbak Kila?" suara pria yang tiba-tiba mengakhiri lamunanku, Soni rupanya. "Ah, iya." jawabku singkat, malu kalau sampai Soni tahu aku sedang kasmaran pada suamiku sendiri. "Udah kerja ya?" lanjut Soni yang masih ingin menginterogasiku. "Iya, dia lebih tua dariku 9 tahun. Sudah sangat dewasa." ucapku membanggakan suamiku tanpa alasan. "Hanya karena udah tua belum berarti dewasa mbak." ucap Soni seperti memberi pukulan berat di dadaku. Aku menyadari kalau sikap Dira selama ini masih jauh dari kata dewasa. "Ah iya juga, aku masuk ke kelas dulu ya." ucapku ke Soni agar segera pergi darinya, entah rasanya malu tanpa alasan. *** Sore ini tak ada yang spesial, suasananya nampak biasa saja. Aku selesai dengan kuliahku, lalu aku segera pulang. Ketika sampai di rumah, aku terkejut karena mobil Dira sudah terparkir di halaman rumah Pak Bima. Serta ada beberapa mobil yang tak kutahu milik siapa itu. Aku terus melangkah masuk ke dalam rumah. Aku melihat ada banyak tamu di rumah, mungkin teman kerjanya Dira. Aku yang masih berdiri di bibir pintu menatap pada setiap wajah yang hadir malam ini. Aku mencari sosok wanita yang tak lain adalah kekasih gelap suamiku. Namun aku tak kunjung menemukannya, mungkin ia tak berani menemui mertuaku. Dira yang melihatku berdiri di  bihir pintu langsung menghampiriku dan menggandengku, membawaku masuk dan memperkenalkanku di hadapan teman-temannya itu. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk demi menghormati para tamu. "Wah, Dira sukanya sama daun muda ini." ledek salah satu temannya, Dira tertawa terbahak-bahak. Setelah ikut duduk beberapa menit, aku pamit ingin mandi terlebih dahulu. Dira masih asik mengobrol dengan mereka, gelak tawa Dira adalah hal baru bagiku kali ini. Ternyata Dira seperti manusia lain yang bisa tertawa ngakak. Aku pergi ke kamarku dan mandi. Keluar dari kamar mandi, Dira sudah duduk di kasur. "Udah pada pulang, mas?" tanyaku ke Dira, ia menangguk lalu tersenyum padaku. Sejuk rasanya melihat suamiku yang selama ini membentakku, kali ini tersenyum hangat kepadaku. Kebahagiaanku terhenti ketika ada telepon masuk ke ponsel suamiku. Ia melihat layar ponselnya lalu memilih keluar kamar untuk mengangkat panggilan telepon yang masuk itu. Aku mulai kesal dan curiga, kenapa Dira harus keluar kamar hanya untuk menerima telepon yang masuk. Aku akhirnya memutuskan untuk keluar kamar dan menuju kamar ayah mertuaku. Sayangnya ayah mertuaku tak ada di kamarnya, aku mencarinya di ruangan lain. Tanpa sengaja aku mendengar obrolan Dira dengan orang yang meneleponnya. "Aku akan temuin kamu besok siang, di hotel X." ucap Dira yang langsung menutup teleponnya. Deg, entah kenapa setelah mendengar kata hotel membuat kakiku melemas. Aku curiga kalau Dira, suamiku masih berhubungan dengan Dista. Jangan sampai Dira selama ini baik padaku hanya agar aku mau hamil anaknya. Setelah itu dia mungkin akan meninggalkanku dan kembali pada Dista. Jantungku berdegub tak terkendali lagi, aku jongkok seketika karena kakiku yang terasa lemas. Aku sangat penasaran dengan siapa suamiku membuat janji bertemu di hotel. Aku akan mengikutinya besok agar tahu apakah ini hanya rasa curigaku atau memang nyata kalau Dira masih berhubungan dengan Dista. Kalau seandainya Dira masih berhubungan dengan Dista, saat itu juga aku akan meminta cerai. Aku tak akan pernah lagi memaafkannya karena sudah mengkhianatiku 2 kali.  Namun untuk sekarang aku akan bersikap biasa agar Dira tak curiga padaku. Aku mengelilingi rumah dan mendapati kedua mertuaku sedang asik mengobrol di dekat kolam renang. "Ibu, ayah, Kila nyari di kamar, pantesan nggak ada. Ternyata asik pacaran di sini, panas tauk bu, yah." kataku meledek kedua mertuaku ini. Aku akhirnya menghabiskan sore yang segera diganti gelap itu dengan bercanda bersama mertuaku. Ayah mertuaku  pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. "Tolong bertahan menghadapi Dira, biarkan ayahnya mati setelah menggendong cucunya kelak." ucap ibunya Dira yang menyentuh hatiku. Bagaimana kalau besok aku memergoki Dira berselingkuh dengan Dista lagi, aku pasti akan meminta cerai padanya. Namun aku berharap semoga Dira tak menduakan aku lagi. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN