Pulang

1484 Kata
"Pulanglah Son, aku nggak mau kamu kena imbasnya lagi. Melihatmu ditampar mas Dira, membuatku merasa bersalah sama kamu. Aku tahu rasanya ditampar olehnya." ucapku pelan, Soni menatapku tajam. "Maksud mbak, mbak pernah ditampar Pak Dira??" tanyanya dengan suara tinggi, aku mengangguk lemah. "Dan mbak masih bertahan sama pernikahan mbak? Kenapa mbak?" teriak Soni lagi, suaranya bahkan semakin meninggi. "Apalagi Son, tentu saja karena uang. Aku cuma gadis miskin dan mas Dira anak dari orang kaya. Keluargaku butuh uang buat biaya operasi adikku." aku mencoba menceritakan kondisi yang sebenarnya pada Soni. Aku bukannya mau membuka aib keluargaku, aku hanya ingin berbagi keluh kesahku ini. Tak ada orang lain lagi yang akan mengerti aku, kecuali Soni. Soni melihat sendiri bagaimana aku melawan Dista dan bagaimana kasarnya watak Dira. Soni menatapku tajam, mungkin ia tak mengira kalau aku menikah dengan Dira karena uang. "Jadi kamu rela dijodohin dengan Pak Dira demi adik kamu, mbak?" tanya Soni, aku mengangguk. "Terus sekarang adik mbak udah jadi dioperasi?" tanya Soni lagi, aku menggeleng lemah. "Aku pasti langsung minta cerai Son kalau adikku udah dioperasi. Kamu pikir kenapa aku bertahan walau sudah tahu kalau suamiku memiliki wanita lain?" sahutku menahan kesal. "Bagaimana kalau mbak hamil?" tanya Soni lagi, aku tersenyum kecil. "Aku masih perawan Son, aku selalu berusaha menolak ajakannya melakukan yang satu itu." akuku, Soni tampak terkejut lagi, entah sudah yang keberapa kalinya ia terkejut hari ini, mendengar semua ceritaku. "Bagaimana kalau Pak Dira memaksa?" tanya Soni lagi, aku terdiam beberapa saat. "Sebenarnya, aku buat perjanjian sama mas Dira kalau aku nggak akan menceraikannya sebelum aku ngasih dia anak." sahutku. "Maksud mbak?" teriak Soni lagi, "Aku udah janji sama mas Dira kalau aku akan memberinya anak sebelum kami bercerai." terangku, Soni mendekatiku lalu memegang kedua lenganku. "Mbak, selagi mbak masih perawan, sebaiknya mbak nggak usah ikutin permainan Pak Dira. Mbak berhak bahagia dengan pria yang sayang dan cinta sama mbak." ucap Soni, aku melepas pegangan tangan Soni, tak nyaman rasanya. Bagaimanapun aku harus menjaga kehormatanku, aku tak ingin hubunganku dengan Soni lanjut menjadi hubungan terlarang. "Maaf mbak, aku nggak bermaksud kurang ajar sama kamu." ucap Soni yang kemudian mundur beberapa langkah. "Ayo kita cari penginapan." ajakku yang ingin segera meninggalkan suasana canggung ini. Soni akhirnya mengajakku mencari penginapan, sampailah kami di sebuah rumah yang sangat sederhana dengan pemandangan yang asri. "Kita nginep di sini ya mbak." ucap Soni ketika ia selesai memarkirkan mobil kami. Soni mengurus segala urusan, aku hanya tinggal terima jadi dan menunggu Soni di teras rumah penginapan ini. "Pengantin baru ya mbak?" tanya wanita yang kira-kira berumur 40an tahun, ia tampak sedang membersihkan rumah penginapan ini. "Ah, bukan, dia bukan suamiku, cuma teman. Kami pesan kamar yang beda kok." ucapku pelan, wanita itu mengangguk beberapa kali. "Ayo mbak, aku anter masuk ke kamar." ajak Soni, hari sudah petang, aku segera menuju kamar untuk menunaikan tugasku sebagai muslim. "Mbak, besok pagi kita pulang ya. Aku cuma pesan untuk semalam aja." ucap Soni yang kini duduk di sampingku, di teras depan. "Kamu pulang sendiri aja Son, aku pulang lusa." ucapku, aku masih ragu harus bertemu dengan Dira dan orang tuanya. "Mbak sekarang cerita sama aku, kenapa mbak lari sekarang?" tanya Soni, aku menatapnya lekat. "Aku tahu kalau mas Dira ternyata menikah dengan Dista, jadi aku ini istri keduanya." jawabku malas, "Bukannya mbak bilang waktu itu kalau wanita itu punya suami?" tanya Soni antusias. "Iya, kata ibu mertuaku mas Dira yang lebih dulu menikah dengan Dista, secara siri. Setelah itu Dista menikah dengan suaminya yang sekarang. Tapi yang sebenarnya terjadi seperti apa, aku juga nggak ngerti." ucapku. "Aku terlalu emosi makanya langsung pergi begitu aja. Aku kecewa karena mertuaku membohongi keluargaku, memanfaatkan kekayaannya." paparku, Soni menjadi pendengar yang baik. "Memang apa yang orang tua Pak Dira katakan sama keluarga mbak?" tanya Soni penasaran. "Mereka meminta aku menikah dengan mas Dira dengan alasan kalau mas Dira sibuk kerja, jadi nggak bisa cari calon istri sendiri. Nyatanya dia malah udah beristri. Tapi entah apa status mereka sekarang kalau si wanitanya udah menikah lagi, poliandri kan nggak boleh di agama kita." jawabku. "Mbak, aku mau tanya, tolong jawab jujur. Sebenernya gimana perasaan mbak sama Pak Dira?" tanya Soni yang tentunya membuatku terkejut, aku sendiri tak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya pada suamiku itu. Aku terdiam, aku menatap langit gelap yang dihiasi oleh cahaya-cahaya bintang malam ini. "Mbak..." panggil Soni, "Aku nggak tahu Son, aku juga bingung sama perasaanku sendiri." ucapku lirih. "Kalau mbak punya perasaan untuk Pak Dira, hentikan saat ini juga mbak. Sebelum mbak Kila terluka lebih dalam dari sekarang." ucap Soni tegas, aku menatapnya lekat. "Dan seandainya kamu masih memiliki perasaan sama aku, hentikan saat ini juga Son. Aku nggak akan bisa membalas perasaanmu. Aku saat ini cuma memanfaatkanmu, kamu tahu pasti itu." ucapku yang tak mau Soni mengharapkan perasaannya padaku terbalas. Soni diam, kami saling membisu, aku yakin sekali Soni masih mengharapkanku, lihat saja, ia tak membantah ucapanku ataupun mengiyakannya. "Son..." panggilku memecah kebisuan kami, "Aku nggak maksa mbak Kila buat balas perasaanku. Perasaanku, biarlah aku yang mengurusnya mbak." ucap Soni. *** Sejak obrolan semalam, aku dan Soni malah saling diam. Kami tidur di kamar yang terpisah, ah iya, aku bahkan tak tidur, semalaman aku memikirkan apa yang Soni katakan. Tentang perasaanku ke Dira yang sebaiknya aku hentikan sekarang juga, namun siapa yang mampu mengendalikan hati? Tak ada, pikirku. "Mbak, ayo pulang. Pak Dira dan orang tuanya pasti sudah menunggu mbak, mencari mbak." ucap Soni dibalik pintu kamarku pagi ini, aku sendiri masih duduk di kasur, dengan banyak beban pikiran. Soni terus mengetuk pintu kamarku, dengan berat hati aku membuka pintu kamar untuknya. "Aku nggak mau pulang, Son. Kamu pulang sendiri aja, aku bawa banyak uang untuk bertahan di sini." ucapku malas, Soni tampak frustrasi dengan keputusanku. "Mbak nggak mau kuliah? Kemarin mbak udah nggak kuliah, gimana kalau kuliahnya ketinggalan mbak?" rayu Soni, aku akhirnya tergoda oleh bujuk rayunya. Perjuanganku agar aku bisa menempuh pendidikan di bangku kuliah tidak mudah. Kalau karena rasa marahku pada Dira dan keluarganya malah membuatku berhenti kuliah, aku pasti akan menyesalinya nanti. Aku akhirnya pulang dengan Soni, pulang ke rumah mertuaku. Aku sudah mempersiapkan mentalku, untuk segala sesuatu yang akan terjadi nanti. "Kamu langsung pergi aja ya, bawa aja mobilnya. Hari ini aku bolos kuliah lagi, kamu kuliah sana. Aku akan telepon kamu nanti." ucapku pada Soni ketika kami sudah sampai di rumah mertuaku. Tanpa banyak kata, Soni pergi, dan aku langsung masuk ke dalam rumah mewah milik mertuaku itu. "Kila.." panggil ibu mertuaku ketika aku sampai di ruabg tamu, beliau sedang duduk di ruang tamu bersama ayah mertuaku. "Dira bilang kamu masih ingin di rumah orang tuamu." ucap ibu lagi, aku menyeringai, ternyata Dira berbohong kepada orang tuanya. "Iya bu, mas Dira kerja?" tanyaku malas, aku bahkan tak mencium tangan kedua mertuaku itu. "Iya, Dira berangkat dari tadi." sahut ibu mertuaku lembut, aku masih tak percaya kalau orang yang kukira baik ternyata tega berbohong demi kebahagiaannya sendiri. "Kila udah makan? Makan dulu ya." sambung Pak Bima, aku tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan kekecewaanku. "Kila udah makan, Kila masuk kamar dulu ya, bu, ayah. Kila nggak enak badan, Kila bolos kuliah lagi hari ini." ucapku yang langsung masuk ke kamar. Aku segera mandi lalu berusaha tidur, aku merasa sangat mengantuk karena semalaman aku terjaga. Suara adzan sholat dzuhur yang berkumandang membangunkanku, ketika aku membuka mata, aku melihat Dira sudah duduk di sofa dan sedang menatap layar ponselku. Aku terkejut, bukankah seharusnya Dira kerja? Kenapa ia pulang jam segini? Kenapa pula ia membuka ponselku? Apa ia mencari tahu sesuatu di ponselku? "Apa yang kamu cari mas?" tanyaku sinis, aku duduk dan menatap suamiku, tajam. "Tidur dimana kamu semalam? Kamu tidur sama Soni?" tanya Dira lantang, "Bukannya kamu bilang aku boleh pacaran sama Soni." ucapku lirih. "Kamu marah karena aku nyimpen foto Dista? Sampai-sampai kamu bermalam dengan pria lain?" tanya Dira, aku mengernyitkan dahi. Ah, Dira pasti mengira aku marah karena aku menyobek fotonya dengan Dista kemarin. Aku terkekeh sesaat, Dira menatapku aneh. "Dasar bod*h!" ucapku sinis, Dira mendekatiku lalu duduk di depanku. Dira menarik jilbabku, ia melihat leherku dan bahkan membuka sebagian bajuku. Aku yakin ia ingin mengecek apakah aku benar-benar menghabiskan malam dengan Soni. Aku tersenyum kecut, tanpa perlawanan, aku membiarkan Dira melakukan apa yang ia inginkan. "Kamu mau tahu kenapa aku pergi?" tanyaku lirih ketika Dira masih sibuk memperhatikanku. "Kenapa?" tanyanya yang kini sudah berhenti menatapku aneh, mata kami saling beradu tatap. "Tanya sama tembok!" ucapku lantang, kali ini aku beranjak, hendak meninggalkan Dira, namun tangannya menarikku kuat sampai aku duduk di atas pangkuannya. "Apa semalam kamu dan Soni melakukannya?" tanya Dira yang sepertinya tak peduli alasanku pergi, ia malah penasaran tentang apa yang aku lakukan bersama Soni. Aku kesal, marah, kecewa, aku mencoba berdiri, tangan Dira malah memelukku erat. "Jawab!" teriak Dira, aku meliriknya kesal. "Mas, kamu bener-bener nggak peduli alasan aku pergi?" teriakku kesal, "Aku akan membun*h Soni kalau dia berani menyentuhmu!" sahut Dira yang sepertinya berpikir aku dan Soni melakukan perbuatan tercela itu. "Cih, kalau kamu mau ngelarang aku, ngatur aku, putusin dulu wanita itu. Ah, tidak, ceraiin dia, aku tahu kamu udah nikahin dia kan?!" teriakku, Dira tampak terkejut, tangannya yang sebelumnya erat memelukku, kali ini terasa longgar seperti ia melepaskannya perlahan. "Kamu.." ucap Dira terbata, "Dari mana kamu tahu itu?" lanjutnya, aku menyeringai, lalu terkekeh, tak percaya. Jadi benar kalau Dira sudah menikahi Dista? Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka? Kenapa mereka tak menikah secara sah di mata negara kalau mereka saling mencintai? Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN