Isi hati Dira

1205 Kata
Dira POV Aku mengantarkan istriku, Kila, pergi ke kampus. Pagi ini aku mengantarnya setelah semalam kami menginap di rumah orang tuanya. Aku dengan terpaksa menikmati semua momenku dengan Kila di rumah yang sangat sederhana itu. Bukan karena aku ingin mengambil hatinya, aku hanya ingin berbuat baik padanya karena selama ini aku sudah kasar padanya. Ucapan Kila sebelum meninggalkanku membuatku terus berpikir tentang perasaanku padanya. Kila benar, aku tak memiliki hak untuk melarangnya dekat dengan pria manapun karena aku sendiri tidak bisa menjadi suami yang baik untuknya. Aku sebenarnya bukan tipe pria br*ngsek, aku tipe pria setia. Bahkan sebelum Kila hadir di hidupku, aku setia pada wanitaku yang statusnya adalah istri pria lain. Aku tahu keputusanku untuk bertahan dengan Dista adalah salah. Dosa yang aku perbuat dengannya tak akan termaafkan. Namun apa yang bisa aku lakukan ketika cintaku ke Dista lebih besar dari rasa penyesalanku. Tapi entah kenapa, sejak Kila hadir di hidupku, aku merasa aku mulai bisa menerimanya. Perlahan. Aku pikir awalnya Kila hanya wanita komersil, namun semakin ke sini aku menyadari kalau kehadirannya membawa perubahan pada hari-hariku. Jika sebelumnya aku bisa 2 sampai 3 kali dalam seminggu, bertemu dan memadu kasih dengan Dista, kali ini tidak. Bahkan beberapa hari ini aku jarang bertemu wanita yang kucintai itu. Aku lebih memilih bersama Kila, dan bahkan aku sangat marah mengetahui kalau Kila pergi dari rumah dengan Soni. Apa aku mulai mencintai wanita yang sudah dibeli orang tuaku itu? Apa aku cemburu? Rasa cemburu seperti tak ada di dalam kamus hidupku. Bagaimana tidak, aku terbiasa melihat Dista bermesraan dengan suaminya. Awalnya aku memang merasa sakit hati, namun seiring dengan berjalannya waktu aku bersikap wajar jika wanita yang aku cintai itu bermesraan dengan suaminya, di depanku. Asalkan aku bisa terus berhubungan dengan Dista, itu sudah cukup. Aku bahkan tak ada niatan untuk menikah lagi, sampai akhirnya ayah dan ibu tahu apa yang aku alami. 'Sayang, siang ini di Shapire Hotel.' isi pesan Dista yang masuk ke ponselku, membuyarkan lamunanku. Aku mendesah pelan, aku ingin sekali melakukan hubungan itu dengan Kila, menikmati setiap inci tubuhnya. Namun saat ini hilang sudah kesempatanku karena Kila sudah mengetahui semua kisahku. Kila mengancam akan meminta cerai jika aku memaksanya. Aku tidak ingin Kila meminta cerai sekarang karena ayah bisa saja drop lagi dan tidak menutup kemungkinan ayah bisa meregangkan nyawa karena syok. *** Aku mengguyur tubuhku dengan air shower di hotel, setelah berkeringat banyak, tentu saja aku baru saja merasakan surga dunia bersama Dista. Kali ini ada yang beda, aku terus-menerus membayangkan tubuh Kila yang aku nikmati. Aku tak tahu kenapa rasanya aku begitu bernafsu menyetubuhi istriku itu. Apa benar kalau aku mulai menyukainya? Kila wanita yang cantik, bahkan tubuhnya yang selalu ia tutupi dengan baju longgar sangatlah seksi. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana bentuk tubuhnya, aku seperti sudah gila. Hanya Kila dan Kila yang saat ini ada di otakku. "Sayang, kenapa sekarang jarang mau kalau aku ajak ketemu?" tanya Dista setelah Dira selesai mandi. "Kamu tahu sendiri kemarin aku sakit, aku akhir-akhir ini capek karena banyak pasien yang komplain tentang dokter Danu itu." jawabku. (Dokter Danu adalah dokter umum yang saat ini membuat rumah sakit di mana Dira kerja menjadi gempar. Pasalnya banyak pasien yang merasa dilecehkan secara seksual oleh dokter Danu.) "Memang si Danu itu perlu dikasih palajaran." ucap Dista, aku menatap ada yang aneh dengan ucapan Dista. Aku merasa ia tak benar-benar marah pada dokter Danu, sementara staf atau dokter wanita di rumah sakit banyak yang kesal dan marah akibat ulah dokter Danu yang suka pegang-pegang bagian sensitif lawan jenisnya. "Kamu pernah diganggu olehnya?" tanyaku, Dista tampak aneh, "Enggak sayang. Kalau dia berani menyentuhku, aku akan minta kamu buat pecat dia." sahut Dista. Aku mengernyitkan dahi, entah dari mana aku bisa berpikir kalau mungkin saja Dista melakukan hubungan intim dengan Danu. Danu memiliki wajah yang cukup tampan, namun terlepas dari itu, Dista adalah wanita dengan nafsu yang tinggi. Oleh sebab itu wanita yang kucintai selama ini tak pernah puas dengan pelayanan suaminya. Dan akulah yang menjadi pemuasnya, cih, aku sadar aku bodoh, namun aku menikmatinya selama ini. *** Ketika jam kerjaku selesai, aku buru-buru pulang ke rumah. Apalagi? Tentu saja aku tidak sabar ingin menemui istriku, Kila. Rasanya aku sudah merindukannya dan ingin bertemu dengannya, walau hanya memandangnya saja. Sejak kepergiannya dengan Soni kemarin, aku jadi tidak ingin melewatkan satu malam pun tanpanya. Sesampainya di rumah, aku tak mendapati Kila, mana mungkin dia belum pulang sementara matahari mulai menyembunyikan eloknya. "Kila belum pulang bu?" tanyaku pada ibu yang sedang menikmati teh dengan ayah. "Belum, apa mungkin dia pulang ke rumah orang tuanya?" jawab ibu, "Coba kamu telepon dia." sambung ayah. Aku kemudian menuju ke kamar, mandi dan berganti pakaian. Bahkan sampai aku selesai mandi, Kila belum juga menampakkan hidungnya. Aku keluar, menunggu kepulangan Kila yang tak pasti itu di dekat gerbang rumah. Baru saja aku berdiri di dekat gerbang, mobil Kila yang dikendarai Soni masuk ke halaman rumah. Kila turun, namun Soni langsung pulang setelah mengangguk padaku beberapa saat. Kila melihatku sinis, matanya tampak sembab, mungkin ia habis menangis. "Kenapa jam segini baru pulang? Dari mana aja? Kamu bilang sore pulangnya?" tanyaku ketika Kila tak menggubrisku dan memilih berjalan meninggalkanku, masuk ke dalam rumah. Kila tetap diam, aku mengikuti langkahnya yang langsung masuk kamar. "Dari mana kamu?" tanyaku lagi ketika kami sudah ada di kamar. "Minum kopi sama Soni." sahutnya datar, Kila lalu pergi ke kamar mandi. Aku langsung saja mengecek ponselnya, entah apa yang aku harapkan dari ponsel istriku ini. Setelah Kila selesai mandi, aku mengajaknya sholat jamaah. Kila POV Selesai mengobrol dengan Soni, aku mengajaknya pulang karena hari mulai gelap. Jalanan yang ramai dan macet membuat perjalananku semakin lama. Aku tiba di depan rumah mertuaku tepat ketika adzan mahgrib berkumandang. Mataku terbelalak melihat Dira yang berdiri tak jauh dari gerbang. "Kamu langsung pulang aja Son." ucapku pada Soni. Ketika aku turun dari mobil, aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan suamiku, Dira. Sebenarnya yang aku rasakan saat ini adalah takut, takut kalau Dira akan memukul Soni. Aku takut bukan karena suka sama Soni, aku cuma tak enak hati kalau melihat Soni dipukul Dira gara-gara aku. Sementara selama ini aku selalu menjual nama Soni di depan Dira demi membuat Dira cemburu. Aku bernafas lega ketika mengetahui Dira hanya diam dan mengikutiku. Ia bahkan tampak khawatir denganku, ia bertanya dengan suara pelan, tak lagi membentakku. Sesampainya di kamar, aku langsung mandi karena adzan sudah berhenti berkumandang. Setelah mandi, aku sholat berjamaah dengan Dira. "Kenapa nyampe malem pulangnya?" tanya Dira pelan, "Macet mas." jawabku singkat. "Lain kali jangan pulang malem-malem begini, ibu sama ayah nungguin kamu." ucap Dira yang membuatku menatapnya lekat. "Ibu sama ayah, atau kamu?" aku mencoba memancing Dira, entah kenapa aku merasa saat ini mulai percaya diri untuk jual mahal kepada suamiku ini. "Semua, ibu, ayah dan aku." aku Dira, aku menyeringai. "Apa kamu mulai mencintaiku mas?" tanyaku lagi, mencoba menggoda Dira yang semakin ke sini semakin baik padaku. "Kalau aku bilang aku mencintaimu, apa kamu mau tidur denganku?" tanya Dira yang membuatku tertegun, rasanya aku seperti kesetrum, aku bingung harus menjawab apa. Dira menatapku lekat, aku hanya diam sambil mengedipkan mata berkali-kali. "Semalem juga aku tidur sama kamu mas, kamu lupa?" jawabku asal, Dira tampak kesal mendengarnya. "Aku serius Kila." ucap Dira lagi, aku semakin ingin keluar dari suasana canggung ini. "Kamu harus bilang kamu mencintaiku. Dan kamu janji akan meninggalkan wanita itu, barulah aku mau melayanimu di ranjang." ucapku tegas. "Bagaimana kalau aku berbohong? Aku bisa saja melakukan apa yang kamu mau, tapi kenyataannya aku masih berhubungan dengan Dista." sahut Dira, "Aku akan pergi mas, dari hidup kamu, selamanya." ucapku santai. "Berbohonglah, asal aku nggak tahu, sampai mati kalau perlu." lanjutku lagi, Dira hanya diam menatapku. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN