01

1128 Kata
Apa kalian tahu arti dari pembawa sial ? Begitulah diriku di cap sejak umur 11 Tahun. Namaku Cahaya Rembulan, di panggil Bulan. Aku berasal dari Keluarga Sederhana. Ayahku hanya seorang Penjual Sayur di sebuah Gerai Toko sederhana yang di bukannya sendiri di depan Rumah kita. Sedangkan Ibuku hanya seorang Ibu Rumah tangga biasa. Aku juga memiliki satu Orang Adik Laki Laki, Namanya Bintang Putra di panggil Putra. Keluarga kami begitu bahagia, hingga Manipulasi itu terjadi. --------------- Rabu, 16 Desember 2000 Jam sudah menujukan Pukul 11.00 Siang. Seperti Biasa Matahari begitu terik. Ayahku sudah membuka dagangannya sejak pukul 5 Pagi. "Ayah, Bulan, Putra! Cepat ke sini!" Teriak Ibuku dari Ruang Tamu. Ayah segera bergegas ke sana setelah memberi kembalian kepada pembelinya. Sedangkan aku dan Putra yang sedang bercanda riang di halaman belakang pun segera ke sana. "Ada apa Bu? Kenapa berteriak begitu keras?" Ibu pun segera memberi sebuah Amplop kepada Ayahku untuk di baca. Lantas, Ayah membacanya begitu teliti. "Anak Anak kalian segera bersiap karena Pukul 12.00 nanti, Kita harus bersiap pergi ke Kota" Aku dan Putra binggung mendengar perintah Ayah. Aku ingin bertanya tetapi Ayah tidak memperbolehkannya. Kami di suruh untuk segera ke Kamar masing masing untuk menyiapkan barang untuk di bawa karena waktu hanya 1 jam sebelum keberangkatan. Setelah Kami berdua pergi ke kamar. Ayah membereskan daganganya dengan cepat, menutup gerai. Ibu menyiapkan keperluaanya sendiri dan juga Ayah. Waktu tinggal 15 menit sebelum Pukul 12.00 Siang. Aku yang telah siap untuk pergi, berjalan ke Ruang Tamu. Tak sengaja ku mendengar pembicaraan Ayah dan Ibu. "Suamiku? Apa ini keputusan yang tepat kita kembali ke sana sekarang? Surat itu memang datang mendadak tetapi kau memutuskan hal ini secara cepat" "Tuan Besar sedang Sakit keras sekarang. Kita perlu datang ke sana. Di Surat itu tertulis bila Tuan Besar ingin bertemu Pewarisnya" Ibu menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban Ayah. "Tetapi, kau tak ingat kalau Nona di Cap Pembawa Sial oleh Keluarganya sendiri. Karena sehari setelah kelahiran Nona dan ingin di bawa pulang ke Rumah, Kedua Orang Tuannya mati di tikam Geng Jalanan saat mereka hendak Pulang dalam perjalanan. Nona yang masih Bayi di cap Pembawa Sial oleh Dua Bibinya. Karena ucapan Dua Bibinya, Nona di berikan kepada kita untuk di bawa pergi dari sana" Ayah memijat pelipisnya mendengarkan perkataan Ibu. Aku yang masih usia 11 Tahun tak mengerti maksud dari Kedua Orang Tua ku ini. Tapi aku tak ingin Ayahku berdebat dengan Ibuku. "Ayah, Ibu, aku sudah siap!" Ayah dan Ibuku tersenyum melihatku. "Adikmu? Mana?" Tanya Ayahku. Tak beberapa lama Putra menyusulku. Kami berempat pun pergi menuju Stasiun Kereta Api untuk berangkat Ke Kota besar. ---------- Perjalanan Naik Kereta Api ke Kota besar membutuhkan waktu 5 Jam. Sekitar Maghrib kami berempat sampai. Ayah memesan sebuah Taksi, kami berempat pun naik ke Taksi tersebut. Tak ada pembicaraan antara Ayah dan Ibu, sedangkan Putra tidur pulas di sebelahku. Di tengah Jalan, Taksi berhenti membuatku kaget. Jendela Taksi di pecahkan begitu keras. Aku melihat dengan mata kepalaku sebelum tak sadarkan diri. Ayahku di pukul dengan keras, Ibu dan Adikku di tikam. Sedangkan Supir Taksi tadi hanya melihat saja tanpa niat membantu sama sekali. Entah beberapa lama aku tak sadarkan diri. Aku terbangun di sebuah Kamar Asing dengan hiasan begitu mewah. "Kau sudah sadar, Pembawa sial!" Kata Kata yang begitu angkuh serta meremehkan yang ku dengar pertama kali saat aku terbangun. "Kau seharusnya bangun, karena Orang yang membesarkan mu telah meninggal" Mendengar hal tersebut, ku paksakan badanku untuk bangun. Ku turuni Anak tangga begitu banyak. Ku terkejut melihat Orang banyak berkumpul. Orang Orang yang begitu amat asing. Mereka memandang Tiga Foto besar. Tiga Foto itu adalah Foto Ibuku, Ayahku dan Adikku. Aku pun menangis sejadi jadinya hingga kesadaraan ku hilang. ... Sudah 3 Bulan lamanya, Aku tinggal di sini. Aku mendapat kenyataan tak terduga. Selama ini yang ku anggap Ayah dan Ibuku adalah Sepasang Pembantu setia di Rumah ini. Mereka di beri tugas oleh Tuan Besar di Rumah ini untuk merawatku. Sedangkan Orang Tua Kandungku sendiri sudah meninggal satu hari setelah kelahiran ku. "Nona, Tuan Besar memanggil Anda. Anda di minta ke Ruang kerjanya sekarang" Dengan perasaan lesu ku turunkan badanku dari ranjang. Aku berjalan tanpa hasrat apa pun menuju Ruangan kerja ini. Tuan Besar di Rumah ini itu adalah Kakek ku. "Duduk!" Perintahnya tegas saat ku telah tiba di sana. " Siapa Nama mu?" Rasanya aku ingin tertawa mendengar pertanyaan ini. Begitu tak pedulinya dia pada diriku selama ini. "Cahaya Rembulan, di panggil Bulan" Jawabku datar. Tak ada eksperesi di wajahnya saat ku menjawab pertanyaanya. "Mulai besok kau akan didik untuk menjadi Pewarisku" Apa maksudnya ini ? "Pewaris? Bukankah Anda selama ini membuang saya?" Entah keberanian dari mana ku berani membantahnya. "Aku tak membuang mu hanya menitipkanmu. Apa kau tak di beritahu oleh Orang Tua Angkat mu tentang isi surat yang ku kirim yang meminta kalian ke sini?" Aku mengeleng pelan, karena aku tak membacanya. Pria Paruh Baya yang di sebut Tuan Besar di Rumah ini menegaskan kembali perintahnya tadi dan aku tak boleh membantahnya. Keesokaan hari... Aku memulai pendidikan begitu keras untuk menjadi Pewaris. Fakta yang ku tahui selama belajar serta tinggal di sini. Ayahku satu satunya Putra di Keluarga ini. Serta Aku cucu sah satu satunya di sini. Dua orang Perempuan yang melihatku tajam saat aku sadar setelah Kedua Orang Tua angkat ku meninggal, keduanya hanya Anak punggut di sini. Perempuan yang ku temui saat bangun bernama Desi, ia memiliki Dua orang Putra namanya Alan dan Alex. Suaminya Wakil Direktur di Perusahaan Kakekku kalau gak salah namanya Anton. Perempuan yang ke dua bernama Yanah, ia memiliki satu orang Putra dan satu orang Putri nama mereka Radit dan Nanda. Suaminya memiliki Bisnis sendiri berupa Bengkel Mobil dan Sorum Monil kalau gak salah namanya Danang. Mari kita abaikan mereka. .... Sudah 8 Tahun berlalu... Usia ku sudah menginjak Umur 28 Tahun. Dan ini Hari pertamaku datang ke Perusahaan Kakek ku. Aku berangkat naik Mobil di temani Kakek ku. Tak ada halangan di jalan Tetapi saat kami tiba di parkiran, kami di sambut dengan kepulan asap begitu banyak merusak indra penglihatan. Yang terjadi, Kakeku dan Sopirku mati di depan ku lagi. Selanjutnya Acara pemakaman di adakan lagi. Semua orang menyalahkan ku sebagai Pembawa Sial. Apalagi Kedua Bibi ku. Setelah Acara Pemakaman, kami semua berkumpul di Ruang Tamu. Pengacara pribadi Keluarga ini membacakan Wasiat dari Kakek ku yang berisi Hartanya di berikan pada Kedua Bibiku, sedangkan aku tak dapat apapun. Setelah membacakan hal tersebut, Pengacara pergi. Barang Barang ku langsung di buang dari Rumah. Diriku di seret keluar Rumah. "Sungguh kasihan sekali nasibmu harus menanggung kesalahaan Kakek mu serta Orang Tuamu. Tetapi sebelum pergi akan ku beri tahu sebuah rahasia........" Aku terkejut mendengar rahasia mereka serta rencana mereka selama ini di susun begitu rapi dan bersih. Tapi, Apa dayaku? Aku keluar dari gerbang Rumah ini. TBC.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN