Dilema di Balik Pintu.

1265 Kata

Rumah Arga Maheswara akhirnya hening. Setelah tangis dan pertengkaran panjang, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan di ruang keluarga. Waktu sudah melewati tengah malam. Di dapur, Nayara berdiri diam menatap dua gelas s**u hangat di depannya. Uap tipis naik perlahan dari permukaannya, membawa aroma manis yang seharusnya menenangkan, tapi malam ini terasa hambar di udara. Tangannya bergetar sedikit saat menuang s**u ke dalam dua gelas kecil bergambar karakter kartun. Ia menatap lama pada gelas-gelas itu, lalu tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip luka. Langkah pelan terdengar di belakang. Arga muncul, wajahnya lelah, mata masih merah karena terlalu lama menahan emosi. Ia berhenti di ambang pintu, memperhatikan Nayara dalam diam. “Masih belum tidur?” suaranya pelan, seolah takut

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN