Mencari Ketenangan.

1645 Kata

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai kamar Nayara dengan lembut. Namun, sinar hangat itu sama sekali tidak mampu menembus dingin yang menyelimuti hatinya. Malam sebelumnya masih segar dalam ingatan—suara Arga yang meninggi, tuduhan yang dilemparkan, dan tatapan penuh amarah yang terasa menusuk lebih dalam daripada pisau. Nayara membuka mata dengan berat, lalu mengusap wajahnya. Ia memaksakan diri bangun, karena tahu dua anaknya harus segera bersiap sekolah. Shaila masih terlelap, pipinya kemerahan setelah demam yang baru saja reda beberapa hari lalu. Sementara Dharma sudah bangun lebih dulu, duduk di meja belajar sambil menggambar dengan pensil warna. “Bunda, aku gambar kita sekeluarga,” kata Dharma polos ketika Nayara menghampirinya. Nayara menatap kertas itu: ada empat sosok yang i

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN