Shanaya berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, tapi senyum tipis terpasang. Rambutnya terurai rapi, tubuhnya dibalut gaun kerja sederhana yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Tatapannya lurus pada Arga, ada campuran percaya diri sekaligus gugup di dalamnya. Ada senyum samar di bibirnya, senyum yang entah kenapa membuat d**a Arga serasa diremas. “Pagi, Arga ....” Suaranya lembut, hampir berbisik. Arga tertegun, matanya membesar. Sejenak ia terdiam, tak mampu merespons. Campuran rasa lega dan panik mengalir sekaligus. Lega karena wanita itu akhirnya muncul setelah menghilang tanpa kabar. Panik karena ia tahu, munculnya Shanaya bisa jadi bencana—terutama jika ada yang melihat mereka berdua. Seluruh darahnya seperti berhenti mengalir. Untuk sesaat, ia tidak bisa berkata apa-apa. “Shanaya ….

