Suasana rumah malam itu terasa berbeda. Hening, tapi bukan hening yang menenangkan. Ada ketegangan tipis yang bergulir di udara, menempel pada dinding-dinding rumah bak aroma samar yang sulit dijelaskan. Televisi di ruang keluarga menyala dengan suara rendah, menampilkan berita ekonomi, grafik angka merah dan hijau, analis yang bicara cepat—semua itu hanya menjadi latar, tak seorang pun benar-benar memperhatikannya. Nayara duduk di sofa dengan kaki diselonjorkan, selimut tipis membungkus pahanya. Matanya tidak fokus pada layar televisi, melainkan menatap kosong ke arah meja kayu di depannya. Sebuah cangkir teh sudah dingin sejak setengah jam lalu. Jam dinding berdetak pelan. Tik. Tok. Tik. Tok. Arga baru keluar dari kamar mandi setelah perjalanan pulang yang cukup larut. Rambutnya masi

