Membuang Hadiah.

1055 Kata

Pintu depan berderit, memecah lamunan Nayara. Ia menoleh. Arga baru saja pulang. Wajahnya tampak lelah, dasi longgar menggantung di leher, rambut sedikit acak-acakan seperti habis seharian berperang di kantor. Namun, yang lebih mencolok adalah aura dingin yang ia bawa masuk bersama langkahnya. “Semua baik?” tanyanya singkat sambil melepas jas dan meletakkannya asal di sandaran sofa. Nada suaranya terdengar datar, seolah hanya sekadar basa-basi. Tidak ada hangatnya seorang suami yang rindu rumah. Nayara menahan diri. Bibirnya ingin sekali melontarkan kalimat sinis, tetapi ia memilih menunduk, lalu melangkah masuk ke kamar Shaila. Perlahan ia mengangkat boneka itu dari pelukan putrinya. Gerakannya sangat hati-hati agar Shaila tidak terbangun, tapi jari-jarinya sempat bergetar saat menyentu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN