Undangan yang Membakar.

1036 Kata

Sabtu sore itu, halaman luas rumah keluarga besar Arga berubah menjadi lautan manusia. Tenda putih berhias rangkaian bunga segar berdiri megah, sementara kursi-kursi rotan ditata rapi menghadap panggung kecil tempat alat musik tradisional dimainkan. Suara gamelan mengalun, berpadu dengan aroma sate, gulai, dan kudapan manis yang tersaji di meja panjang berlapis taplak bordir. Gelak tawa para tamu, obrolan hangat antar sanak saudara, dan sorak anak-anak kecil yang berlarian menambah suasana riang. Semua orang berkumpul untuk merayakan ulang tahun ke-70 Ny. Ratih, nenek dari pihak Arga, sosok yang sangat dihormati. Namun bagi Nayara, pesta itu tidak semurni keceriaan. Ada getaran aneh yang bersemayam di dadanya sejak siang. Ia tahu, hari itu bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga ujian

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN