"Katakan, Dea. Apa kamu benar-benar ingin membebaskannya?" Dea meneguk ludahnya. Kedua bola mata wanita itu tampak bergerak ke kanan dan ke kiri, hanya demi menyelami sepercik kemarahan yang terselip di antara pertanyaan Bima. Ditatapnya Bima, yang berdiri berjarak tak seberapa dengannya. Ada rasa lelah di sana. Juga rasa kesal, marah, bercampur aura dingin, yang seketika mampu membuat lutut Dea bergetar. "Bb-Bim ... aku--" "Kamu ingin membebaskannya?" potong Bima. "Bb-bukan maksudku begitu, Bim. Aku hanya--" "Hanya apa?" potong Bima, sekali lagi. Mata Dea terpejam. Ditariknya napasnya, dalam-dalam. Sungguh. Hawa dingin yang menusuk kulitnya malam ini, tak seberapa rasanya, jika dibandingkan dengan dinginnya tatapan mata Bima, yang tampak tengah menyorotnya tajam. Berkali-kali,

