64. Alasan utama

1422 Kata

Napas Dea terasa sesak. Bersamaan dengan rasa sakit yang seketika menerpa batang lehernya, seiring dengan semakin kuatnya Cahyo memberikan tekanan pada bagian sana. Membuat wajah Dea seketika memucat. Pias. "Kk-kakk?!?" Cahyo pun menyeringai. "Kau tahu, aku tidak pernah bermain-main dengan perkataanku, Dea!" "Kk-kkk?!?" "Cabut tuntutanmu, atau kubuat kau--" DUGGHHH ...!?! "Argh ...!?!" Cahyo memekik. Melepaskan seketika cekalan kedua tangannya dari bahu dan juga rahang Dea. Beralih dengan memegang belakang kepalanya yang terasa amat sakit, akibat sebuah pukulan benda tumpul yang sama sekali tidak ia duga-duga dari mana datangnya. Pria itu terdengar mengerang singkat. Sebelum kemudian perlahan meluruh dan menjatuhkan diri, disusul dengan matanya yang lantas kemudian tampak terpeja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN