Ciuman kotor

1078 Kata
Dalam kontak mata yang cukup dekat itu, Asih sadar kalau pria di hadapannya, bukanlah orang sembarangan. Pertemuan mereka saat hari lamaran adalah bukti kalau ada sesuatu yang beraroma busuk dan sengaja disembunyikan oleh keluarga sang calon suami. Kenyataannya adalah, Asih menjadi pengantin yang belum pernah bicara langsung dengan lelaki pilihannya. "Siapa?" mata lentik itu melebar, menusuk pandangan mata Jarvis yang semakin tidak sopan. Wajah itu tidak seharusnya dimiliki orang dengan etika rendah. Tingkahnya sangat bertolak belakang dengan paras juga tubuhnya yang menjulang. Bagi Asih, Jarvis persis seperti domba bersih berhati serigala. Jarvis tertawa sedikit, sadar kalau Asih tak lebih dari mawar berduri tajam. Gadis itu hanya pribadi lemah yang pura-pura kuat. Jarvis pikir, satu-satunya kemungkinan Asih mau menerima pernikahan itu adalah karena uang. Dengan memiliki suami cacat, celah untuk menguasai hartapun semakin besar. Sifat materialistis adalah sikap paling menjijikkan di mata Jarvis. Ia sudah sering menemuinya di mata puluhan perempuan dan muak sendiri. "Siapa?" Asih kembali melontarkan pertanyaan serupa. Ia tidak tahan dengan situasi membingungkan itu. Orang asing, harusnya tidak diperbolehkan masuk ke tempat persiapan pengantin orang lain. Jarvis menelan emosinya, darahnya tanpa alasan mendidih marah. Asih adalah pilihan terkonyol dari semua hal dalam hidupnya. Ya, sandiwara yang ia susun untuk menghindari pernikahan, malah menjebaknya ke hubungan tidak masuk akal. Asih ingin bertanya lagi, tapi seseorang lebih dulu menghampiri mereka. Itu adalah penata busana pihak mempelai pria. Terlihat gestur tubuhnya begitu sopan dan penuh hormat. Tapi bukan itu yang membuat Asih terkejut, tapi kalimat dari si laki-laki, bagaikan bom yang dilempar ke tempat sunyi. "Tuan Jarvis, bagaimana pendapat Anda dengan pilihan model lain?" laki-laki itu tersenyum cerah, mengabaikan situasi tegang di depan mata. Mendengar namanya disebut, Jarvis langsung menyeringai kecil. Ia tidak perlu repot-repot memperkenalkan dirinya lagi sekarang. Jarvis tidak menyangka kalau perubahan wajah Asih begitu menyenangkan untuk dilihat. Gadis itu tidak hanya membeliakkan mata, tapi bibirnya memucat seketika. Andai Asih punya riwayat penyakit jantung, mungkin ada kemungkinan ia mati mendadak. Dadanya sesak, dan hatinya seperti mati rasa. Otak Asih sejenak berhenti berpikir, mencoba mencerna lagi apa yang barusan ia dengar. Tapi belum juga sempat memastikan, tubuhnya sudah lebih dulu ambruk ke belakang. Asih terlalu syok hingga kehilangan keseimbangannya sendiri. Untung Jarvis dengan sigap menangkapnya, menahan tubuh Asih agar tidak jatuh. Tapi sentuhan kecil itu malah semakin merusak suasana. Asih terlanjur sakit hati hingga melayangkan tamparan untuk memuaskan emosi. Bukan hanya Jarvis, semua orang termasuk Mila menatap hal itu tidak percaya. Kenyataan kalau Garry Jarvis bukanlah orang cacat, adalah sebuah kejahatan. Asih merasa ditipu dan tentu saja tidak bisa terima karena pernikahannya dianggap lelucon belaka. Ini adalah pertama kalinya Jarvis diperlakukan kasar. Mungkin tamparan itu tidak terlalu sakit, tapi cukup untuk melukai harga dirinya yang setinggi langit. Jarvis kontan mencengkeram dagu Asih, mendekatkan wajahnya dengan ekspresi sengit. Mata kecoklatan yang harusnya dimiliki malaikat itu, nyatanya adalah milik iblis. Asih sebenarnya ketakutan, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap melotot agar tidak diremehkan. Namun, sikap itu justru memancing Jarvis untuk berbuat lebih buruk lagi. Seperti Asih yang mempermalukannya di hadapan semua orang, ia pun tidak bisa tinggal diam. Tanpa disangka-sangka, Jarvis tiba-tiba menunduk, memberi kecupan kuat pada bibir gadis dalam dekapannya itu. Tubuh kecil milik Asih langsung tegang, terkejut tapi disaat yang sama jantungnya pun berdesir hebat. Bibir Jarvis serasa lembut dan panas, mengalirkan sebuah sensasi memalukan untuk seorang gadis perawan. Asih menggila, mendorong Jarvis sekuat tenaga. Tapi saat ingin memberi tamparan lagi, Jarvis bergerak lebih dulu, menahan lengan gadis itu. Jarvis yakin Asih tidak terlalu sulit untuk dimenangkan. Pipi Asih yang merona seakan bicara kalau ciuman tadi berhasil masuk ke dalam hatinya. Asih tidak terima lalu menendang lutut Jarvis hingga pria itu menjerit sakit. Bahkan seribu tendangan tidak akan cukup untuk membayar ciuman tadi. Mila melotot, mengutuk Asih yang sudah bertindak bodoh. Ia tidak habis pikir kenapa punya calon suami sehat justru tidak disyukuri? "Dengar, aku akan membatalkan pernikahan ini, keluargamu sudah menipuku!" Jarvis tidak mau meladeni omong kosong itu. Baginya, berdebat dengan perempuan hanya buang-buang waktu. Terlebih Asih sedang emosi. "Batalkan saja. Aku bahagia karena tidak harus menikah denganmu." Jarvis mengatakannya dengan begitu mudah. Bahkan ada seringai kecil di sudut bibirnya. Asih terdiam, kehilangan kata-katanya. Semudah itukah Jarvis mengiyakan setelah menciumnya sembarangan? Sikapnya mencerminkan laki-laki b******k jaman sekarang. Sengak, narsis dan sok hebat. Tanpa menunggu lama, Asih kemudian berbalik pergi. Ia tidak tahan untuk segera menyingkir ke ruang ganti. Gaun pernikahan itu harus cepat-cepat ditanggalkan agar ia tidak terkena sial. Jarvis berdecak, menatap gaun yang dipakai Asih dengan tatapan tidak suka. Ia lantas memanggil nama si penata busana yang sempat menyingkir di pojokan. "Gaun itu jelek sekali. Memangnya dia mau ke pantai? Dilubangi bagian punggung?" protes Jarvis menusuk. Rupanya meski menantang untuk membatalkan pernikahan, ia yakin kalau Asih tidak akan bisa melakukannya. Saat hari lamaran, sebuah perjanjian dibuat dan disetujui Paman Bagio. Jika salah satu dari mereka mundur, yang meminta pembatalan harus membayar kompensasi uang dalam jumlah besar. "Ah, iya maaf. Besok saat foto prewedding, saya akan menggantinya dengan yang lain," jawab penata busana itu gugup. Jarvis akhirnya mengangguk lalu pergi dari sana begitu saja. Sosok tingginya hanya menyisakan ribuan tanda tanya di benak Mila. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Asih kemudian meminta Mila untuk secepatnya pergi dari sana. Ia takut kalau tiba-tiba Jarvis mendatanginya lagi seperti tadi. Di sepanjang perjalanan pulang, Asih lebih banyak diam. Ia mengabaikan kehebohan Mila yang mengomentari Garry Jarvis. Bukan hanya tentang pesonanya sebagai seorang blasteran, tapi juga alasan di balik sandiwara semua orang. "Jangan-jangan dia penipu?" gumam Mila asal. Belakangan, marak wanita lajang yang menjadi korban penipuan dengan kedok pernikahan. Asih menggeleng kuat. Ia heran kenapa Mila seenaknya berasumsi seperti itu. "Keluarga Garry adalah salah satu pengusaha batu bara yang berpengaruh di Indonesia. Nyonya Carissa masuk majalah nasional beberapa kali, begitu pula dengan Pak Januar. Mustahil mereka penipu, pasti ada alasan kenapa mereka membuat sandiwara tentang Jarvis." Asih mengepalkan tangannya kuat. Ia menggerutu keras karena tidak mampu mengenyahkan ingatan tentang kejadian tadi. Ciuman itu telah menjadi ingatan buruk, kotor dan mengerikan. "Apapun itu, yakin kamu mau membatalkan pernikahan? Kalau mereka bukan penipu, kamu yang akan rugi. Sudah dapat keluarga kaya, suami sehat dan tampan pula. Kenapa malah marah-marah?" cecar Mila gemas dengan tingkah Asih yang tidak masuk akal. Kalau itu dia, sudah pasti tidak akan menolak. Asih tidak menyahut, menatap ke luar jendela mobil dengan tatapan kosong. Mana mungkin ia bicara jujur tentang niat awalnya menikahi Jarvis? Mila bisa menertawainya habis-habisan. Bahkan takdir seakan mengejeknya sekarang. Alih- alih bisa menghindari urusan ranjang, Asih justru dipertemukan dengan pria kuat yang tatapannya dipenuhi gairah seksual.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN