"Lo yang namanya Gagat?" "Iya kenapa?" Gagat menatap Raksa seksama, Gagat bingung mengapa ada orang yang tahu namanya dan tiba-tiba langsung berbicara seperti itu. Namun dilihatnya pun wajahnya tak asing tetapi Gagat juga belum pernah bertemu. "Sorry, gue Raksa, kembaran Hira. Bisa bicara berdua?" Entah mengapa ketika mendengar nama Hira, Gagat ingin menghindarinya saja. "Maaf, saya ada kegiatan habis ini," "Gue udah pastiin kalau lo nggak ada kegiatan habis ini. Jadi nggak ada alasan buat itu." Gagat menatap tajam bocah bau kencur yang gaya bicaranya mirip sekali dengan ayahnya itu, penuh dengan intimidasi dan keangkuhan. Apalagi gaya bicara Raksa yang cenderung terlalu santai dan kurang sopan untuk ukuran orang yang baru kenal. Dasar anak zaman sekarang. Kemudian Raksa mengikuti Ga

