La

1533 Kata
“Ra? kamu lagi berantem sama Barata ya? kok seminggu ini kamu kayak jaga jarak gitu sama dia?" Tanya Gaby di sela-sela merka makan di kantin. Mereka kini sedang beristirahat di kantin. Tak biasanya kantin ini ramai, mungkin karena yang istirahat hanya kelas 12 saja setelah ada pemadatan yang cukup menguras pikiran. "Berantem? nggak ada." Jawab Hira sekenanya. Memang benar. Dia tak ada masalah dengan Barata. Kemarin ketika bertemu dengan Barata di mall, Barata hanya menatap Hira dan Gagat bergantian dan bertanya seperti ini, "Ini alasanmu nolak Ra?" lantas Hira langsung menggeleng. Namun Barata justru tersenyum kecut dan meninggalkan mereka tanpa sepatah kata. Hal itu membuat Hira menatap bingung Barata. Setelah itu Barata tak menghubungi dirinya seminggu terakhir, tanpa alasan yang jelas. Hal itu juga yang membuat Hira bad mood akhir-akhir ini. "Tapi kamu kelihatan kalau sedang bersitegang sama dia. Barata yang kadang kasih senyuman ke kamu udah jarang sekarang. Kan buat curiga tho." "Halah apaan sih." Elak Hira kembali. Ia malas untuk membahas Barata kali ini. "Ra, bisa kita bicara sebentar?" tiba-tiba Barata datang bersama kawannya. Hal itu membuat Hira yang awalnya berbicara dengan Gaby menjadi terhenti. Netranya menangkap wajah Barata yang nampak serius. "Kalau mau bicara, bicara disini bisa Bar." Ucap Hira. Barata menggeleng, "nggak disini Ra. Kita bicara 4 mata." Hira lantas menghela nafasnya. "Aku mau shalat Bar. Nanti saja." "Sebentar Ra. Aku minta waktumu sebentar." Ucap Barata lagi. Ia tahu Hira menghindari dirinya.  Hira ingin menolak kembali tetapi melihat tatapan serius Barata, membuatnya luluh dan mengikuti Barata. Hira dan Barata akhirnya berjalan menuju tempat yang pas untuk berbicara 4 mata. Pilihan mereka jatuh di bangku yang berada di sudut lapangan basket. Disitu tak banyak yang beraktivitas maupun yang lewat, hanya beberapa orang saja sehingga pas untuk digunakan bicara empat mata. Namun nyatanya mereka terdiam ketika sudah sama-sama duduk di bangku tersebut. Hal itu membuat Hira berdecak dan ingin bangkit saja dari duduknya. Namun langsung saja di cegah oleh Barata. "Maumu apa sih Bar? aku udah turutin dengan ikut sama kamu eh ternyata disini cuma diem-diem." Keluh Hira dengan wajah yang terlihat kurang enak dipandang. "Maaf," "Kamu duduk dulu." "Sebelumnya aku minta maaf udah nuduh kamu sembarangan waktu itu. Aku langsung berspekulasi aneh-aneh ketika kamu jalan dengan laki-laki lain." "Kan itu cuma ajudannya ayahku Bar, dia cuma nemenin aku." Sela Hira dengan nada agak ngegas. "Iya aku minta maaf udah nuduh kamu begitu. Aku terlalu cemburu." "Cemburu? "Begini, kamu belum jadi pacar aku aja udah mudah cemburuan kayak gitu. Apalagi kalau kita udah pacaran semisalnya. Akan jadi toxic relationship Bar. Aku nggak mendahului takdir tapi kalau dilihat awalnya begitu ya endingnya kayak gitu." "Awalnya aku yakin akan menerima kamu, tapi dilihat kayak gini jadi bikin aku mikir dua kali. Sikap kamu kemarin yang asal bilang begitu menurunkan kadar percaya dan empatiku, udah. Kamu berjanji ini itu tapi kamu langgar dan buat aku tambah ragu. Please hubungan pacaran di level kita menurutku bukan untuk main-main. Kita udah mau lulus, kalau kamu pacaran buat gaya hidup atau apa, maaf, aku nggak bisa. Aku butuh orang yang mau berjuang bersama, orang yang mau berbagi suka dan duka. Orang yang mau menerima apa adanya. Dan orang yang mau mendorong satu sama lain. Kalau cuma mau buat ngikut tren aja atau nggak serius, mending skip aja.” Ucapan telak Hira membuat Bara terdiam. Kemudian Hira memilih berlalu dari Barata yang terdiam di tempatnya.    ***** Akhir-akhir ini Hira di sibukkan dengan berbagai les yang menyita waktu luangnya. Sembari juga menunggu pengumuman seleksi nasional yang akan di umumkan lusa. Jika murid lain merasa deg-degan atau apa, beda dengan Hira yang di bawa santai. Gadis itu sudah mengantisipasi dengan mempersiapkan UTBK. SNMPTN ia anggap sebagai bonus  belajar walau tak menampik ia juga berharap bisa masuk di jalur tanpa tes tersebut. Sedangkan Gaby sedari kemarin sudah gusar dengan pengumuman. Gadis itu seperti agak pesimis dengan seleksi tersebut. Ia tak tahu nasibnya nanti, apakah akan masih stay di Indonesia atau ke Belanda. "Semuanya udah ada yang ngatur Gab. Misalnya kamu nggak masuk yang kamu inginkan berarti Tuhan punya rencana lain." Nasihat Hira. Ini juga sebuah kalimat motivasinya semisal tak lolos seleksi. Kemudian Gaby menatap Hira, "terus misal pahit-pahitnya kamu juga nggak masuk gimana? apa kamu menerima Ra?" tanya Gaby kembali. Bukannya Gaby menurunkan semangat Hira namun gadis itu hanya ingin mendengar jawaban jika dilihat dari sudut pandang Hira. "Bismillah aku menerima apapun yang diberikan sama Tuhan. Aku juga bakal memperjuangkan apa yang aku impikan. Semuanya bakal terjadi kalau kita dahulu yang mau berusaha dan berdoa. Hasil di serahkan sama Tuhan." Jawab Hira mantap. Hal itu membuat Gaby tersenyum tipis. "Kamu bener Ra. Aku yang terlalu takut sama kehendakNya. Yang penting kita udah usaha, doa dan saling mendukung. Pokoknya kalau kamu udah jadi orang Jogja, jangan lupain aku ya." Hira mencebik, "dih apaan. Aku masih orang Semarang kok ya." Lantas Gaby tertawa. Bahagia itu sederhana. Obrolan yang semestinya serius bisa jadi bahan candaan yang bisa memecah ketegangan yang ada. Tinggal kitanya saja yang membawa suasana. 'Lusa pengumuman SNMPTN ya? semangat! abang yakin kamu bisa lolos seleksi.' Gagat Sebuah pesan singkat dari w******p membuat Hira tersenyum tipis. Mereka sering bertukar kabar. Selain itu Gagat juga sering memberinya semangat untuk tetap optimis dengan mimpinya. Gagat sudah seperti abangnya sendiri bahkan mungkin Raksa sebagai abang jarang menghubungi Hira karena memang jarang memakai ponsel. Oleh karena itu, Hira seperti menemukan sosok penyemangat baru yang bisa membangkitkan semangatnya yang kadang masih naik turun. "Senyum-senyum mulu Ra. Dapat WA dari siapa? doi?" "Apa sih nggak kok. Cuma pesan dari Bang Gagat. Nggak lebih." Gaby kemudian mendekat dan membaca pesan Hira. "Aduh cie. Awas kesemsem kamu loh Ra. Jangan-jangan kalian lagi pedekate nih." Ucap Gaby penuh selidik. Hira menggeleng sambil tertawa, "apaan sih. Aku nganggap Bang Gagat itu udah kayak abang aku sendiri. Mana mungkin jadian." Gaby mangut-mangut dengan ekspresi tak yakin. "Terus hatimu buat siapa Ra? Barata atau Gagat? jangan sampai bingung milih loh ya." Hanya pelototan gemas yang di lontarkan Hira karena kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Gaby yang ada benarnya juga. Hira sekarang terjebak dalam situasi yang mungkin rumit jika salah melangkah.    ***** No pendaftaran 23578959098 Tanggal lahir  12 / 07 / 2001 Data siswa pendaftar Nomor pendaftaran  23578959098 Nama Siswa               Hira Nirbita Airlangga Hirawan NISN                             0013574990 Asal Sekolah               SMAN 3 Kabupaten/Kota         Semarang Provinsi                        Jawa Tengah Selamat, anda dinyatakan lolos SNMPTN pada PTN : UNIVERSITAS ... Program Studi : GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN Berulang kali Hira membaca pengumuman online yang sudah ia terima sejam lalu. Ia juga berulang kali mengecek web saking tak percayanya. Benarkah ia masuk seleksi tanpa tes? kemudian gadis itu menelepon sang mama untuk sekedar mengecek dari ponsel sang mama namun jawaban yang ia peroleh begini, "Alhamdulillah nak. Kamu lolos seleksi. Selamat ya, mama ikut seneng. Habis ini kabari ayah sama abang. Ya Allah akhirnya mimpimu jadi kenyataan." Begitulah ucapan dari sang mama. Hira tersenyum haru. Ternyata perjuangan selama ini membuahkan hasil. Perjuangan menaklukan tantangan akhirnya terbayar sudah dengan pengumuman tersebut. Bahkan ia tak menyangka bisa menaklukkan universitas se prestisius UGM. Awalnya ia ragu dan hendak mengambil di Semarang saja tetapi akhirnya do'anya terkabul dan ia akan mewujudkan mimpinya. Mimpi bisa berkeliling Indonesia dengan membawa tas carrier dan sepatu gunung perlahan akan terwujud. Keesokan harinya Hira banyak mendapat selamat dari teman-temannya. Termasuk Gaby yang senang melihat sahabatnya itu mampu lolos seleksi walaupun dia tak masuk seleksi. "Kamu tetep semangat ya Gab. UTBK harus kamu takluin." Semangat Hira. Gaby terkekeh, "oh pasti. Gue harus berjuang dulu pokonya dan kamu harus jadi mentor fisikaku!" Hira ikut tertawa kecil, "boleh-boleh. Tapi jangan lupa deplok Semarang loh ya." "Kalau itu siap aku. Kapan ayo kita cari." Kemudian mereka tertawa bersama. Jika mereka berdua sudah bercanda, hal yang tak lucu bagi orang lain akan menjadi receh di mereka. "Eh btw gimana ayahmu?" Hira menghembuskan nafasnya kecil, "awalnya kaget sih aku kasih tahu begitu. Tapi ujungnya ayah seneng juga gara-gara di kasih mantra nggak taulah sama mama.” Ujarnya sambil terkekeh megingat sang mama banyak berjasa dalam hidupnya itu, termasuk menaklukan si ayah yang sudah mirip singa menurut Hira itu. "Syukurlah." Sahut Gaby lega. Ia ikut senang mendapat kabar jika Hira akhirnya direstui oleh ayahnya. "Selamat ya Ra." Hira kaget setelah tiba-tiba Barata datang dan memberikan ucapan selamat. Selalu Barata datang tiba-tiba dan mengagetkannya. Hira tersenyum kikuk karena Barata datang dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Hal itu membuat satu kelas bersorak heboh. Hira menjadi malu sendiri. Ini adalah pertama kalinya ia mendapat bunga dari lawan jenis selain keluarganya. "Ini tanda ucapan selamat. Kamu berhasil menaklukkan apa yang kamu ingin gapai. Semoga sukses kedepannya." Ucap Barata. Hal itu juga membuat teman-temannya kembali bersorak karena dianggap manis. Beberapa celetukan menyuruh mereka jadian saja. Hira ditempatnya salah tingkah. Bagaimana bisa Barata nekat memberinya buket sebagai tanda selamat apalagi di depan teman-temannya? sungguh Barata sudah gila! "Terimakasih Bar." Sahut Hira pelan. Demi apapun hatinya kembali menghangat. Ia terharu dengan tindakan Barata ini. "Oke. Kita sepakat akan membentuk grup buat jadiin kamu mentor Fisika. Gimana? bagi-bagi ilmu ya temen-temen." Ucap Barata dan mereka yang mendengar lantas mengamini perkataan Barata. "Eh tapi jangan lupa deplok semarang." Bukan Hira tapi Gaby yang menjawab. Hira menatap gemas Gaby yang berkata seperti itu. "Wah gampang itu Ra. Kita mah ayo-ayo aja." Sahut salah satu temannya. "Kalau begitu hari ini nanti kita makan geprek ya? Aku yang traktir deh." Ucap Barata yang langsung di sambut riuh satu kelas. Kapan lagi mereka dapat makan gratis bersama satu kelas? Kemudian Barata mendekat dan berbisik, "selamat. Aku ikut seneng. Semoga ini awal yang baik untuk kamu maupun aku." .  .  . 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN