??

Dua cowok remaja itu menatap intens lelaki dewasa di depan mereka. Sesekali mengalihkan pandangannya ke arah Alee, yang keliatan napasnya udah hampir Senin-Kamis gitu. Saking gugupnya.
"Oh, kirain lo di ganggu cowo m***m Lee. Maaf, Pak eh Om," Winky menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Naufal balas dengan senyumnya yang mendadak membuat Alee klepek-klepek...
"Tadi Bunda nanyain lo mulu trus nyuruh kita nyariin. Lo gak pamit ke Bunda? Parah lo," tunjuk Nazrael.
Alee gelagapan,"E-eh bukan gitu. Bilang kok, bundanya aja gak denger."
"Kalo gitu maafin aku ya Lee? Harusnya aku datang ke rumah," sela Naufal.
Terdengar aneh di rungu Nazrael. Dia lebih mempertajam pandangannya. Omnya Alee itu dirasa terlalu intim dengan beraku-kamu sama ponakan.
"Eyy, gak gitu Om..." Alee berusaha tersenyum.
"Oke deh, nanti aku ke rumah. Tapi gak sekarang. Next,"
"Iya, Om. Yaa, jalan-jalannya jadi batal. Maaf ya Om?"
Alee merasa nggak enak, beneran!
Naufal terkekeh dan mengusak rambut Alee.
"Gak apa-apa lagi. Aku kan sayang kamu, Lee. Udah ya, aku balik dulu. Bye..." Naufal berlalu dengan Audi-nya.
Nazrael melotot. Kesal. Tapi nggak bisa marah gitu aja. Bisa berabe dan urusannya panjang.
Si abu metalik itu menghilang di belokan komplek. Alee segera mengarahkan tatapan tajamnya ke dua cowo tadi.
"Jelangkung lo pada!" semburnya.
"Apaan sih, Lee? Sewot amat," balas Nazrael.
"Kalian tuh, gak boleh aja liat gue seneng. 'Napa sih?" sungut Alee.
"Yaelah, orang kita selametin juga, pake nyinyir. Dia itu modus. Siapa yang bisa jamin dia orang baik-baik, huh?" Nazrael memiringkan wajahnya didepan Alee.
Alee cemberut. Tentu saja dia kesal sampe mati rasa. Dia terus menggerutu sepanjang jalan pulang ke rumah.
Dilihatnya sang Bunda yang udah berkacak pinggang di teras. Mampoos!
Kerlingan bundanya sungguh bikin deg-degan. Bikin sport jantung.
"Dari mana?"
"Taman komplek,"
"Ngapain?"
"Ketemu... temen Nda."
"Siapa? Cowo, cewe? Bunda kenal gak? Kenapa gak diajak kesini aja?" cecar Atha.
Alee nunduk. Telinganya emang udah biasa denger cecaran Atha. Udah kebal sih harusnya. Tapi tetep aja, ampuh bikin Alee tobat. Tobat buat dengerin kicauannya. Peace!
"Heh, kalian! Siapa yang Alee temuin? Cowo, cewe? Kek apa tampangnya? Kalian kenal?" Atha udah nyembur dua anak laki yang cengar-cengir.
"G-gak tau, Bun. Dia pergi pas kita udah sampe taman," sahut Nazrael.
Winky ngebuletin matanya heran. Dia menyikut Nazrael.
"Bener, Ky?"
Winky ngangguk, atensi Atha kembali ke gadisnya. Matanya memicing.
"Awas aja kalo kamu berani macem-macem... Bunda kasih tau Ayah," telunjuk lentik Atha mengacung di depan wajah Alee.
"Ayah pasti ijinin, beda sama Bunda." Gerutuan Alee itu tentu aja terdengar Atha.
"Ya bedalah! Ayah suka sesukanya, gak pake mikir panjang. Bunda lain, apa-apa mesti dipikirin dulu kalo pengen gak kenapa-napa."
Alee mengerucut. Bundanya selalu kayak gitu. Nge-bandingin dirinya dengan sang Ayah, yang dikiranya mungkin terlalu manjain anak-anaknya. Alee emang malah lebih deket sama Keanu, ketimbang Atha.
Ayah Nunu lebih enak diajak curhat.
Begitu sanggahnya tiap kali ditanya kenapa dia lebih nempel ke Keanu.
"Cariin adeknya. Bukan bengong aja,"
"Loh? Si Kancil belum pulang? Bukan di rumah lo Wink?" Alee mengalihkan pandangannya ke Winky.
Winky menggeleng.
"Na?"
"Kita tadi pulang bareng kok. Eh tapi gak tau kemana lagi tuh," ujar Nazrael.
"Gak pamit sama Bunda?"
"Gak, makanya cariin deh sana! Sebelum Ayah pulang,"
Alee menggerutu tapi dia nurut juga, sebelumnya tangannya narik Nazrael dan Winky.
"Temenin," tajuknya.
Kedua temannya itu ngembusin napas. Gempor Bunda!
"Makan dulu kek, udah waktunya lunch nih. Masakan bunda kan enak-enak..." Winky mengendus.
*
Winky cemberut. Nazrael dan Alee ngeliatin lalu kompak keduanya ketawa.
"Ngerti lo laper, Wink. Tapi bunda gak bakal kasih piring kalo si kancil belum pulang," cetus Alee.
"Sabar ya, 'nak..." imbuh Nazrael sambil nahan ketawa.
"Kita pada b**o ya, coba telpon si Abang Rexa." Winky ngambil ponsel lalu disodorkan pada Nazrael.
"Loh, ngapa gue?"
"Ihh... lama, sini!" Alee ngerebut ponsel Winky.
"Halo, Aa Rexa ya? Ada si Acil gak di situ? Bunda nyariin nih. Kalo ada suruh pulang, dia belom makan soalnya. Tadi pergi gak bilang," cerocos Alee.
"Alee ya? Lo nanya apa nge-rapp sih?" terdengar kekehan di ujung sana.
"Ups! Sori. Kebiasaan. Ada gak?"
"Acil? Gak ada tuh,"
"Lah, kemana dong tuh anak?"
"Bukannya biasa kongko bareng Nana sama Winky ya?"
"Ini mereka ada disini, tau sendiri kan Bunda gimana..."
Rexa terkekeh. Terbayang raut Alee kalau lagi ghibahin bundanya.
"Tar deh, gue bantu cari. Apa imbalannya? Ada dong, ada jasa ada tagihan Lee..."
"Dih! Hari gini masih aja ya... Mentang-mentang kakel, semena-mena lo!" sungutnya.
Lagi, Rexa terkekeh.
"Lee, ada salam."
"Wa'alaikumussalam,"
"Ehh... asli nih. Salam kangen katanya,"
"Ngetrend ya pake salam-salaman? Kek era nenek gue aja, kirim salam lewat radio, atau kirim surat pake prangko... Sweet sih," Alee ikut terkikik.
"Gak usah pake salam-salaman gitu, kalo gentle, tembak gue!" tantang Alee.
Bercanda sih tapi dadakan di seberang sana Rexa terdiam. Hening. Suasana jadi awkward.
"Ya udah, kalo lo ketemu kancil, anterin pulang."
Pip!
"Lo ngapa sampe merah gitu?" usik Nazrael.
"Eoh? Merah apaan?"
"Wajah lo Bambang!"
Alee meraba pipinya. Merah? Dia mencebik. Nggak tahu, aura apaan tadi waktu nerima ponsel. Rexa dibilangin gitu sama Alee mendadak gagu.
Wah salah minum obat tuh keknya.
Bentar. Alee mendadak lemot. Dia ngejeplak jidatnya.
"b**o!" serunya.
Iyalah, Rexa bisa semaput baru dibilang gitu sama dirinya.
Asbun bener nih congor!
Alee pikir Rexa pasti mikir yang tidak-tidak, dikiranya Rexa beneran kudu nembak dia. Pan berabe! Aduh, mana fans garis keras Rexa sama ngerinya dengan fans Toro atau Duta. Nggak kebayang kalo dirinya sampe di bully abis sama mereka. Tinggal nama kayaknya!
"Ngapain sih, lo Lee?" Nazrael menyikut Alee.
"Gak."
"Ada gak anaknya?"
Alee menggeleng,"Nelpon siapa lagi ya? Si kancil punya temen di luaran gak?"
"Soal itu gue gak tau Lee. Lo tau sendiri kan adek lo kek apaan kalo ketemu yang aneh-aneh. Serba penasaran!" cetus Winky.
"Ya makanya, lo-lo pada ngapain aja sampe kehilangan si kancil? Dia kan kek belut, licin. Susah ditangkep," sahut Alee.
Baru saja mereka mau nyerah, Azril nongol sambil cengengesan bawa bungkusan.
"Heh bocah, lo! Ngapa gak bilang ke Bunda kalo lo pergi? Orang kan jadi kuatir," sergah Alee begitu dilihatnya Azril setor muka.
"Sori kak," sahutnya pendek.
"Abis bantuin tetangga baru kita noh, di ujung jalan sana. Gila! Anaknya kece banget. Kayak Yoona masih ABG," imbuhnya.
"Iya? Demen tuh. Imut-imut crunchy gimanaaa... gitu," sambung Winky.
"Yoona? Udah nuna-nuna gitu," cebik Alee.
"Yey, bolehnya ngiri tuhhh... Dibanding lo, gak kemana-mana Lee." Nazrael makin sengaja menggodanya.
"Dasar, setan belau!"
**
tbc