Sebenarnya Sonya itu sudah sejak kemarin memberitahuku bahwa Pak Kerta mengajak makan siang bersama karena ada yang ingin dibicarakan. Akan tetapi aku memilih untuk menghindar. Apapun itu yang ingin beliau bicarakan, aku merasa itu bukanlah hal yang baik. Itu sebabnya aku memilih untuk makan siang di ruanganku saja. Sayangnya, siapa sangka Pak Kerta akan menghampiriku ke ruanganku.
“Kamu itu sombong sekali ya, Shita. Sok sibuk sekali diajak makan siang.”
Aku mendongak terkejut pada Pak Kerta yang tiba-tiba muncul. Pintu ruanganku seketika ditutup. Kini hanya ada kami berdua.
“Saya masih banyak pekerjaan, Pak.”
Aku berusaha bersikap senormal mungkin meski sudah sangat mencurigai gelagatnya.
Pak Kerta berdiri di depan mejaku.
“Saya perlu bicara dengan kamu,” ucapnya.
“Silahkan, Pak.”
Sepertinya aku sudah tidak mungkin lari.
Pak Kerta menjatuhkan sebuah berkas di depanku.
“Saya sudah pelajari wasiat dari Pak Radja untuk keluarga. Sebenarnya saya tidak tahu harta Papa itu ada berapa banyak. Tapi yang saya heran, persentase kepemilikan saham. Saya sudah hitung berulang kali dengan cermat, Shita. 5% saham papa, masih menjadi misteri diberikan kepada siapa.”
Aku terdiam seketika. 5% saham itu, yang Pak Radja berikan untukku.
Pak Kerta tentu tahu daftar kepemilikan saham yang terdata di perusahaan. Mungkin beliau menjumlah semua saham yang diwariskan sehingga menyadari bahwa ada 5% saham yang tidak terwariskan ke keluarga.
“Saham ini jelas belum diproses jadi saya tidak tahu siapa pemilik barunya. Pengacara dan notaris tidak ada yang mau buka mulut. Kamu tahu kemana saham 5% ini, Shita?”
Aku menggelengkan kepala.
Pak Kerta tiba-tiba menggebrak meja di hadapanku.
“Tidak mungkin kamu tidak tahu, Shita! Papa saya mengatur semuanya pasti dengan bantuan kamu.”
“Saya hanya sekretarisnya, Pak. Saya tidak tahu apapun kalau soal warisan beliau,” ucapku berusaha menutupi kebohonganku.
Pak Kerta kemudian terkekeh.
“Kalau begitu kamu harus cari tahu. Atau papa selama ini ada simpanan? Atau mungkin anak haram?” tebak Pak Kerta.
Aku menatap lelaki itu dan tidak habis pikir. Apa beliau tidak mengenali ayahnya sendiri? Setahuku Pak Radja memang cukup keras selama memimpin perusahaan. Akan tetapi beliau cukup setiap pada mendiang istrinya.
“Atau warisan itu diberikan ke kamu?” tanya Pak Kerta tiba-tiba. Aku jadi berasa ditangkap basah habis mencuri.
Pak Kerta dengan kedua tangannya di atas meja, mulai menundukkan tubuh.
“Apa ada wasiat terpisah yang papa siapkan khusus untuk warisan kamu?”
Aku berusaha memaksakan senyumku.
“Nggak mungkin Pak Radja kasih saya warisan, Pak.”
Disaat seperti ini, aku masih harus pura-pura tidak tahu apapun.
“Who knows. Rumor yang beredar, kamu simpanannya papa.”
Pak Kerta menatapku lekat.
“Kamu juga langsung mengajukan resign kan?” tanya Pak Kerta makin mengintrogasiku.
Aku kemudian tertawa.
“Astaga, Pak. Nggak mungkin saya dapat warisan. Saya bukan siapa-siapa. Justru lebih make sense kalau Pak Radja sengaja menahan 5% saham itu entah untuk siapa di keluarganya. Pak Radja tidak menunjuk penerus saja, sudah aneh kan? Entah apa yang Pak Radja rencanakan sebenarnya,” ucapku asal bicara.
Aku harus mengamankan diri, bukan? Entah akan seperti apa reaksi Pak Kerta jika aku sampai ketahuan.
“Dan apa yang sebenarnya papa rencanakan? Pasti sedikit banyak kamu tahu, kan?” tanya Pak Kerta.
“Saya tidak tahu apa-apa, Pak.”
Pak Kerta terus menatapku penuh selidik.
Telepon ruanganku tiba-tiba berdering. Aku segera mengangkatnya. Ternyata itu adalah panggilan dari ruangan Pak Heru.
“Permisi, Pak. Pak Heru memanggil saya.”
Aku bangkit berdiri.
“Shita. Kalau kamu tahu sesuatu, beritahu saya ya,” pinta Pak Kerta kemudian.
Aku menganggukkan kepala. Tentu saja tidak akan. Beliau berpikir aku akan menurut? Tentu saja tidak.
***
Pukul enam pagi, aku terbangun setelah mendapatkan begitu banyak telepon tak terjawab. Entah siapa yang menelpon. Aku membaca beberapa pesan dan kemudian membulatkan mata. Tubuhku seketika gemetar. Aku langsung bangkit dari tempat tidur. Segera mencari jaket dan memesan ojek online. Pikiranku terasa kosong. Tubuhku gemetar. Aku masih menganggap semuanya seperti mimpi. Aku yakin ini mimpi. Pasti semuanya salah.
Panti asuhan dikabarkan terbakar dan tidak ada yang selamat.
***
Begitu tiba di lokasi panti asuhan, kakiku lemas. Kondisi sudah begitu ramai. Lokasi itu dibatasi garis polisi. Tidak ada yang boleh masuk. Tubuhku mematung.
“Ini kenapa?” tanyaku dengan pandangan kosong. Tempat tinggalku sejak kecil. Tempat aku besar dan dirawat. Hari ini aku saksikan semuanya hancur. Tidak ada yang selamat. Bahkan bangunan pun hancur terbakar semua.
“Ibuu!” pekikku kencang.
Aku hendak masuk kesana namun beberapa orang menahanku. Semuanya seketika gelap.
***
Aku terbangun dan bisa menghirup aroma obat-obatan. Begitu sadar, aku langsung terbangun dan menatap sekeliling. Rumah sakit. Aku di rumah sakit.
“Ibu!” pekikku seketika teringat dengan hal terakhir sebelum aku pingsan.
Aku langsung duduk tegak.
“Shita.”
Suara itu, aku menoleh, ada Airlangga.
“Ibu dimana?” tanyaku.
Lelaki itu langsung memegangiku. Dia terdiam.
“Itu semua mimpi kan? Ibu masih di panti kan?” tanyaku.
Airlangga menggelengkan kepalanya.
“Maaf, Shita. Mereka semua tidak selamat.”
Aku menatap kosong pada Airlangga.
“Nggak mungkin. Nggak mungkin, kan?” tanyaku seraya menggelengkan kepala.
“Nggak mungkin tiba-tiba ada kebakaran di panti asuhan. Nggak mungkin!” pekikku.
Airlangga lantas membawaku ke pelukannya.
Aku menangis menjerit. Tidak mungkin kan? Baru kemarin aku bertemu Bu Eni, berbincang dengan beliau. Lalu semua anak-anak itu. Bahkan bayi yang ada disana. Mereka semua itu, mereka semua pergi begitu saja karena kebakaran itu? Tidak mungkin, kan? Panti asuhan itu punya perlengkapan apar. Astaga. Apa yang sebenarnya terjadi!
Aku memekik sambil menangis sementara Airlangga terus memelukku.
***
Tidak ada yang tersisa. Benar-benar tidak ada.
Entah sudah berapa hari aku berada di rumah sakit karena dirawat. Kondisiku drop parah. Kepalaku terasa kosong. Hanya ada Airlangga yang tidak pernah absen untuk datang.
“Tidak mungkin tiba-tiba kebakaran disana, kan?” tanyaku pada Airlangga.
“Polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran.”
“Apa ini pembunuhan berencana oleh keluarga Dharmawangsa lagi?” tanyaku seraya menatap Airlangga.
Kebakaran sebesar itu, tidak mungkin terjadi begitu saja. Jika pun terjadi di malam hari, bukankah seharusnya lingkungan sekitar segera menyadari? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana api itu melalap mereka yang masih terlelap. Air mataku kembali menetes.
“Saya sudah kerahkan tim untuk mencari tahu soal ini. Ada rekaman dashboard yang menunjukkan seseorang lari keluar dari panti saat kebakaran terjadi.”
Aku lantas menatap Airlangga dan terkekeh.
“Keluarga kamu aneh ya. Apa yang mereka dari membakar panti asuhan,” ucapku.
Airlangga yang awalnya sedang berdiri pun kini terduduk di depanku.
“Saya sedang berusaha mencari pelakunya, Shita. Entah apa motifnya melakukan hal keji begini.”
Aku terdiam dan mulai memikirkan semua anggota keluarga Dharmawangsa. Membidik asumsi mengenai siapa yang paling mungkin melakukan ini dan apa keuntungannya.
Aku menghela napas kemudian memilih untuk memposisikan diri tidur kembali. Aku menatap langit-langit kamar rumah sakit.
Padahal, ada begitu banyak sekali hal yang ingin aku lakukan setelah resign. Salah satunya menghabiskan banyak waktu dengan Bu Eni dan anak-anak panti. Ikut mengurus panti adalah hal yang ingin aku lakukan sampai tua. Mereka, keluargaku. Satu-satunya keluargaku. Dan mereka, sudah tidak ada.
Air mataku menetes begitu saja. Aku rasanya tidak sanggup menjalani semua ini.
“Istirahat ya. Saya tunggu di luar.”
“Butuh berapa lama?” tanyaku kemudian menoleh pada Airlangga.
“Butuh berapa lama untuk menangkap pelakunya?” tanyaku.
“Saya juga berharap bisa secepatnya, Shita.”
Aku menatap Airlangga cukup lama.
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit ini, aku cukup banyak berpikir.
“Kalau kita menikah, kamu bisa bantu saya balas dendam kepada pelakunya?” tanyaku kemudian.
Airlangga pun menatapku.
“Pelakunya harus membalas perbuatan keji itu dengan sangat setimpal, kan?” tanyaku.
Kami berpandangan cukup lama.
Ya, aku sudah memikirkannya. Aku akan hancurkan keluarga ini. Sebagaimana keluargaku dihancurkan. Bukankah sudah jelas pelakunya pasti keluarga Dharmawangsa. Siapa lagi?
“Kamu yakin siap menikah dengan saya?” tanya Airlangga.
Aku mengangguk.
“Kamu tidak bisa mengubah keputusan itu, Shita. Saya tanya sekali lagi. Kamu yakin menikah dengan saya?”
Aku tidak pernah seyakin ini dalam hidup. Lagi pula, bukankah Airlangga sendiri yang bilang bahwa dia akan melindungiku? Dia butuh bantuanku untuk merebut posisi Direktur Utama. Aku butuh bantuannya untuk menguak pelaku penyebab kebakaran itu. Juga aku butuh bantuannya untuk memastikan orang itu kehilangan segalanya yang ia miliki.
“Saya yakin, Arga.”