Hampir sebulan sudah Kalina bekerja sebagai QC di PT. Ritz Global Group ini. Dan di tahun 2018 ini dengan meningkatnya UMK kami dituntut oleh perusahaan untuk meningkatkan kinerja baik secara kulitas maupun kuantitas, bahkan ada beberapa Leader maupun SubLeader harus bersedia dikirim ke Jawa Tengah untuk memperlancar produksi disana. Katanya mereka harus mau demi kelancaran produksi serta tetap eksisnya perusahaan di pusat setelah banyaknya perusahaan- perusahaan yang memilih tutup atau pindah karena UMK yang kian naik.
Dan jangan bicara masalah jodoh? Karena kata semua orang Kalina itu masih kecil dan punya masa depan panjang untuk bisa mengumpulkan uang yang banyak.
" Ingat, jangan pacaran dulu! Kerja cari uang yang banyak untuk bantu orang tua kamu!"
Itu salah satu wejangan orang produsi yang sering melihat Kalina bertengkar dengan sarang Tawon.
Mungkin mereka berpikir, Kalina ini tergila- gila dengan sarang Tawon padahal faktanya dilapangan Sarang Tawon selalu mengganggu Kalina.
“ Kalau tidak bisa tutup stock dengan rapi jangan bekerja!” sentaknya.
“ Maaf mas, salah saya apa ya? Perasaan mas cari masalah terus sama saya?” Amarah Kalina sudah sampai ubun- ubun. Apa hubungannya dengan Kalina, Amar itu maintenance mesin apa urusannya dengan QC. Urusan Amar hanya dengan mesin!
“ Kalau diberi tahu jangan membantah!”
“ Siapa yang membantah, kami menutup stock dengan rapi!” Mata bulat Kalina memincing, berharap jambul Sarang Tawon terbakar habis dan dia jadi botak!
“ Masih kecil belagu.” Ucapnya songong.
Sialan , Kalina hendak melayangkan tinju kewajah tengil Sarang Tawon saat Bu Susi berteriak bahwa hari ini kami harus over time.
“ Cari uang yang banyak buat modal beli make up.” Ucapnya songong.
Astagfirullah!
Dan panasnya matahari pagi kian membakar kulit di pertengahan musim. Tahu sendirikan, posisi matahari di daerah Jawa Barat ini strategis sekali, matahari lebih bersinar terang disini. Kalina sesekali mengelap keringat yang muncul disela- sela rambut yang dia kuncir kuda. Kenapa lampu merah ini terasa lama sekali berjalannya tapi sama sekali tidak bisa mengurai kemacetan yang parah. Sumpah lama-lama Kalina bisa gosong kalau begini. Lampu hijau menyala setelah 53 detik lamanya. Gadis itu segera me-gas motor bebeknya karena raungan klakson dari belakang terus berbunyi.
Mati!
Motor yang Kalina kendarai berhenti mendadak ditengah jalan. Mogok!
“ Hoy, mbak jalan dong!” teriak seseorang yang jauh dibelakang sana. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.
' Bunda ini bagaimana?' gadis itu hampir menangis.
“ Maaf, maaf…” ucap gadis itu bertubi- tubi seraya turun dari atas motor lalu mendorong motor ini ketepi jalan. Seperti sok tahu dia berputar mengelilingi motor itu dan melihat dengan teliti setiap sisi motor yang menurutnya baik- baik saja secara fisik.Tapi berulang kali ia mencoba menstarter, sama sekali tak terdengar bunyi apapun. Bahkan kakiya sudah sangat pegal.
Tapi, apa jangan- jangan Mbak Zaskia menipu Kalina, dia meminjamkan motor rongsokan untuk pada gadis itu supaya Kalina menderita?!
" Awas saja kalau benar!"
Kalina mengamati jalanan yang dia lewati kini.
“ Ini daerah mana?” pikir gadis itu pusing, meskipun dia sering pulang naik angkot, dia sama sekali tak tahu ini daerah mana. Dengan tangan sedikit bergetar, dirogohnya ponsel butut didalam tas miliknya. Gadis itu makin menjerit panik saat jam di ponsel hampir jam 7.35 dan baterai tersisa 3%
Dia segera berdiri, menyingsingkan lengan baju sampai siku, dengan bermodalkan nekat, Gadis itu mendorong motor ke bengkel terdekat yang bahkan jaraknya lebih dari 500 meter! Terpaksa motor butut itu tinggal disana. Dan Kalina makin tidak berdaya karena ponsel si pemilik bengkel yang sama jadulnya dengan miliknya.
Tidak Lucu!
Mana bisa pesan Ojol!
Kenapa disaat-saat seperti ini tak ada satupun angkot yang lewat?! Aku ingin nangis rasanya. Belum genap satu bulan bekerja sudah terancam dipotong gaji!
Tidak bisa!
Kalina harus cari cara!
Banyak kendaraan yang berpotensial untuk dimintai tolong tapi gadis tetap diam ditempat dengan tangan menggenggam tali tasnya.
Naik angkot tidak akan sempat. Apalagi dalam situasi seperti ini!
Hingga diujung sana samar- samar gadis itu bisa melihat motor gede melintas dengan kecepatan tinggi. Reflek segera gadis itu mengangkat ujung jempolnnya tinggi- tinggi kearah motor itu dengan mata tertutup.
“ Tolongin saya!” teriaknya kencang tanpa membuka mata menahan malu. Gadis itu membuka mata perlahan dan saat itulah kedua manik mata mereka bertemu. Matanya yang tajam menatap Kalina dingin.
Sialan!
“ Tolong saya! Motor saya mogok. Disini tidak ada kendaraan yang lewat, baterai saya mati, saya… Saya sudah telat masuk ke tempat kerja.” Ucapan Kalina kini sudah amburadul tak tentu arah karena takut juga gugup.
“ Jadi?” ucapnya singkat dari balik helm fullfacenya. Suaranya yang berat membuatnya makin gugup.
“ Tolong, beri saya tumpangan.” Lemah dan menahan malu dengan kepala menunduk. Sejenak Kalina bisa mendengar helaan nafas panjang keluar dari mulut pria itu.
“ Naik.” Ucapnya singkat. Senyum langsung mengembang digadis itu, tanpa diminta dua kali Kalina langsung naik keatas motor gede itu.
“ Mas, bisa minta tolong lagi?” ucapnya malu. Pria itu menolehkan kepalanya kebelakang, manik matanya yang tajam kembali bertabrakan dengan manik mata bulat itu.
“ Pinjam ponselnya.” Pria itu segera merogoh saku jaketnya dan langsung memberikan ponselnya. Segera dipencetnya nomor Mbak Zaskia dan dalam deringan ketiga langsung diangkat olehnya.
“ Halo selamat pagi, dengan Zaskia disini. Ini siapa, ya?” tanyanya sok manis diseberang sana.
“ Ini Kalina. Motornya mogok.”
“ Mogok?! Bagaimana bisa mogok?!” tanya wanita itu melengking.
“ Mana aku tahu? Pokoknya motornya mogok. Aku sudah kesiangan nih. Oh ya, daerah mana ini ya?”
“ Mas ini daerah mana ya?” Kalina dengan mencolek punggungnya.
“ Daerah Achmad Yani.” Ucapnya singkat. Ok Mas ini sepertinya hemat bicara.
“ Achmad Yani. Pokoknya motornya kutaruh di bengkel kecil dekat sini. Bye Mbak, Aku sudah kesiangan.” Kalina mengakhiri telepon. Mata bulatnya mengamati telepon dalam genggaman. ponsel mahal keluaran terbaru yang gadis itu yakini harganya mencapai 6 bulan gaji, itu ponsel yang ada tiga kamera dibelakang. Dan motor yang dia naiki ini, Kalina juga yakin harganya sama mahalnya dengan mobil yang melintas disini.
“ Sudah?” ucapannya menyadarkan gadis itu dari lamunan.
“ Iya, terima kasih.”.
“ Kemana?”
“ PT. Ritz Global Group.”.
“ Pegangan!” perintahnya mulai menyalakan motornya kembali. Gadis itu menatap takjub pada punggung didepannya ini. Punggung kokoh sekali, lebar dan terlihat sangat nyaman. Entah setan dari mana tangan gadis itu terulur diudara, berusaha membelai punggung indah dalam sentuhan telapak tangannya yang bergetar. Tapi tanpa aba- aba motor langsung melesat kencang membuat gadis itu kaget dan langsung memeluk tubuh pria itu dengan kencang. Gadis itu menyandarkan pipinya diatas jaket kulit yang ia pakai dengan mata terbelalak kaget.
Wangi tubuhnya langsung merasuk kedalam indera penciuman Kalina yang sensitif. Campuran antara aftershave dan parfum mahal menguar dari dalam tubuhnya. Rasa nyaman langsung merasuk dalam diri Kalina. Gadis itu memejamkan matanya menikmati detak jantung yang entah kenapa mulai menggila saat ini. Bahkan sekarang Kalina mulai merasa seperti Kajol dan Shahrukh khan yang syuting film. Bahkan kumpulan kendaraan yang menimbulkan macet ini terlihat seperti kumpulan bunga yang bermekaran. Sedangkan mereka berdua menyanyi diatas motor, mengitari hamparan bunga itu sambil berpelukan mesra. Seulas senyum lebar terpatri di bibir gadis itu.
" Ah bahagianya!" lirih Kalina dengan senyum lebar.
“ Sudah sampai.” Ucapnya sedikit keras, menarik Kalina kembali kealam sadarnya.
“ Hah?! Kenapa cepat sekali?” pikir gadis itu masam.Kalina tadi sempat berpikir perjalanan yang mereka tempuh akan sangat jauh. Gadis itu segera melepaskan belitan tangannya dan turun dari atas motor.
“ Terima ka…” ucapannya terpotong begitu saja karena orang itu sudah berlalu dengan cepatnya. Kalina melongo ditempat.
Kalina berlalu masuk kedalam gedung dengan wajah berhiaskan senyum indah. Alangkah beruntungnya dia. Andai mereka bertemu untuk ketiga kalinya, bisa Kalina pastikan bahwa mereka ini berjodoh!
“ Tapi tadi masnya namanya siapa, ya?” Sumpah kenapa sih Kalina itu terlahir dengan ingatan jauh dibelakang. Kenapa Kalina tadi tidak bertanya siapa namannya?!
Gadis itu menepuk kepalanya keras.
Dasar Bodoh!
*
“ Selamat pagi, Tuan Adam.” Sita berdiri dari posisi duduknya dan menyambut Adam hormat.
“ Pagi. Ah Sita, hubungi Esti, saya perlu data beberapa orang karyawan segera.” Kata Pria itu sebelum masuk kedalam ruangan.
“ Baik, Tuan.”
Seperti biasa, pria itu memulai paginya dengan menghirup segelas kopi hitam buatan Parjo.
Kepulangan Adam dari Jepang kemarin setidaknya bisa membuat pria 33 tahun itu lega, ya apalagi kalau tidak mengenai claim produk mereka.
Sekitar pukul 10.00, pintu kerjanya diketuk dan Esti masuk kedalam dengan membawa berkas yang Adam minta tadi.
“ Ini yang kamu minta.”ucapnya dengan duduk didepan Adam. Pria itu segera mengambil berkas dari wanita itu dan membacanya dengan seksama.
“ Jadi ada berapa untuk bulan ini?” Ini hampir mendekati akhir tahun, akan banyak karyawan yang masa kontraknya berakhir. Sebenarnya masalah seperti ini sama sekali bukan urusan seorang seperti Adam tapi dia sebagai seorang CEO tidak bisa begitu saja memperkerjakan orang tanpa tahu kualitas kerja mereka.
“ Sekitar 40 orang.”
Pria itu menganggukan kepalanya paham. Ada sekitar 20 orang yang masa kerjanya sudah mencapai tiga tahun, mungkin akan dipertimbangkan untuk menaikkan status mereka menjadi pegawai tetap karena pengalaman kerja mereka lebih dipakai disini. Dan untuk dua tahun kebawah dia akan meminta pertimbangan dari Leader mereka mengenai kualitas kerja mereka.
“ Masalah Leader yang akan ke perusahaan outsoursing apakah sudah di handle?”
“ Tenang saja, kemarin Bu Vina ( manager produksi) telah mengkonfirmasi keberangkatan mereka dan masalah akomodasi telah diurus Davi.”
“ Baguslah.”
“ Ya memang harus bagus kalau mereka masih mau melihat wajah tampanmu tidak menjelma jadi Gederuwo.”
“ Bagaimana dengan anak buahmu yang satu itu?”
“ Sesuai dengan perintahmu, dia sadar diri sebelum kamu turun tangan dan memecatnya dengan tidak hormat.”
“ Setidaknya dia sadar diri.”
Parto, salah satu anak buah Esti, tertangkap tangan melakukan pungli untuk perekrutan karyawan baru dan nominal yang dia minta tidak main- main. Rp 5.000.000 setiap orangnya, sedangkan gaji standar untuk karyawan produksi hanya Rp 3.800.000 tahun ini. Demi Tuhan, perusahaan mencari orang yang kompeten, bertanggung jawab, memiliki keretrampilan kerja serta flexible bukan mencari orang yang bisa membayar sebelum bekerja!
Dan untung saja, tikus satu itu segera dibasmi hingga tidak membuat citra perusahaan rusak.
“ Esti.”
“ Apa?”
“ Apa ada pegawai produksi yang punya mata bulat seperti kelereng ah bukan tapi seperti anak kucing?”
“ Hah apa?”
“ Matanya bisa berkedip- kedip seperti anak kucing.”
“ Kamu sakit?”
“ Esti?!”
“ Sorry, lagipula tumben sekali kamu perhatian dengan anak produksi ah lebih tepatnya wanita sampai membawa- bawa anak kucing segala.”
“ Katakan saja!”
“ Ah ya ampun, pria kelebihan hormon ini galak sekali!”
“ Lupakan!”
“ Sebentar. Kurasa tidak ada.” Dia, wanita yang lebih tua dari sang atasan itu berpikir sejenak.
“ Baiklah, sekarang kamu bisa pergi.”
“ Ck tidak ada basa- basi sama sekali.” Esti berdiri dari duduknya.
“ Adam.”
“ Apa?”
“ Akan segera kutemukan Kitten milikmu secepatnya. Sabar saja, Daddy!” Ejeknya sebelum keluar dari ruangan berdominasi warna biru itu.
Sialan, sekali wanita satu itu, sebelas dua belas dengan sepupunya, si Randy!