The Truth

1428 Kata
Anna melangkah mantap saat memasuki gerbang yang begitu tinggi dan juga sangat tertutup. Setelah melalui pemeriksaan yang lumayan ketat, Anna masuk sebagai pengunjung. Saat ini Anna sedang berada di Lapas Cipinang, Jakarta Timur. Karena ia datang sesuai dengan jam besuk tahanan, ruang tunggu pun sempat dipenuhi oleh para pengunjung yang ingin menjenguk keluarganya di tempat ini. Setelah Anna melapor ingin mengunjungi calon client-nya, Anna memilih duduk di pojok ruangan yang masih kosong. Hanya ada dua bangku yang tersisa di sana. Anna membuka kembali berkas-berkas yang diberikan oleh tim pengacara. Calon client-nya itu sudah ditingkatkan statusnya dari tertuduh hingga menjadi terdakwa kasus pembunuhan dengan sengaja. Dan dituntut dengan pasal 338 KUHP yang berbunyi: barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Sebagai barang bukti ditemukan mayat dengan bekas tusukan pisau di d**a sebelah kanan, dan juga pisau yang berada di samping mayat. "Permisi.." Suara bariton laki-laki menyadarkan Anna yang tengah serius membaca file itu. Anna menoleh ke sumber suara. Seketika jantung Anna mencelos dari tempatnya. Detak jantungnya berkali-kali lipat lebih kencang. Matanya terbelalak melihat seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk di hadapannya. Tangan Anna mengepal kuat, hingga buku-buku jarinya sampai memutih. Semua peristiwa masa lalunya berputar memenuhi otaknya. Kenangan-kenangan menyakitkan dengan seenaknya berputar bak kaset rusak. Anna bingung, padahal ia telah mengubur kenangan itu dalam-dalam. Tapi mengapa saat melihat orang itu rasa sakit dihatinya masih ada. Luka itu masih ada dan tetap menganga lebar meski waktu telah berjalan cukup lama. "Ardyansyah..." Anna menggumam nama laki-laki itu. Suaranya begitu lirih hingga tak terdengar oleh siapapun. Anna merutuki dirinya yang merasa bodoh karena tidak memeriksa begitu detil data diri dari calon client-nya. Andai saja ia tahu dari awal bahwa calon client-nya adalah laki-laki ini, maka ia tidak akan pernah menangani kasus ini. "Ke..kenapa ya Nak?" Ardy terlihat bingung melihat wajah Anna yang memendam amarah. Oleh karena itu Ardy bertanya dengan ragu. "Jangan panggil saya dengan sebutan 'Nak'! Saya bukan anak Anda!!" Kepalan tangan Anna semakin erat, menahan segala emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. "Oh iya maaf, Bu. Tadinya saya berpikir Anda terlalu muda untuk jadi seorang pengacara." Sebisa mungkin Ardy mulai mencairkan suasana. "Saya mohon bantuan Anda untuk mengeluarkan saya dari penjara ini, Bu. Saya tidak bersalah." Selesai Ardy mengeluarkan kalimatnya itu, ia mengulurkan tangannya ke depan. Tapi Anna tak membalas uluran tangan itu. "Saya memutuskan untuk tidak menjadi tim kuasa hukum Anda. Saya permisi." Anna segera bangkit dari duduknya, namun segera ditahan oleh Ardy. "Saya mohon Bu, keluarkan saya dari sini. Saya dengar Anda merupakan pengacara muda yang hebat, jadi saya yakin Anda dapat membantu saya." Anna menyeringai. "Saya lebih senang jika Anda membusuk di penjara." Anna berbalik, dia langsung menghapus habis air matanya yang dengan seenaknya jatuh di pipinya. Kemudian ia langsung pergi meninggalkan Lapas. Ardy hanya kebingungan melihat calon pengacaranya yang telah membatalkan untuk membantunya. =Never Let You Go= Sepuluh tahun yang lalu Ulang tahun ke-17 Anna "Happy bithday Anna.." "Happy birthday Anna.." "Happy birthday happy birthday happy birthday Anna..." Anna menggeliat dalam tidurnya. Ia bermimpi kalau Edwin sedang berdiri di samping tempat tidurnya sambil menyanyi Happy birthday to you dan membawakan kue ulang tahun. Anna menarik selimutnya sampai menutup seluruh kepala. "Anna bangun dong.. Woy!" Edwin menarik selimut Anna sampai selimut itu tergeletak di lantai. Anna mengucek matanya. Masih setengah sadar ia bangun dan mendekati Edwin yang ditangannya terdapat kue ulang tahun. Ternyata ini sungguhan, bukan sekedar mimpi. "Make a wish dulu." Anna memejamkan matanya dan berharap dalam hati. Setelah selesai Anna mencondongkan tubuhnya sedikit untuk meniup kue ulang tahunnya. Edwin mengambil sedikit krim yang ada di atas kue kemudian mencolekkannya ke hidung Anna. Anna langsung mengelap habis krim yang ada di hidungnya kemudian mencolekkan kembali ke wajah Edwin. Edwin pun tak mau tinggal diam. Keduanya sama-sama terhanyut mencolekkan krim ke wajah lawannya satu sama lain. "Gue boleh tahu ngga make a wish lo?" Tanya Edwin saat keduanya sudah sama-sama membersihkan wajah masing-masing. Saat ini mereka sedang duduk di kursi ruang tamu. Anna mengangguk. "Gue mau tahu keberadaan Ayah." Jawab Anna dengan senyum yang cerah. Kedua matanya hampir tak terlihat karena tertarik. Edwin gemas melihatnya. "Waaah.. Terima kasih lho nak Edwin sudah repot-repot datang jam 12 malam buat Anna." Marini langsung duduk di kursi yang berseberangan dengan Edwin, tepatnya disebelah Anna. Edwin membalasnya dengan senyum tulus. "Ibu sekarangkan Anna ulang tahun yang ke-17, boleh aku minta sesuatu?" "Apapun itu selagi ibu bisa, akan ibu kasih buat Anna." "Asiiiikkk.." Tangan Anna langsung terulur ke ibunya. Anna mencium pipi ibunya cepat. "Memangnya Anna mau minta apa sih?" "Anna mau ketemu Ayah." Seketika Marini mematung. Ia terdiam kaku di tempatnya. Anna yang menyadari perubahan ibunya itu terlihat bingung. "I..ibu kenapa?" Tanya Anna. Marini menggeleng. "Ann.. Anna cuma mau tahu keberadaan Ayah, Bu. Se.. Selama ini Anna ngga pernah tahu apakah Ayah masih hidup atau sudah meninggal, karena ibu tak pernah memberi tahu Anna. Sekarang Anna sudah dewasa, Anna siap menerima kenyataan. Kalau Ayah masih hidup, Anna ingin tahu di mana Ayah berada. Kalaupun Ayah sudah meninggal, Anna juga mau tahu di mana pusara Ayah." Edwin yang mendengar itu merasa iba kepadanya. =Never Let You Go= "Dia ingin bertemu denganmu." Anna mendengar suara ibunya yang sedang berbicara dengan seseorang di seberang telpon. Anna menyembunyikan tubuhnya di belakang dinding pembatas dapur dengan ruang tamu. "Buat kali ini saja, aku mohon..." "Baiklah.. Terima kasih" Anna menerima sepotong kertas berisikan sebuah alamat. Ibunya bilang kalau itu adalah alamat di mana Ayahnya tinggal sekarang. Anna tersenyum sumringah sampai setengah berloncat karena saking senangnya. Akhirnya ia bisa bertemu dengan Ayahnya. Akhirnya ia bisa menutup mulut teman-temannya yang mencibirnya tidak mempunyai ayah. Sederetan kegiatan bermunculan di kepala Anna. 1. Anna ingin menonton film di bioskop bersama Ayah. 2. Anna ingin berekreasi bersama ibu dan juga ayah 3. Anna ingin setiap hari diantar sekolah oleh Ayah. Dan melakukan berbagai kegiatan lain yang bisa dilakukan bersama dengan sang ayah. Anna ingin menebus masa kecilnya dengan sang ayah. Apa gue bilang, gue punya Ayah. Anna bergegas menuju halte transjakarta. Dia pergi sendiri tanpa meminta bantuan Edwin untuk mengantarnya. Anna tidak mau kalau Edwin mengganggu acara berkangen-kangen ria dengan sang ayah. Anna sempat transit dua kali. Dan saat ini dia sedang menuju perumahan yang di maksud. Karena ongkos Anna hanya pas-pasan, Anna memilih untuk jalan kaki sejauh 2 km. Perumahan Pondok Indah. Anna tersenyum. Tinggal beberapa langkah lagi ia sampai. Ia akan memeluk Ayahnya dan mengajaknya pulang. Perjalanan yang jauh, tapi tak sebanding dengan kebahagiannya yang membuncah. Anna berdiri tepat di sebuah rumah dengan gerbang tinggi berwarna hitam. Ia melihat kembali alamat yang diberikan ibunya untuk mencocokkan. Dan tepat! Ini rumah ayah! Ini rumah Ayah! Jantung Anna berdetak sangat cepat. Darahnya berdesir dengan kencang. Tinggal hitungan menit ia akan bertemu dengan sang Ayah. Ayah yang selama bertahun-tahun ia rindukan. Anna memencet bel yang ada disampingnya. Tepat di bel ketiga, seorang laki-laki paruh baya muncul. "Mau cari siapa ya, Mba?" Tanya Laki-laki menggunakan kemeja dan celana hitam. Anna langsung tersenyum. "Ayah!" "Maaf mbak siapa?" Anna langsung menjaga sikapnya. "Saya ingin bertemu dengan Pak Ardy." "Oh ingin bertemu tuan, ya? Sebentar saya panggilkan." "Bapak bukan Pak Ardy?" Tanya Anna bingung. "Bukan.. Saya supirnya." Setelah menyelesaikan kalimatnya laki-laki itu langsung kembali ke dalam. *** "Saya sudah tahu mengenai kamu dari Rini." Laki-laki itu berhenti berbicara, dan menyesap kopi hitamnya yang tadi dipesan di cafe ini. Ardy sengaja membawa Anna ke sini karena tidak mau istrinya tahu akan keberadaan Anna. "Dan tidak menyangka kalau kamu sudah sebesar ini." Anna tersenyum. "Ayah aku kangen..." Anna melihat wajah Ayahnya lekat-lekat. Laki-laki di depannya ini memang benar Ayahnya. Mengingat mata sipit dan juga hidung mancung yang diturunkan kepadanya. Sedangkan bibir tipis Anna diturunkan dari ibunya. "Ayah mari kita pulang." Ardy tersentak dengan perkataan Anna. "Saya tidak akan pulang! Rumah saya di sini, bersama dengan istri dan anak-anak saya. Bukan dengan kamu!" Wajah Anna memanas mendengar ucapan Ardy yang malah membentaknya saat Anna mengajaknya pulang. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. "Tapi ibu dan aku sangat merindukan Ayah.." Ucap Anna dengan nada bergetar. "Itu bukan urusan saya!" Ardy langsung bangkit dari duduknya dan menuju pintu cafe. "Ayah tunggu! Ayok kita pulang, Yah. Aku lagi ulang tahun yah, Ayah mau kasih aku kado kan yah? Aku ngga mau minta apa-apa yah, aku cuma mau Ayah." Anna tersungkur ke lantai. Kedua tangannya memegang kaki Ardy. Perlahan tapi pasti, bulir air mata jatuh tak dapat Anna tahan. "Mulai sekarang kamu bukan anak saya lagi!" Ardy menendangkan kakinya agar tangan Anna terlepas. Kepala Anna terjerembab mengenai meja cafe. Anna terus-menerus memanggil nama Ardy, tanpa memedulikan tatapan aneh para pengunjung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN