18 tahun yang lalu
"Anna ngga punya Ayah.."
"Anna ngga punya Ayah.."
"Ayah Anna ngga pulang-pulang. Hahaha kasian!"
Anna kecil hanya bisa menutup kedua telinganya. Gadis kecil berkuncir dua dengan seragam putih-merahnya itu berjongkok lesu. Ia tak kuat membalas cibiran dari teman-temannya itu. Kaki Anna bergetar karena ketakutan menghadapi teman-temannya yang notabennya berjenis kelamin laki-laki dan mempunyai tubuh yang gempal. Kontras sekali dengannya yang terlihat kurus. Anna hanya biaa menangis dan berteriak dalam hati. "Anna punya Ayah.. Anna punya Ayah.."
"Anna ngga punya Ayah.."
"Kata ibu aku kalau ngga punya Ayah namanya anak haram!"
"Berarti Anna anak haram dong."
"Anna anak haram."
"Anna anak haram."
"Stop!!" Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berseragam sama mendekati mereka. Ketiga anak yang mencibir Anna bertolak pinggang dan langsung memasang wajah menyeramkan. Namun laki-laki kecil itu tak gentar, ia malah berdiri tepat di depan anak kecil yang paling gendut dan paling menyeramkan dari ketiganya. Sedangkan Anna mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang. Anna malah semakin ketakutan, dan menyangka kalau laki-laki yang datang adalah teman dari ketiga laki-laki yang membully-nya habis-habisan.
"Jangan beraninya sama perempuan dong."
Laki-laki itu memang tak memiliki tubuh besar, bahkan cenderung kecil. Sama seperti murid sekolah dasar lainnya. Tapi keberaniannya patut diacungi jempol.
"Ngga usah ikut campur deh!" Laki-laki yang berbadan gempal tadi mendorong pundaknya, sontak tak terima dan mendorongnya lagi hingga tersungkur ke tanah. Tangannya terluka akibat gesekan tangan dengan aspal. Hingga berdarah.
"Baru di senggol aja udah jatuh! Hahaha." Laki-laki kecil itu melirik Anna yang masih ketakutan. Dia kembali menatap ketiga biang kerok itu dengan sengit.
"Kalau kalian masih suka ngatain dia—" ucapnya terputus dan jarinya menunjuk Anna, "kalian akan aku laporin ke ibu guru!"
Sontak ketiganya langsung lari terbirit-b***t.
Laki-laki kecil itu menghampiri Anna yang masih berjongkok dengan gemetar. Tangan kecilnya membantu Anna untuk berdiri. Anna hanya menunduk saja.
"Kamu ngga usah takut lagi sama mereka. Ada aku yang bakal belain kamu."
Anna mencoba untuk mengangkat wajahnya. Kini yang dilihatnya adalah seorang anak seumurnya sedang tersenyum menampilkan sederet gigi yang masih belum rapi.
"Te..terima kasih ya." Ucap Anna dengan terbata. Namun ucapan itu benar-benar tulus dari hatinya.
Senyum laki-laki itu semakin lebar. "Namaku Edwin, nama kamu siapa?"
Mata Anna mengarah ke tangan yang mengulur ke depan, dengan ragu Anna membalas uluran tangan mungil itu. "Namaku Anna." Anna ikut tersenyum, membuat matanya terlihat hanya segaris.
"Tuhkan kamu cantik kalau senyum. Mulai sekarang kita berteman ya."
= Never Let You Go =
Berdeda dengan Edwin yang menjadi siswa popolar di sekolahnya, Anna lebih memilih untuk menjadi ansos atau anti sosial. Ia lebih menutup dirinya agar tak ada orang lain yang masuk ke dalam hidupnya. Semenjak SD sampai sekarang dirinya sudah menjadi siswi dengan seragam putih abu-abu, jumlah temannya bisa dihitung dengan jari. Dan rata-rata hanya bergender perempuan.
"Ann nonton gue yuk maen futsal." Edwin menghampiri Anna yang masih ada di kelasnya, padahal jam pelajaran sudah berakhir hampir satu jam yang lalu.
"Males ah! Gue mau nunggu lo aja disini sambil baca."
"Masa lo ngga mau nyemangatin sahabat lo sendiri sih, Ann. Kalau gue kalah karena lo ngga ada gimana? Nanti kalau gue dikeroyok karena tim sekolah kita kalah gimana, Ann?" Edwin tetap bersikukuh.
Sedangkan Anna berdiri dengan malas, karena tak tega melihat wajah Edwin yang memelas padanya, lagi pula apa gunanya Anna ada disana? Padahal kalau soal supporter tidak usah diragukan lagi. Cewek-cewek popular pasti bakal dukung tim futsal sekolahnya. Apalagi yang menjadi kapten adalah Edwin.
Edwin menggandengnya sampai di lapangan. Anna merasa risih, karena mendapat berbagai tatapan mengerikan yang seolah-olah Anna siap untuk di terkam. Anna melirik ke arah Edwin yang berada disampingnya laki-laki itu hanya tersenyum tipis.
Edwin gila! Apa dia mau gue ditatar sama fans-fansnya?
Edwin berlari ke tengah lapangan karena pertandingan akan segera di mulai. Anna memilih duduk di pinggir lapangan karena dia tidak nyaman akan keramaian. Wasit meniup pluitnya dan pertandinganpun dimulai.
Sorak sorai dari kedua tim yang bertanding membuat suasana menjadi ramai. Teriakan demi teriakan terdengar memekakkan telinga. Nama Edwin yang paling banyak disebut dalam pertandingan kali ini, sebab dialah yang menyumbangkan satu gol terlebih dahulu 1-0 untuk Montessori High School.
Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Anna. Salah satunya adalah kenapa Edwin masih mau untuk bersahabat dengannya? Padahal jika dibandingkan dieinya dengan laki-laki itusungguh sangat jauh bereda. Edwin termasuk the most wanted guy di sekolah. Sedangkan dirinya hanya gadis ansos yang hanya punya teman segelintir dan tempat nongkrongnya hanya di perpustakaan. Edwin dari keluarga yang berada. Ayahnya seorang pengacara kondang di Indonesia dan bundanya seorang Dosen di Universitas Negeri di daerah Jakarta. Sedangkan dirinya? Ibunya single parent dan tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Semua pekerjaan akan ibunya lakukan selagi bisa dan juga halal. Seperti menjadi kuli cuci baju tetangganya, pembantu rumah tangga dan juga tulang masak di hajatan-hajatan orang. Ia juga bisa sekolah di sini karena Bundanya Edwin yang mengajukan beasiswa untuknya karena IQnya mencapai 140.
"Ngga apa-apa Tante, kalau sekolah Anna hanya sampai SMP saja. Anna akan kerja buat bantu ibu cari uang."
"Anna.. Kamu itu anak yang cerdas, tante akan mendaftarkan kamu di sekolah yang sama dengan Edwin."
"Tapi sekolah Edwin itu kan mahal Tante, ibu mana bisa bayar?"
Naira tersenyum lembut, "Tante akan membantu kamu untuk mengajukan beasiswa."
"AAAAHHHH!!!"
Teriakkan dari supporter cewek-cewek semakin heboh, pandangan Anna beralih ke tengah lapangan. Anna menyipitkan matanya dan langsung terlonjak kaget saat melihat Edwin terjatuh. Edwin meringis kesakitan sedangkan pemain dari dua kubu mengitarinya. Anna meremas rok abu-abunya dengan gemas, bukannya mereka menolong Edwin malah berdebat di lapangan.
Anna merasa lega karena melihat tim PMR sekolah cepat-cepat datang sambil membawa tandu. Edwin langsung dibawa ke UKS. Tanpa pikir panjang lagi Anna berlari mengikuti PMR yang jauh berada di depannya.
"Win lo ngga apa-apa? Mana yang sakit? Kenapa bisa begini sih? Ngga sportif banget deh?"
Edwin yang mendengar rentetan pertanyaan dari Anna hanya bisa tersenyum. Wajah Anna kentara sekali sedang mengkhawatirkannya.
"Malah senyum-senyum, lo ngga tahu apa gue khawatir banget." Anna mencubit perut Edwin sebal, bukannya menjawab pertanyaannya, edwin malah senyum-senyum tidak jelas.
"Aduuuuhhh.." Edwin pura-pura meringis.
"Eh sori.. Sori banget Win, gue ngga bermaksud."
Anna keluar sebentar dari UKS saat tim PMR memberikan pertolongan untuk Edwin. Dari tempatnya berdiri Anna bisa mendengar teriakan Edwin yang menggema didalam karena menahan sakitnya. Anna hanya berdoa kepada Tuhan agar menghapus sakit yang dirasakan Edwin dan rela agar dirinya yang menggantikannya. Anna benar-benar rela. Untuk Edwin yang selama ini menolongnya, untuk Edwin yang selama ini menjadi tamengnya dan untuk Edwin yang sudah dia izinkan masuk ke dalam hidupnya.
= Never Let You Go=
Kamu tahu aku ada, kamu mencariku saat bertrngkar dengannya. Lalu aku dengan mati-matian harus menahan diri bahwa orang yang aku cintai sedang bercerita banyak tentang orang yang dia cintai.
Ping!
Ping!
Ping!
Bunyi aplikasi BlackBerry Massanger terdengar dari tiga kali. Hal itu tidak membuat Anna bangkit dari tempatnya. Kemudian bunyi di handphonenya berubah menjadi bunyi yang lebih panjang menandakan bahwa seseorang sedang melakukan panggilan.
"Halo..." Anna mengangkatnya dengan malas. Sebelum mengangkat ia sudah tahu kalau yang menelfonnya adalah Edwin.
"Ann.."
Anna berdehem
"Gue mau nanya sesuatu boleh?" Tanya Edwin dengan ragu.
Anna berdehem lagi.
"Apa lo pernah jatuh cinta?"
Jatuh cinta? Entahlah. Bahkan dia tidak mengizinkan orang lain masuk ke dalam hidupnya, kecuali......
"Ann.."
Gue ngga pernah jatuh cinta"
"kayaknya lo harus jatuh cinta deh. Cinta itu menyenangkan. Nano-nano rasanya."
"Cinta itu bullshit! Gue ngga percaya soal cinta. Bahkan nanti kalau gue udah dewasa gue ngga mau menikah."
Hening. Tak sda suara dari seberang sana.
Sudah tiga hari Anna memikirkan kata-kata dari Edwin. Setelah Edwin mengirimkan sebuah instrumen moonlight sonata padanya, Edwin menuliskan kata-kata bak motivator terkenal di televisi. "Moonlight sonata itu merupakanagu cinta, Beethoven tak pernah bisa menyampaikan perasaan cintanya pada muridnya. Jadi terciptalah instrument itu.."