PC ~ Eksekutif Muda

1719 Kata
Jam 12 siang Ivo keluar dari ruang Presdir setelah lima menit berada di dalam. Dia mengantarkan makan siang untuk Aero karena Aero tidak ingin makan siang di luar hari ini. Ivo berjalan mendekat ke arah Starla yang masih sibuk dengan iPad dalam genggaman. "Hei, ini sudah jam 12, ayo kita makan siang bersama." Starla menaikan wajahnya secara perlahan. Melihat Ivo sudah berada di depannya, dia hampir saja memukul Ivo dengan tangannya. Kesal yang tadi terasa belum hilang dari hatinya. "Jangan marah lagi!" Ivo membujuk Starla setelah melihat wanita itu menunjukan raut permusuhan. "Ayo kita makan siang di kantin perusahaan saja! Menu makan siang di sini, sangat enak." Starla memegang perutnya yang sedikit terasa lapar. Tadi pagi, dia tidak menghabiskan sarapan yang Bastian siapkan untuknya. Di tambah, dia terlalu banyak menelan kenyataan pahit hari ini, membuat perutnya terasa lebih cepat lapar. Starla mengangguk kecil. "Baiklah." "Kalau begitu, ayo kita pergi!" Starla melepas kacamata bening yang di pakainya, meletakan iPad di atas meja, lalu bangkit dan berjalan bersisian dengan Ivo. "Bagaimanapun, kita akan menjadi rekan kerja mulai hari ini. Kita harus akrab dan akur satu sama lain." Ivo merangkul pundak Starla layaknya teman lama. Starla mendorong Ivo agar menjauh darinya. "Dasar gila! Siapa yang sudi punya rekan seperti dirimu?" Dia berteriak nyaring, seperti anak gang, tidak ada keanggunan sama sekali. "Haish." Ivo menutup telinga yang terasa tuli saat mendengar suara nyaring Starla. "Kamu ini perempuan, tidak bisakah kamu bertingkah layaknya anak komplek, dan berhenti bertingkah seperti anak gang?" Suara Ivo tidak kalah keras dari Starla. "Hei, kenapa suaramu lebih nyaring dariku? Apa kamu ini seorang pria?" Starla memandang Ivo sebelah mata. Menurutnya Ivo sangat mencurigakan. Hm.. sepertinya.. ada bau bau pendosa. "Hei, baru kali ini ada seseorang yang meragukan legalitasku? Apa kamu buta sampai tidak melihat wajahku yang tampan ini?" Ivo menunjukan wajahnya yang paripurna kepada Starla. "Asal kamu tau ya.. tampan tidak menjamin apapun." Starla tetap gigih dengan prasangkanya sendiri. Ivo dan Aero.. tidak beres dan.. hm.. perlu di selidiki. "Terserahlah! Sebaiknya kita cepat atau kita akan kehabisan tempat duduk." Langkah kaki Ivo semakin cepat, meninggalkan Starla yang menggerutu di belakang. ---------• --• Kantin Perusahaan. Starla dan Ivo mengantri untuk mengambil makan siang mereka. Setelah mereka mendapat bagian, mereka pergi untuk memilih tempat duduk. Ivo melirik ke kanan dan ke kiri, namun dia tidak menemukan kursi kosong. Sejujurnya, dia sangat jarang datang ke Kantin Perusahaan untuk makan. Pekerjaan yang menyita banyak waktu mengharuskan Ivo untuk memesan makanan dari luar, atau pihak kantin yang akan mengantarkan menu untuknya. Namun, karena Starla adalah orang baru, dia merasa perlu untuk membawa Starla agar berbaur sekaligus memperkenalkan Starla kepada karyawan lain agar lebih saling mengenal. Tapi, suasana ramai sampai tidak menyisakan tempat duduk seperti ini, membuat Ivo tidak ingin menginjakan kaki di sini lagi. "Apa ku bilang, kamu terlalu lamban sampai membuat kita tidak mendapatkan tempat duduk." Ivo melirik wanita cantik yang berdiri di sebelahnya dengan ekspresi kesal. "Kenapa kamu menyalahkanku? Kamu sendiri yang lamban." Starla tidak terima dengan tuduhan Ivo yang tidak berdasar. Bisa bisanya Ivo menyalahkan dirinya? Dasar i***t! "Aku paham. Wanita memang selalu seperti itu. Meski sudah jelas salah, tapi tetap berkilah. Apa minta maaf sesulit itu?" Ivo tidak habis pikir dengan Starla. Tidak! Maksudnya dia heran dengan semua wanita yang mengisi Bumi. Apa mengaku salah dan meminta maaf bisa membuat seseorang jatuh miskin? Tidak, kan? Tapi kenapa? Ada apa dengan wanita wanita itu? Ish.. ish.. ish.. "Sulit, tentu saja sulit. Coba kamu katakan 'maafkan saya' dengan bahasa Spanyol. Lo siento." Starla mengucapkan kata 'lo siento' dengan aksen Spanyol yang kental. Ivo mencoba mengatakannya. "Lo.. Lo.. sient.. to.." Tidak berhasil, Ivo mengibaskan tangan. "Ish.. aku tidak biasa berbicara menggunakan bahasa Spanyol, memangnya kenapa aku harus mengatakan 'maafkan aku' dengan bahasa itu?" Starla menguap. "Itu adalah jawabannya. Jawaban kenapa seorang wanita sulit minta maaf lebih dulu, adalah.. karena.. wanita tidak terbiasa mengucapkannya. Seperti kamu yang kesulitan karena tidak terbiasa mengatakan 'lo siento', wanita juga sulit untuk mengatakan 'aku minta maaf' kepada seorang pria meski yang salah adalah dirinya. Kurang lebih penjelasannya seperti itu. Apa sekarang anda mengerti, Tuan Ivo yang terhormat?" Ivo menunjukan tangannya yang mengepal kepada Starla. "Aih.. kamu ini benar benar minta di pukul, ya?" "Aku ingat, pengaturan nomor delapan berbunyi : tidak boleh menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah." Starla membaca peraturan perusahaan nomor delapan yang sudah tercopy rapi di otaknya. Ivo diam. Sejauh ini, belum ada wanita yang berani memprovokasi dan membuatnya sangat kesal kecuali wanita yang satu ini, dan hanya wanita ini. "Pak Ivo, anda makan siang di sini?" Suara seorang pria, menghancurkan perdebatan Ivo dan Starla yang sedang memanas. Ivo dan Starla menoleh ke arah sumber suara yang letaknya tidak jauh dari mereka. Ivo dan Starla tersenyum hangat saat mendapati sebuah meja dengan dua tempat duduk kosong masih tersisa dengan beberapa karyawan yang duduk mengelilingi meja. "Iya, kebetulan hari ini saya ada sedikit waktu luang, jadi saya memutuskan untuk mengajak Sekretaris baru Tuan Aero untuk mencicipi hidangan di kantin perusahaan kita." Ivo menjawab ramah. Sebagai orang kepercayaan Bos, Ivo perlu berkata sopan untuk menjaga nama baik Bosnya. Pencitraan! Starla mengumpat di dalam hati. Kalau Ivo adalah seorang aktor, pria licik itu pasti sudah mendapatkan piala Oscar untuk kategori aktor terbaik. "Oh.. jadi itu.. bla bla bla.." Para karyawan yang mendengar ucapan Ivo, seketika menoleh ke arah Starla. Mereka semua mulai menelisik dan berbisik bisik membicarakan Starla. Ada yang memuji, ada juga yang mencibir. Itulah resiko hidup di tengah populasi manusia. Harus selalu siap mendengar perspektif dari orang di sekitar. Starla yang sudah malang melintang di industri permodelan, sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Siap tidak siap, dia tentu harus sekali dua kali merasakan sepuluh orang memuji dirinya, dan sepuluh orang mencibir dirinya. Sepuluh orang melambungkannya dan sepuluh orang menjatuhkannya. Sedangkan perspektif orang itu berbeda porsi. Starla hanya harus mempersiapkan diri saat dia menjadi konteks sistem, persepsi visual atau menjadi objek yang di nilai oleh mata manusia berdasarkan sifat spesial, dimensi dan posisi mata relatif terhadap objek. But, so what? Manusia dengan sifat alami memang selalu seperti itu. Mereka menilai orang berdasarkan apa yang mereka lihat, padahal apa yang mereka lihat belum terbukti kebenarannya dan bisa saja salah. "Kalau begitu, kalau anda tidak keberatan, anda bisa duduk bersama kami di sini!" Pria yang tadi bertanya kepada Ivo, kembali buka suara. "Kebetulan di sini ada dua kursi kosong." Orang itu menambahkan. Starla dan Ivo saling pandang, kemudian mengangguk. Mereka saling bertukar kode dengan maksud setuju untuk duduk di sana. Tanpa menunggu lagi, Ivo dan Starla segera meletakan nampan yang mereka bawa di atas meja, lalu mereka duduk di tempat duduk masing masing. Meja yang berbentuk persegi panjang dengan kursi yang terpisah, tanpa sengaja membuat Ivo dan Starla duduk berhadapan. Benar kata orang, musuh pasti selalu di pertemukan dalam berbagai kesempatan dan dalam berbagai waktu. Seperti ini contohnya. Kenapa kursi kosong bisa tepat berhadapan seperti ini? Menyebalkan memang. "Mereka semua, yang duduk di meja ini adalah eksekutif muda di perusahaan kita." Ivo berbasa basi setelah pantatnya menyentuh kursi. Starla tersenyum. "Oh begitu." Kalau di amati lebih dalam lagi, yang duduk di dekat mereka adalah pria pria muda yang berpakaian rapi, berwajah tampan, berpostur tinggi. Astaga! Starla menyadari sesuatu, kenapa di sini prianya tampan semua? Meski Starla speechless dan histeris, namun itu hanya di dalam hati. Dia tidak berani mengungkapkan perasaan bangganya di depan orang lain. Kapan lagi dia bisa di kelilingi oleh pria tampan yang berattitude baik, yang berotak cerdas, dan yang berwawasan luas? Lama menetap di Industri hiburan, Starla memang selalu di kelilingi para pria tampan. Hero yang menjadi partner dirinya dalam photoshoot, kebanyakan juga tampan dan bertubuh bagus, namun dia tidak menyukai karakter mereka meski dia sendiri menilai itu dari sudut pandang seorang model. Maksudnya adalah.. lingkup pergaulan mereka terlalu bebas. Seperti pesta bikini, merokok, seks, bertato, minuman keras menjadi makanan sehari hari meski tidak semuanya seperti itu. Ada beberapa orang yang Starla akui sangat bersih dan tidak mengenal dunia liar seperti itu, salah satunya adalah dirinya sendiri. Jadi, jangan salahkan dia kalau dia terpesona dengan tipe pria yang sudah dia sebutkan tadi, yaitu berattitude baik, berotak cerdas, dan berwawasan luas. "Selamat makan." Setelah Ivo mempersilahkan semua orang untuk makan, mereka baru berani menyentuh sendok dan garpu mereka. Starla menoleh ke sebelah kanannya, adalah seorang pria yang benar benar tampan. "Selamat makan." Starla berkata ramah. "Selamat makan juga." Pria itu membalas ucapan Starla. "Aku harap, kamu menyukai menu makan siang di sini dan tidak kapok untuk datang lagi." Pria itu menambahkan. Seolah mengandung arti kalau Starla harus datang dan makan siang lagi bersamanya. Pria itu menatap Starla tanpa berkedip. Sangat menarik. Pikirnya. Adalah wanita berparas cantik, berhidung mancung, berbibir tipis, berambut panjang, berbadan seksi, dengan postur tubuh yang tinggi ideal. Menurutnya, Sekretaris baru Pak Aero, nyaris sempurna. "Tentu saja, Pak Ivo juga mengatakan kalau menu di sini sangat enak." Starla mengambil garpu dan mulai memakan makanan yang berada di mangkuknya. "Bagaimana rasanya?" Pria itu bertanya setelah melihat Starla mencicipi Kartoffelsalat. "Lumayan, rasanya seperti Salad." Starla menjawab singkat. "Ini namanya Kartoffelsalat. Mirip dengan salad sayur. Berisi kentang, tomat, cuka, mayonnaise, bawang bombay, s**u, telur, dan daging sapi." Pria itu menjelaskan sedikit tentang menu makan siang mereka. "Kamu juga harus mencoba yang ini." Pria itu menunjuk satu piring lainnya di atas nampan Starla. Starla mengerutkan kening. "Apa ini?" Starla tau ini adalah sosis. Tapi yang dia tanyakan adalah nama makanan ini. "Ini Bratwurst, adalah salah satu olahan khas yang terkenal di Jerman. Berupa sosis khas Jerman yang dimasak dengan cara dipanggang. Biasanya bratwurst disajikan bersama kartoffelsalat." Pria itu kembali menjelaskan. Menoleh ke arah Starla yang mengenakan kemeja dengan dua kancing atas tidak di kaitkan, tanpa sengaja dia melihat sedikit d**a Starla yang besar. Dia menundukkan kepala dengan wajah bersemu merah. Starla memotong Bratwurstnya kemudian menyuapkannya ke dalam mulut. "Ini enak." Starla kembali memakan makanannya dengan lahap. Dia sama sekali tidak peduli dengan Ivo yang sibuk berbincang dengan para eksekutif muda itu. "Kalau boleh tau, siapa namamu?" Starla menoleh ke arah pria itu, lalu dia mengulurkan tangannya. "Aku Starla. Salam kenal." Pria itu menerima uluran tangan Starla. "Aku Victor." Dia menjabat tangan Starla cukup lama. Seakan ada bunga bunga berwarna pink muda yang beterbangan si sekeliling dengan udara sejuk yang berhembus. "Hei." Starla menegur karena dia kesusahan menarik tangannya setelah cukup lama berjabatan. Seketika, khayalan Victor buyar. "Oh maaf." Victor tersenyum canggung. Starla hanya tersenyum, lalu melanjutkan makannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN