Jam sembilan malam, Aero melangkah dengan langkah lebar memasuki Lounge. Berjanji bertemu dengan seseorang, pria itu datang tepat waktu. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Semua sesuai seperti yang di rencanakan sejak dia berinisiatif untuk menemui orang itu selagi masih di Pulau Rugen. Dia memasukan tangannya ke saku celana. Badannya tegap. Langkah kakinya seperti model yang berjalan di atas catwalk. Matanya memandang tajam mengawasi sekeliling. Menyapu apa yang ada dengan mata elangnya. Begitu sebuah objek tertangkap pandangannya, dia buru buru menguncinya, kemudian dia melanjutkan langkah menuju ke objek yang di maksud. Langkah kaki dan gaya berjalan Aero benar benar arogan dan mengintimidasi. Seperti seseorang yang baru saja keluar dari kedala

