Bab 7: Angka yang Manis

1586 Kata
Kana membuka pintu rumahnya. Seperti biasa, selalu sepi seolah tak berpenghuni. Ia tersenyum pahit lalu melangkah masuk ke ruang tamu. Namun, ketika mendengar suara grasak-grusuk di ruang kerja ayahnya, Kana buru-buru melepas sepatu dan mendekati pintu ruangan yang terbuka lebar itu. Ia melirik ke dalamnya dan menarik senyum kecil. Ruangan yang sudah kosong sejak dua minggu yang lalu itu kembali terisi. Namun sayang, mau kosong ataupun tidak, keadaan tidak berubah. Ruangan temaram itu hanya menghasilkan suara ketikan dari keyboard komputer. Kana menatap punggung ayahnya yang duduk membelakanginya. Ia menghembuskan napas panjang sebelum menghampiri ayahnya dan menepuk pelan pundak pria paruh baya itu. “Papa udah pulang?” tanyanya. “Hm. Papa dengar kamu masuk jurusan IPS?” tanya pria itu dingin. Kana menggigit bibirnya. Senyum di wajahnya hilang, digantikan raut gugup. “Iya, Pa.” “Kenapa? Papa udah bilang kamu itu harus masuk IPA.” “Maaf, Pa.” Pria yang menjadi ketua Tim IT disebut perusahaan multinasional terkemuka di Jakarta itu mendengus keras. Ia mengalihkan pandangannya dari layar komputer yang menampilkan sesuatu yang tak dipahami Kana. Pemilik manik hitam kelam itu menatap putrinya dengan tajam. “Papa akan bicara dengan gurumu agar dia memindahkan kamu ke kelas IPA.” “Kana nggak mau, Pa. Kana sendiri yang milih di IPS.” “Mau jadi apa kamu kalau di IPS. Kamu tahu, ‘kan, kelas IPS itu terkenal dengan kenakalannya. Papa tidak mau kamu tertular sama hal-hal seperti itu!” bentak ayah Kana. “Kana nggak bakal ikut-ikutan seperti itu, Pa. Lagipula, nggak semua anak IPS seperti itu!” “IPS?” sebuah suara terdengar dari depan pintu. Kana menoleh dan mendapati ibunya yang berpakaian rapi tengah berjalan mendekati mereka. Senyum semringah ibunya tertuju padanya. “Kamu masuk IPS? Bagus, Sayang. Mama dukung itu,” ujar ibu Kana bahagia. “Kamu mau jadikan apa anak kamu di masa depan, hah? Mau jadiin dia anak nakal dan bar-bar seperti kamu? Ingat, kamu dulu anak baik-baik tapi sejak masuk jurusan IPS, sifat kamu itu berubah!” geram ayah Kana. Ibu Kana berdecak malas. “Tapi, sekarang lihat hasilnya? Aku bisa mengelola dan mendirikan butik sendiri. Lagi pula, tak semua masa depan itu sama. Jaman sekarang tidak ada lagi yang bilang jurusan IPS itu biang keributan. Memangnya jurusan IPA nggak pernah buat masalah? Kalau Kana sukses nanti, dia bisa melanjutkan butikku.” “Seperti yang kamu bilang, tidak semua masa depan itu sama. Tidak ada yang tahu, masa depan Kana akan seperti apa. Butik? Itu bisa bangkrut kapan saja! Kana lebih baik masuk jurusan IPA dan bisa jadi dokter!” “Nggak usah mimpi Kana jadi dokter, Mas! Dia luka aja udah nangis-nangis. Memangnya kamu ada masalah apa, sih, sama IPS? Kamu tidak tahu, ya, justru dari jurusan IPS itu yang banyak peluang kerjanya di perusahaan tempat kamu kerja tahu!” Kana menutup matanya. Selalu saja begini. Tidak pernah ada hari di mana dia melihat kedua orang tuanya berbagi senyum. Mereka hanya bisa beradu mulut ketika bertemu. Terkadang, dia bertanya-tanya kenapa harus lahir jika hubungan keduanya seperti itu? “Kalian belum makan?” tanya Kana berusaha mengakhiri perdebatan mereka. Ia harus ingat, ayahnya sangat jarang di rumah. Kana tidak mau membuat semuanya suram dengan menangis di depan mereka. “Papa nggak lapar! Sudah, keluar sana! Papa sibuk, banyak pekerjaan yang numpuk.” Ayah Kana berujar cuek dan kembali duduk. Matanya kembali fokus di layar komputer. Kana tersenyum pahit. Pekerjaan numpuk? Sebanyak apa pekerjaan ayahnya itu? Dua minggu tak ada di rumah sebenarnya untuk apa? Tidak hanya itu, ayahnya terkadang tidak ada di rumah hingga sebulan. Lalu saat kembali ke rumah, pria itu hanya terus ada di dalam ruang kerjanya. “Mama? Mau makan?” “Nggak. Mama mau ke butik. Kamu makan sendiri aja,” ujar ibu Kana dengan raut masam dan pergi. Kana menyusul keluar dan menatap meja makan yang sudah dipenuhi lauk-pauk. Ia menatap pelayan yang berdiri di dekat meja. “Simpan saja makanannya, Bi. Atau makan aja.” “Non Kana tidak makan?” Kana tersenyum kecil dan menggeleng pelan. “Saya masih kenyang,” karena baru-baru ini makan hati lihat Papa dan Mama berdebat lagi, batin Kana hanya mampu melanjutkannya dalam hati. ??? “Thanks, ya, udah traktir kita,” ujar Lili tersenyum kecil. Ia berjalan beriringan dengan Keano keluar dari restoran. Sedangkan Lesli dan Kevan sudah lebih dulu keluar untuk ke parkiran mengambil motor mereka. “Sama-sama, Li. Terimakasih juga karena udah mau datang. Oh iya, waktu kita ketemu pertama kali itu, lo lucu,” ujar Keano kaku. “Oh, yang pas gue ngumpat itu? Astaga, sorry, gue beneran nggak sengaja juga waktu itu,” ucap Lili terkekeh pelan dan menggaruk tengkuknya, malu. “Nggak apa-apa. Jadi, lo tinggal di sekitar situ?” Lili mengangguk. “Iya. Lo tahu toserba yang pas di pertigaan itu? Itu toserba milik Bokap gue.” “Ah, jadi itu toserba lo, ya. Gue udah berapa kali beli di sana, tapi gue nggak pernah ketemu lo.” “Iya, gue jaga sebentar doang, kok. Pulang sekolah sampai jam enam sore.” Keano menatap wajah gadis itu dari samping. “By the way, gue sering di daerah itu.” “Oh, ya?” “Iya. Gue sering singgah di butiknya Mama.” “Butik? Yang mana?” “Butik yang tdekat dengan halte itu,” ujar Keano. Jantungnya selalu saja berdebar-debar menunggu setiap jawaban yang keluar dari gadis itu. “Oh! Butik AtHree itu, ya? Wih, keren. Papa Mama lo punya usaha yang sama-sama sukses!” puji Lili dengan wajah berseri-seri. “Hm, iya,” gumam Keano menggaruk tengkuknya salah tingkah. Tak lama kemudian, Lesli dan Kevan muncul dengan motor masing-masing. Ketika Lili hendak pamit padanya, pemuda itu buru-buru memotong. “Eh, gue antar lo, ya?” Lili berkedip-kedip bingung. “Eh, kenapa? Kok, tiba-tiba banget?” “Nggak apa-apa. Gue mau ke butiknya Mama ... eh, inj juga ... maksudnya ini udah malam. Gue khawatir sama kalian. Gimana kalau lo sama gue aja, biar Lesli boncengan sama Kevan?” Lili menatap Lesli yang langsung mengangguk. “Oke, deh,” jawabnya kemudian. Kevan akhirnya memberi motornya ada Keano. Ia mengambil alih motor Lesli dan membonceng gadis itu, sedangkan Keano menggunakan motornya dan membonceng Lili. “Terus, nanti lo pulangnya pakai apa?” tanya Lili sembari memakai helm. “Tenang aja. Nanti gue pulang bareng Nyokap gue, kok.” Lili mengangguk-angguk mengerti. Ia naik dan mereka perlahan meninggal restoran. Di sepanjang perjalanan, tidak ada kata apa pun yang keluar dari mulut masing-masing. Semuanya fokus dengan pikiran sendiri. Keano berusaha fokus pada jalan. Mengingat bahwa ia tengah membonceng Lili membuatnya super hati-hati sekaligus berdebar-debar. Sementara itu, Lili sendiri tak tahu harus bagaimana. Saat berboncengan dengan Lesli, ia terbiasa memeluk pinggang gadis itu. Sekarang, dia tidak tahu harus berpegang pada apa dan rasanya sangat aneh. Belum lagi jika mereka melewati jalan yang kurang bagus. Lili lantas memegang pada besi di belakang motor. Perjalanan lima belas menit mereka benar-benar akward. Lili perlahan bernapas lega saat bisa melihat pagar putih rumahnya. Rumahnya yang hanya berlantai satu namun cukup luas, terlihat sepi namun lampu rumahnya yang menyala membuatnya yakin, ayahnya ada di dalam rumah. “Eh, lo berdua bisa duluan. Nanti gue nyusul,” suruh Keano pada Kevan dan Lesli yang turut singgah. Keduanya menatap aneh pada Keano, namun pada akhirnya mereka hanya bisa mengangguk. Ketika keduanya sudah menjauh, Lili turun dari motor dan membuka helm-nya. “Gue lupa ngasih Lesli helm-nya. Tolong lo bawa, ya,” pinta Lili menyerahkan helm itu. “Iya. Hm, Lili ....” “Iya?” “Gue mau ... ngomong sebentar bisa?” tanya Keano dengan wajah kaku. Lili tersenyum dengan sorot bertanya-tanya. “Boleh.” “Gue ... sebenarnya gue ini orang yang susah mengutarakan isi hati sendiri. Tapi, ada orang yang bilang sama gue, perasaan itu sesuatu yang nggak boleh dipendam. Memendamnya hanya akan membuat kita menyesal. Jadi,” Keano mengeluarkan sebuah lipatan surat dari dalam kantung bajunya, “gue, gue belum siap ngakuin ini langsung, jadi gue hanya bisa bilang lewat surat.” Lili menelan ludah. Ia merasa sesuatu yang asing ada dalam dirinya. Terasa menggelitik namun mengapa perasaan itu malah membuatnya berbunga-bunga sekaligus berdebar-debar? Tangan gadis itu terangkat, menerima surat itu tanpa berkata-kata. Raut wajah Keano yang tegang perlahan melunak. Ia menghela napas perlahan dan mengangguk kecil. Bibirnya tersenyum datar karena gugup. “Kalau gitu ... gue nyusul Kevan sama Lesli, ya?” “Eh? Ah ... i-iya, Keano. Hati-hati,” sahut Lili dengan suara pelan. Surat dari Keano yang ada dalam tangannya digenggam erat-erat. “Em, Lili?” panggil Keano ketika dia sudah ada di atas motor. “Iya?” “Clue surat itu abjad.” Keano tersenyum kikuk. “Abjad?” beo Lili lalu mengangguk, “abjad. Ah, oke.” “Kalau gitu ... gue pergi, ya. Selamat malam, Lili.” “Selamat malam juga, Keano.” Lili memandang Keano yang makin menjauh dan akhirnya menghilang di tikungan. Ia masuk ke dalam rumahnya dan langsung terus ke kamarnya. Tangannya dengan cepat membuka surat itu dan mendapati deretan angka-angka acak di sana. “Ini apa?” gumam Lili. “Clue surat itu abjad.” Lili teringat dengan ucapan Keano tadi. Dia lalu mengamati deretan angka-angka itu. Beberapa saat kemudian, ia menatap tak percaya pada surat itu. Namun, Lili tidak bisa memungkiri rasa bahagia mendominasi dirinya saat ini. Ia berteriak tertahan. Lalu menatap surat itu lagi. Lili menutupi wajahnya yang tengah bahagia dengan surat itu. 7.21.5 – 19.21.11.1 – 19.1.13.1 – 12.15 – 13.1.21 – 10.1.4.9 – 16.1.3.1.18 – 7.21.5 ? From: Keano Alaric Ansel
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN