Hiruk-pikuk suara siswa yang ada di kantin Bahasa terdengar hingga di luar kantin. Di meja yang muat untuk empat orang, Lili tengah asyik men-scroll foto-foto yang baru diambilnya tadi bersama teman-teman sekelasnya saat jam kosong sembari menunggu Lesli yang tengah antre memesan makanan.
“Posting foto yang mana, ya?” gumamnya, melihat ulang foto-foto mereka.
Dari sekian foto yang mereka ambil, Lili hanya memilih empat foto terbaik untuk di posting ke Facebooknya. Dia menggeram puas ketika melihat postingannya yang sudah disukai lima orang sejak lima detik yang lalu. Bukan karena Lili terkenal di f*******:, itu karena dia menandai semua temannya yang ada di foto. Pelaku yang menyukai postingannya pun adalah orang-orang yang ditandainya.
“Keren, Li! Gue simpen, ya!” ujar Karla dan Lea yang duduk tak jauh darinya.
Lili lantas menaikkan jempolnya, “Yoi, Sist!”
“Simpan apa, Li?” Lesli yang membawa dua mangkuk bakso bertanya. Ia lalu duduk berhadapan dengan Lili dan menyodorkan semangkuk bakso ke depan gadis itu
“Foto doang, kok. Btw, thanks.”
“Wah, bagus, dong. Lo udah punya pengganti gue,” ujar Lesli sembari mencampur saus, kecap dan sambal ke dalam mangkuk baksonya.
“Lo cemburu, ya? Cieee!” Lili menggodanya.
Lesli langsung menatapnya dengan mata horor. “Enggak kali. Gue lega aja dengernya. Pas baru pembagian jurusan, siapa yang mewek minta sekelas?” tanyanya dengan nada mencibir.
Lili langsung manyun. Dia memang tidak pernah menang debat kalau dengan Lesli. Dengan helaan napas panjang, tangannya meraih saus dan kecap lalu menuangkannya ke dalam mangkuk baksonya. Ia lalu menambahkan satu sendok sambal dan mencampurnya dengan rata. Merasa belum puas, Lili hendak menambahkan sambalnya lagi, namun sebuah tangan menahannya.
“Nggak baik makan terlalu banyak sambal. Nanti lo sakit perut,” sahut suara bass itu.
Lili mendongak ke samping. Alisnya lantas terangkat ke atas saat melihat wajah ramah Keano. “Eh, Keano?”
Keano tersenyum kecil dan meletakkan sesendok sambil itu kembali ke mangkuknya. “Gue sama Kevan boleh duduk di sini?” pintanya.
“Boleh, boleh. Ayo duduk,” ajak Lili bergeser sedikit, memberi tempat agar Keano duduk di sebelahnya.
Ketika Kevan berniat duduk di samping Lesli, Lili langsung menahannya. “Lo duduk di meja lain,” ujarnya jutek.
“Yaelah, Li, tega amat lo sama gue. Masa iya gue duduk sendiri?”
Lili mengedikkan dagunya ke arah Lea dan Karla yang asyik makan. “Duduk sama mereka, gih.”
Kevan menatap dua cewek itu dengan tatapan takut. “Nggak, nggak! Bisa-bisa gue jadi rempeyek kalau sama mereka!”
Lili langsung tergelak. Kevan punya pengalaman buruk pada Karla dan Lea yang notabenenya cukup barbar di kelas sehingga mereka dijadikan ketua kelas dan bendahara oleh wali kelas, agar teman-teman yang lain tidak macam-macam dan banyak tingkah jika ada kegiatan. Kemarin, Kevan berani mengusili mereka dan berakhir dengan tubuh ngilu. Karla yang bertubuh bongsor menduduki perutnya sementara Lea mentutup hidung dan mulutnya. Hanya beberapa detik, namun penderitaannya bukan kaleng-kaleng.
“Biarin aja duduk di sini, Li. Lo sewot banget, sih,” ujar Lesli cuek sembari melanjutkan makannya.
“Gue yang pesen, ya, Keano!” ucap Kevan lalu beranjak pergi sebelum Keano menyetujuinya.
“Lo, kok, betah temenan sama dia, sih, Keano? Dia, ‘kan, nyebelin,” tanya Lili menatapnya.
Keano hanya tersenyum kecil. “Bagi gue, nggak ada alasan buat memulai pertemanan. Semuanya terjadi begitu aja.”
Lili menatapnya sambil berkedip-kedip bingung, tak mengerti dengan ucapan Keano. Lesli yang melihat itu langsung mengibaskan tangan. “Maklumi ajalah, No, otaknya memang loading.”
“Aish, Lesli!”
Tawa pelan Keano mengudara. “Oh, iya, Lili, makasih untuk salepnya, ya,” ujarnya kemudian.
“Oh ... ah, salep untuk luka lo itu? Oke, sama-sama. By the way, gimana luka lo? Udah baikan?”
Keano mengangguk pelan. “Udah mulai baikan, kok.”
Lili mengangguk pelan lalu melanjutkan makannya. Keano diam-diam melirik gadis itu, sedang berpikir apakah ia harus mengajak gadis itu berbicara atau tidak. Namun, baru saja ingin membuka mulutnya, Kana muncul dan menarik Kenao berdiri dengan wajah kesal.
“Lo kenapa ada di sini? Bareng sama cewek pecicilan ini lagi!” omel Kana.
“Apa? Maksud lo, gue cewek pecicilan gitu?” Lili yang merasa terpanggil dengan sindiran Kana langsung berdiri dan melotot pada gadis itu.
“Baguslah kalau lo merasa,” ucap Kana acuh tak acuh lalu menarik Keano pergi dari sana.
“Biarin gue di sini, Na. Lagi pula gue di sini sama Kevan, kok,” ujar Keano melerai mereka.
“Kevan, Kevan, Kevan! Cowok itu sering banget ngajakin lo macam-macam. Kenapa harus lo yang ngikutin dia ke kantin Bahasa? Dia bisa, kan, nyusul lo di kantin IPA! Kalo gini, lo bisa kecapean!” nada suara Kana makin meninggi, mengundang beberapa pasang mata di sekitar mereka.
“Gue sendiri yang pengen ke sini, Na. Lo jangan gitu amat sama Kevan,” bela Keano. Wajah pemuda itu terlihat sedang menahan kekesalan.
Kana menatapnya beberapa saat dengan tajam. Tanpa berkata apa pun, ia menarik Keano keluar dari kantin dan pergi entah ke mana.
Lili menatap kepergian mereka dengan kerutan kesal di dahinya. Ia bisa melihat Keano yang keberatan dibawa pergi. Namun, dia juga tak bisa berbuat apa-apa untuk menahannya. Lagi pula kantin sedang ramai. Lili tidak mau mengundang perhatian orang hanya karena seorang pemuda. Itu bukan levelnya.
“Itu cewek siapa, sih? Ngeselin banget. Sok-sokan ngatur Keano mau ke mana. Udah kayak emaknya aja,” gerutu Lesli dengan suara pelan.
Lili duduk kembali sembari membuang napas panjang. “Nggak tahu juga. Pacarnya kali?”
“Bukan.”
“Lo kedengaran yakin banget.”
Lesli memakan baksonya,bulat-bulat lalu berujar, “Kemarin gue dengar dia lagi ngobrol sama temen gue di kelas, pas ditanya Kana siapanya dia jawab cuma teman. Soalnya sekelas gue juga heran kenapa Kana perhatian banget sama Keano.”
“Dia bilang cuma teman?”
“Ho’oh.”
Lili lantas mendesah lega. Entah kenapa, dia merasa tak rela Keano punya pacar titisan Mak Lampir seperti Kana.
“Lah, Keano mana?” tanya Kevan yang baru saja dari memesan makanan.
“Udah dibawa lari sama Mak Lampir,” sahut Lili cuek.
“Aish, Kana lagi? Tuh, cewek emang nggak suka banget sama gue!” Kevan meletakkan dua mangkuk bakso di meja dengan kesal. “Terus ini bakso mau diapain? Ya kali gue bayarin Keano lagi?”
Lesli dan Lili saling pandang dan mengangguk. “Yaudah, sini kita berdua yang makan,” ujar Lili lalu mengambil bakso itu.
“Yang bayar siapa?” tanya Kevan.
“Keano,” jawab keduanya bersamaan.
Kevan mengerutkan kening tak mengerti.
***
“Totalnya dua puluh lima ribu,” ujar Lili ramah dan menyerahkan sekantung belanjaan pada pembeli.
“Uangnya pas, ya.”
“Iya, Mbak. Makasih.”
Lili menunduk sekilas sembari tersenyum ramah pada pelanggannya yang beranjak keluar.
Ia lantas duduk kembali dan membuka buku tugas Bahasa Inggrisnya. Pulpen di tangannya menari-nari di atas halaman bukunya. Begitulah kegiatan Lili selama menjaga toko. Sepulang sekolah, dia langsung ke toko menggantikan ayahnya hingga pukul enam atau tujuh malam. Arya, pekerja paruh waktu di toko mereka sekaligus adik dari alm. mamanya menjaga toko hingga tengah malam. Saat tak ada pelanggan, Lili kadang mengerjakan tugasnya atau menghapal kosakata bahasa Jerman untuk memperlancar bahasa Jermannya.
Ping!
Suara notifikasi dari ponselnya yang tergeletak di meja kasir menarik perhatian Lili. Ia menyalakan layar ponselnya dan melihat sebuah pesan baru masuk di Facebooknya.
Matanya membulat kala melihat pengirim pesan di Facebooknya.
Keano Alaric Ansel: Halo, Lili. Konfir gue, ya!
Tanpa berpikir panjang, Lili beralih ke bagian permintaan pertemanan dan mengkonfirmasi permintaan pertemanan Keano.
Lili Vorvene A: Udah, ya:p
Keano Alaric Ansel: Makasih, Lili. Oh, iya, gue minta maaf, ya, soal yang tadi siang^^
Lili Vorvene A: Nggak apa-apa, kok. Btw, lo dapet sss gue dari mana?
Keano Alaric Ansel: Dari Lesli.
Keano Alaric Ansel: Oh, iya, lo sibuk besok?
Lili berpikir sejenak. Besok hari Sabtu. Palingan dia hanya beres-beres rumah dan menjaga toko sesudah itu.
Lili Vorvene A: Kalau pagi sampai sore, gue biasanya sibuk karena harus bersih-bersih dan jaga toko.
Keano Alaric Ansel: Oh, gitu ya. Kalau malam?
Lili Vorvene A: Nggak ada kegiatan apa-apa. Memangnya kenapa?
Keano Alaric A: Gue mau ngajak lo makan malam di restoran Papa.
Lili mengangkat alisnya melihat pesan itu sembari menunjuk dirinya sendiri. “Gue?”
Tak lama kemudian, chat Keano masuk lagi.
Keano Alaric Ansel: Itu untuk salep yang lo kasih sama gue
Keano Alaric Ansel: Maksudnya, gue ngajak lo makan malam sebagai rasa terima kasih?
Lili terkikik geli melihat pesan Keano yang masuk berkali-kali. Pemuda itu terkesan buru-buru mengirim pesannya.
Lili Vorvene A: Gue aja, nih, yang diajak?
Kevan Alaric Ansel: Kalau lo mau, gue bisa ajak Kevan sama Lesli juga. Lagi ada menu baru, lho, di sana. Btw, chef-nya itu papanya Kevan.
Lili tersenyum kecil. Ia sudah tahu Om Bram, ayah Kevan bekerja sebagai Chef, tapi ia baru tahu kalau ternyata beliau kerja di restoran orang tuanya Keano. Pantas saja Kevan dan Keano dekat.
Lili Vorvene A: Btw, lo ngutang sepuluh ribu di kantin Bahasa.
Keano Alaric Ansel: Hah?
Lili Vorvene A: Oh, Kevan belum bilang sama lo, ya? Bakso lo tadi gue makan sama Lesli, tapi tetap lo yang bayar, ya(. ❛ ᴗ ❛.)
Keano Alaric Ansel: Ohahaha, oke-oke.
Lili hanya membaca pesan itu lalu mematikan ponselnya. Dia tidak ingin kegiatan belajarnya terganggu karena asyik bertukar pesan.
***
Read
Walaupun tak rela pesannya hanya dibaca, Keano tersenyum kecil. Ia melihat foto profil gadis itu yang hanyalah foto bunga lili putih.
Selain pecicilan, Lili ternyata cukup tak tahu malu. Bisa-bisanya gadis itu dengan santai memberi tahu Keano tentang utang padahal dia yang memakan baksonya.
Namun, bukannya ilfeel, Keano merasa sifat itulah yang menambah poin keunikan Lili di matanya. Seumur-umur, dia belum pernah bertemu cewek seperti itu. Bagaimana tidak, cewek yang dekat dengannya selama ini hanyalah Kana.
Keano yang tengah berbaring telentang di tempat tidurnya menatap langit-langit kamarnya, sembari mengingat perkataan ayahnya tadi.
***
Beberapa jam yang lalu ...
Keano memandang salep pemberian Lili di tangannya. Matanya menyipit ketika senyum terukir di wajahnya.
“Kamu ngapain senyum-senyum?” Ansel, ayah Keano bertanya dari depan pintu.
Keano menatap ayahnya dan langsung menyembunyikan salep itu. Dia tersenyum kikuk ketika ayahnya berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.
“Kamu lagi suka sama seseorang?”
Keano terdiam dan menggeleng ragu. “Nggak, Pa.
Ansel tersenyum kecil. “Jangan bohong sama Papa. Papa tahu arti senyum kamu tadi itu.”
Keano menatap ayahnya dengan penuh tanda tanya.
“Karena Papa juga pernah tersenyum seperti itu saat baru kenal dengan Mama kamu,” lirih Ansel tersenyum kecil, “jadi, kamu suka sama siapa? Kana?”
“Bukan, Pa.”
“Terus?”
“Lili,” gumam Keano tersenyum lagi.
“Lili?” beo Ansel, “ Papa baru dengar nama itu. Dia siapa?”
“Temen satu sekolah Keano, Pa. Tapi, mungkin lebih baik Keano diam aja, ya? Keano belum berani bilang suka sama dia. Kami baru kenal beberapa hari yang lalu.”
“Lho, memangnya kenapa kalau kalian baru saling kenal beberapa hari yang lalu? Keano, perasaan itu nggak boleh dipendam. Gini, nih, kebiasaan kamu. Suka pendem perasaan sendiri. Tapi, ujung-ujungnya nanti kamu yang nyesel sendiri.”
“Kalau dia nolak?”
“Setidaknya kamu sudah mencoba, ‘kan? Soal jawaban dari Lili itu kamu pikirin belakangan, yang penting kamu sudah mengakui perasaan kamu. Dari pada kamu pendam terus perasaan itu, itu cuma bikin kamu menyesal nantinya. Nanti keduluan orang lain, lho.”
***
Keano tersenyum kecil. Sepertinya ia harus berterima kasih pada ayahnya. Karena perkataan ayahnyalah dia berani mengirim pesan untuk Lili.