Laura. Seperti biasanya, aku hanya berpenampilan seapa adanya saja. Aku tidak suka memakai riasan di wajah, dan berpenampilan heboh. Aku menghampiri Dokter Nico lagi. Dari area UGD yang memacu jantung jadi seperti olahraga beban berat, aku berjalan santai ke departemen bedah. Di departemen bedah saja aku masih harus mencari namanya Dokter Nico. Bedah umum nggak ada. Bedah urologi nggak ada. Bedah digestif nggak ada. Bedah thoraks dan kardiovaskuler pun... nggak ada. Bedah plastik! Nggak ada juga. Yang ada malah namanya Dokter Abby di depan salah satu ruangan. Aku pun menyusuri loron terakhir, ada klinik onkologi dan bedah saraf. Kalau nggak ada, ya berarti belom jodohnya aku untuk bertemu Dokter Nico deh. Eh, bukan berarti aku suka sama dia ya. Dalam kamusku, laki-laki itu tetapla

