Our Home

1582 Kata

Nico. Hari baru, semangat baru. Aku melangkah menuju ruanganku seperti biasanya. Nita juga sudah memberitahuku mengenai jadwal operasi yang diundur akibat pasienku mengalami serangan jantung tadi malam. Tidak masalah, semuanya masih baik-baik saja. Rumah Sakit Effendi tetap menjadi rumah sakit yang ramai dengan pasien. Eits, bukan berarti aku mengharapkan orang-orang jadi sakit ya. Sebagiannya memang betul karena tanpa orang sakit, maka aku tidak memiliki uang untuk menghidupiku. Tapi, kalau terus-menerus mengharapkan orang-orang sakit, berarti aku dosa. Serba salah. "Dokter," panggil Nita yang masuk ke dalam ruanganku. "Ada yang mencari Dokter." "Siapa?" Tanyaku. Aku melihat kalau sekarang masih menunjukkan waktu jam delapan pagi di layar ponselku. "Pasien? Memangnya ada yang sudah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN