2. Lorber

1786 Kata
Kami mendarat di sebuah tanah lapang ketika petang menjelang. Entah ada berapa orang penumpang di dalam pesawat itu, tapi pasti tidak lebih sepuluh orang. Aku tak peduli, dan tak berusaha ingin tahu dari mana asal mereka. Yang jelas, ketika awak pesawat memberi komando untuk turun dengan tertib, aku langsung berdiri dan melangkah di belakang lelaki yang membawaku tadi. Begitu semua orang turun dengan selamat, pesawat kecil itu pergi meninggalkan kami. Seakan-akan meninggalkan kami yang ingin bertamasya di sebuah taman asing. Aku meregangkan tubuh dan berbalik mengikuti lelaki tadi yang sudah lebih dulu berjalan mengikuti rombongan. Tak lama kemudian, kami sampai di sudut lapangan yang sudah berjejer rapi mobil-mobil kecil yang lumayan bagus—tapi tetap saja aku tidak tahu mobil model apa itu. Semua orang seakan tahu mobil mana yang harus mereka naiki, sementara aku terus menerus membuntuti lelaki berseragam cokelat yang menyebalkan itu. “Jadi,” ucapku sembari masuk ke dalam mobil setelah ia membukakan pintu untukku. “Di mana kita sekarang?” Lelaki itu membanting pintu mobil di depan hidungku, berjalan memutar, lalu masuk ke mobil dan duduk tenang di balik kemudi. Ia tampak menghela napas sejenak sebelum menjawab, “Kita sampai di salah satu bagian bumi yang sudah terisolasi sejak perang dunia ketiga berakhir.” Aku agak kecewa mengetahui bahwa diriku masih di bumi. Kupikir, setidaknya kami sudah di bagian lain antariksa dan meninggalkan bima sakti untuk selamanya. Ngomong-ngomong, sejak perang dunia ketiga berakhir ratusan tahun yang lalu, memang ada banyak negara yang dinyatakan hilang, atau diisolasi akibat kerusakan parah, atau karena sebagian besar penduduknya sudah mati dan terpapar radiasi nuklir. Termasuk zona terlarang di perbatasan utara kotaku, tempat itu menjadi korban dari perang dunia, terpapar zat radioaktif dan menjadi tidak layak huni. Beberapa kota juga menjadi mati akibat terkubur abu vulkanik gunung anak krakatau yang sempat mengamuk beberapa dekade belakangan. Sisanya, tenggelam. Indonesia bisa dikatakan cukup beruntung memiliki wilayah yang terpisah-pisah, sehingga tak serta merta binasa seperti beberapa negara lain. Bumi sedikit menjadi lebih lapang daripada ratusan tahun lalu, tapi tetap saja, kerusakan tak terhindarkan. Semakin lama, semakin banyak bagian bumi yang menjadi tidak layak huni. Untung saja, negaraku menjadi salah satu negara yang berhasil bangun dari kejatuhannya, dan kini hampir terbang, jika saja kasus-kasus korupsi yang ada tidak masuk hitungan. Kami hampir setara dengan negara-negara maju lainnya. “Dan, akan ke mana kita?” Aku tak ingin memikirkan alasan mengapa bagian bumi yang kupijaki saat ini terisolasi dari peradaban. Meski di dalam kepalaku ada pikiran jahat yang mengatakan bahwa aku sedang menjadi kelinci percobaan suatu bangsa untuk membuktikan kekebalan manusia terhadap radiasi nuklir atau yang lainnya. “Kau akan segera tahu.” Lelaki itu melajukan mobilnya, agak lambat jika dibandingkan mobil-mobil yang lain. “Tidak, kita sudah sejauh ini. Kau harus mulai menjelaskan semuanya kepadaku,” bantahku kemudian. Aku mulai panik ketika roda-roda mobil berdecit meninggalkan tanah lapang dan berbelok di tikungan. Pepohonan menyambut, seakan ingin menelan kami bulat-bulat. Lelaki itu tak merespons kata-kataku. Harus kuakui aku mulai ketakutan, mungkin ini lebih buruk daripada sekedar menjadi kelinci percobaan ketahanan manusia terhadap nuklir. Bisa saja sekarang aku sedang diantar menuju sebuah populasi binatang purba dan diminta menjadi pawang binatang-binatang itu, kemudian aku akan berakhir di perut mereka setelah sebelumnya dicabik-cabik. Kami terus melaju, dan aku terus diperkeruh dengan pikiran-pikiran jahat, hingga kemudian deretan pohon besar dan tinggi menghadang kami—jalanan buntu di tengah hutan. Pohon-pohon itu menjulang setinggi kira-kira enam sampai delapan meter. “Apa kita tersesat? Salah jalan?” tanyaku kemudian. “Laurus Nobilis,” kata laki-laki itu, tidak menjawab pertanyaanku. “Berdirilah di pohon ke delapan belas.” “Apa?” “Itu pohon dengan nama latin Laurus Nobilis. Pohon Dafnah atau bisa juga disebut Lorber. Di masa lalu, pohon itu biasa ditemukan di Eropa Selatan. Daunnya biasa diberikan kepada para olahragawan di olimpiade sebagai tanda kehormatan. Tapi sekarang itu jalan masuk kita.  Kau harus berdiri di pohon ke delapan belas. Sudah jelas?” “Aku tak mengerti mengapa aku harus berdiri di depan pohon itu. Kau saja sana! Seenaknya menyuruh orang lain,” balasku kesal. Dia belum memberiku penjelasan apa-apa tentang keterlibatanku di sini. Sekarang dia memintaku berdiri di depan sebuah pohon. Apa dia ingin pohon itu menelanku? “Hanya kau saja yang bisa. Aku berjanji akan menjelaskan semuanya padamu. Sekarang pergilah, semua orang sudah berdiri di tempatnya masing-masing, kecuali kau.” Aku menoleh mengikuti arah pandangannya. Benar saja, setiap orang sudah menghadap pohonnya masing-masing, dan hanya ada satu pohon kosong di sana. Jadi, mau tak mau aku mengikuti apa yang diminta oleh lelaki asing itu. Setelah aku berdiri tepat di depan pohon itu, sepetak kulit pohon yang berada tepat di depan mukaku bergerak ke atas, menampakkan monitor sensor yang tersembunyi di baliknya. Aku melirik pohon di samping kanan dan kiriku, mereka menampilkan hal serupa. Lalu, sebelum aku sempat menyadari apa pun, sinar sensor yang berwarna biru menyusuri wajahku mulai dari dahi hingga bagian dagu. Setelah sinar itu menyerap data wajahku, muncul sebaris tulisan, Face Correct. Lalu nama lengkapku muncul, Kanya Aleana, 16, F. Entahlah, aku masih belum punya clue tentang apa yang akan kuhadapi selanjutnya. Namun, seketika pohon-pohon itu menyusut, seakan-akan terhisap oleh tanah. Barulah kemudian aku sadari bahwa mereka sama seperti gerbang penjaga, dan entah bagaimana caranya wajahku menjadi kunci sehingga aku bisa menjadi salah satu orang yang bisa membukakan jalan yang tadinya tertutup oleh pohon-pohon lorber. Setelah itu, kami kembali ke mobil masing-masing dan meneruskan perjalanan. Tetapi itu pun tak berlangsung lama. Karena sekejap kemudian, setelah melewati beberapa kelokan dan tanjakan, kami akhirnya berhenti di depan sebuah dinding baja setinggi ... kali ini aku tak bisa mengukur seberapa tingginya, karena dinding itu seakan menjulang untuk membelah langit. Sekali lagi, aku menoleh ke arah lelaki di sampingku sembari mengangkat alis. Berharap kali ini ia benar-benar akan memberikan sebuah penjelasan logis, mengapa ia membebaskanku dari gedung petak—yang formalnya disebut sekolah—dan membawaku ke sini. Baiklah, aku akan berterima kasih padanya karena sudah melepaskanku dari sekolah untuk sementara waktu. Tapi jika perjalananku sudah begitu jauh seperti ini, bagaimana dengan pelajaran-pelajaran yang kutinggalkan? Bagaimana aku harus mengejar mereka semua? Bagaimana jika tiba-tiba diadakan ujian? Aku merasa heran mengapa pikiran-pikiran tentang sekolah ini menggangguku. Tak ada sepatah kata pun lolos dari bibirnya. Mengapa aku selalu terlibat dengan orang yang pelit bicara? Ibuku, ayahku, orang ini. Aku butuh penjelasan itu sekarang. Aku tidak menginginkan penolakan lagi seperti sebelumnya. “Kau benar-benar tidak ingin menjelaskan sesuatu sebelum aku bertanya?” ujarku setelah tatapan tajamku tak memberikan efek apa pun bagi rasa takutnya. “Baiklah. Pertama-tama, aku akan menjelaskan diriku sendiri.” Ia membuka kaca jendela mobil dan membiarkan udara masuk ke mobil kami yang sejak tadi lumayan pengap, lalu melanjutkan. “Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, namaku Panca. Panca Prasetya. Aku patron-mu. Usiaku dua tahun lebih tua darimu. Oh ya, perlu kau ketahui bahwa kau tidak bisa memilih patron. Karena namaku sudah tercatat sebagai patronmu sejak kau belum dilahirkan.” Kali ini aku memandang ke arahnya dengan alis bertautan. Aku mendengar kata patron berkali-kali, dan aku tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh lelaki yang mengaku patronku ini. Mendadak, aku merasa seperti sedang menginjakkan kaki di planet lain dan sedang berhadapan dengan salah satu alien—meski tadi Panca sudah memastikan bahwa kami masih di bumi. “Patron? Dengar, aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Aku punya banyak pertanyaan sekarang, tapi pertama-tama, aku ingin tahu, apa itu patron?” Untuk pertamakalinya sejak kami bertemu dan terjebak duduk berdampingan selama hampir seharian, aku melihatnya tersenyum. Tapi aku mulai muak dengan sikap sok misteriusnya itu. Sebelum aku sempat memutar bola mataku, ia menjawab. “Patron itu semacam penjaga, pelindung, katakanlah begitu. Dan sudah tugasku untuk mendampingimu sekaligus melindungimu saat bertugas atau dalam situasi apa pun.” “Melindungiku? Dari apa? Dari hidupku yang membosankan? Bagus sekali.” “Wow, Nona. Pelan-pelan. Aku tahu kau punya banyak pertanyaan, tapi tahan sebentar. Akan kuberitahu dulu tentangmu, akan kujelaskan situasinya.” “Mengapa tidak dijelaskan sejak tadi?” Ia tersenyum sekali lagi, mengabaikan pertanyaanku lalu mulai menjelaskan. “Kau adalah seorang menacer. Sebuah ancaman. Kau akan dihadapkan pada situasi yang mungkin sangat berbahaya. Dan, kita sedang dalam perjalanan menuju markas asosiasi perdamaian dunia, kau salah satu keturunan tetap dan resmi menjadi anggota begitu kau menginjak usia enam belas tahun. Tetapi kau tidak sendirian. Karena seperti yang sudah kubilang, aku patronmu. Aku yang akan selalu menjadi pelindungmu.” “Aku? Sebuah ancaman? Bagaimana mungkin aku menjadi sebuah ancaman bagi perdamaian dunia?” Panca terkekeh. Aku mulai muak dengan semua pengetahuannya dan semua ketidaktahuanku. “Tentu saja tidak. Justru kau menjadi prajurit utama di sini. Kau menjadi ancaman bagi mereka yang ingin mengacaukan perdamaian dunia, Nona. Tapi selain menjadi ancaman, kau sendiri juga rentan terancam bahaya, untuk itulah aku ada.” “Mengapa aku? Bukankah ayah atau ibuku lebih dewasa dan layak mengikuti asosiasi semacam ini?” “Tidak, generasinya sudah berpindah tangan. Ini giliranmu, giliran kita.” “Kau sepertinya sangat mengerti segalanya, sementara aku tidak.” “Keluarga patron selalu dilatih untuk ini, Nona. Itu sebabnya kau tidak melihat kaum kami berkeliaran di sekolah atau di wilayahmu. Kami tinggal terpisah dari peradaban. Sementara menacer sepertimu diizinkan tinggal dalam peradaban. Ayah ibumu sebenarnya tidak tahu bahwa kau mendapatkan mandat ini dari kakekmu, tetapi sudah ada orang yang bertugas memberikan pengertian pada mereka, jadi kau tak perlu khawatir.” Kakekku? Aku bahkan tak pernah melihat kakekku, karena dia sudah lama mati. “Oh, mereka tidak akan peduli walau aku tidak kembali.” “Kau harus tahu mereka sempat menolak orang-orang yang berusaha menjelaskan keadaanmu. Mereka sungguh tidak ingin kau pergi.” Aku mengangkat bahu, tak ingin luluh. Lalu mengalihkan pandangan ke arah dinding baja yang menjulang di atas kami. Panca tiba-tiba berkata, “Kita akan tinggal di sana, sampai misi kita selesai.” Sepertinya ia menyadari bahwa aku tak ingin membahas apa pun tentang keluargaku. “Bagaimana caranya melewati dinding baja itu? Haruskah aku menghadapinya seperti pohon lorber tadi?” “Tidak, kita harus menunggu waktu yang tepat, dan itu sekitar, sekarang! Nah, kita harus bergegas. Kau akan terkejut saat mengetahui bagaimana cara kerjanya.” Panca menghidupkan mesin mobil dan menyejajarkan mobil kami dengan mobil-mobil yang lain. “Panca?” “Ya? Jangan sering memanggilku dengan nama itu.” Aku mengabaikan protesnya. “Ada berapa banyak menacer dan patron?” “Untuk generasi kita, ada dua puluh tujuh pasang. Termasuk kau dan aku. Dan ada banyak dari generasi sebelumnya.” “Apa semua menacer itu kebingungan sepertiku?” “Mungkin.” Deru mobil-mobil di sekeliling kami semakin tajam, pedal gas terus diinjak bersamaan dengan rem. “Nah, Nona, bersiaplah!” Debu-debu beterbangan begitu semua mobil melepas remnya serentak, aku kira akan terjadi benturan, tapi semuanya berjalan mulus, seolah kami baru saja melewati badai angin dan tiba dalam keheningan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN