9. Pengawas

1404 Kata
Aku melonjak dari tempat tidurku saat sinar yang menyilaukan menusuk mataku. Tanganku meraba di atas meja, mencari-cari arlojiku yang berwarna hitam. Mataku masih enggan membuka walaupun aku sudah duduk di pinggir ranjang. Barulah ketika tanganku menemukan benda yang berdetik itu, aku memaksakan diri membuka mataku. 08:10 "Astaga!" Aku berseru terkejut. Mataku menatap berkeliling dan menemukan setengah dari tempat tidur kosong, sementara setengahnya masih tenggelam dalam selimut tipis masing-masing. Mengapa tidak ada orang yang berniat membangunkanku? Aku sudah terlambat 10 menit untuk sesi latihan, dan melewatkan sarapan sekitar sejam yang lalu. Aku berdecak kesal sambil meraih handuk di hanger yang kugantung di kaki tempat tidurku. Dan tergopoh-gopoh masuk kamar mandi. Apapun yang terjadi, aku tetap harus mandi. Lagipula, mandi atau tidak, aku tetap terlambat. Jadi kepalang basah, sekalian berenang saja. Setelah setidaknya tubuhku sudah terbasuh air dan beraroma sabun mandi, aku memakai seragam latihanku yang berwarna coklat gelap dan memasukkan kakiku ke dalam sepatu botku secara asal. Aku sempat melihat jadwal hari ini sekilas sebelum aku tidur semalam, dan hari ini akan dibentuk kelompok latihan untuk pertahanan diri di dunia lepas. Maka aku menekan lift buru-buru ke lantai dasar. Di lobi, aku berpapasan dengan Dicky dan Alvhi, entahlah mereka Menacer ke berapa aku tak ingat. Mereka belum memakai seragam mereka dan terlihat rileks dengan setumpuk masker di tangan masing-masing. "Kenapa tidak ada acara saling membangunkan hari ini?" tanyaku kesal. Kemudian aku menjepit cocator perak di antara bibirku sementara aku memakai arlojiku. "Oh, kau tidak tahu? Latihan hari ini diundur jadi pukul sepuluh, karena sirene sial yang merusak waktu tidur kita semalam." Alvhi menjelaskan dengan sekali tarikan napas. "Untuk apa maskernya?" tanyaku penasaran, setelah arlojiku terpasang di pergelangan tanganku dan cocator sudah aman dalam saku. Sementara mereka berdua kewalahan. "Entah. Ini wajib dibawa untuk latihan besok. Kami diizinkan membagikannya setelah latihan hari ini selesai." Dicky yang menjawab. Kemudian mereka pamit untuk kembali ke Barak Menacer. Sementara aku memutuskan untuk keluar gedung untuk mencari udara segar. Bagaimana pun juga, aku harus melihat keadaan Dylon. Sekeluarnya dari gedung, aku terus berjalan ke arah utara lalu sekitar dua puluh meter, aku berbelok ke arah timur sebelum melihat bangunan modern yang dicat putih mengilat. Semalam aku tak sempat untuk sekedar memperhatikan warna gedung ini. Yang ada dalam kepalaku hanya wajah Dylon dan pistol di tangan Panca. Aku berdiri sekitar setengah meter dari pintu, di atas keset lebar yang lazimnya bertuliskan welcome. Kemudian pintu di depanku otomatis terbuka. Aku menahan napas saat kusadari bahwa ada seseorang di balik pintu itu yang bersiap untuk melangkah keluar, berlawanan arah dengan tujuanku. Ia memakai topi berwarna hitam yang menutupi wajahnya ketika ia menunduk. Tangannya mengutak-atik cocator. Bersamaan dengan itu, cocator di sakuku mengeluarkan bunyi bip. Lelaki di hadapanku mendongak sebelum aku sempat meraih cocator-ku. "Menacer 18!" Nada suaranya seperti orang tersentak. "Aku baru saja akan menghubungimu," katanya lalu keluar dari gedung itu sambil menarik tanganku. "Hei! Aku ..." "Apa kau sudah mengambil sarapanmu?" katanya cepat. Sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan. "Belum," sahutku tanpa pikir panjang. Bukankah lebih mudah bagiku jika aku bilang aku sudah sarapan? Dengan begitu aku bisa langsung menghindarinya. Namun, aku sudah terlanjur jujur. "Bagus, aku juga belum. Tidak ada acara sarapan bersama hari ini karena jadwal latihan diundur. Mari kita ambil sarapan." Ia buru-buru berjalan sambil menyeretku. "Tidak. Aku ingin menjenguk Dylon dulu." "Kita ambil sarapan dulu, lalu memakannya sambil jalan, aku juga berniat menjenguk temanmu itu," katanya memaksa. "Bukankah tadi kau habis menjenguknya?" Dia menggeleng. Tapi tak menjelaskan apa-apa. Akhirnya aku berjalan terseret-seret di belakangnya sementara ia terus melangkah menuju tempat sarapan kami disimpan. "Panca ..., Jill!" Awalnya aku berniat untuk protes tentang acara seret menyeret ini. Namun, sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku, Panca menghentikan langkahnya. Begitu aku mendongak, aku melihatnya. Jill berdiri tepat di depan Panca, hanya beberapa inci. Aku tak bisa melihat ekspresi Panca. Tapi aku melihat Jill yang menatap Panca dalam-dalam. Oh, aku tak ingin melihat adegan ini. Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Panca, meskipun tak mudah. Tapi setelah aku menarik tanganku sekuat tenaga, ia akhirnya melepaskannya. Aku segera berjalan melewati mereka berdua karena tak ingin tahu ada apa dengan mereka. Kemudian berjalan untuk mengambil sarapanku sendiri, karena kuakui aku memang lapar. Setelah aku mengambil sepotong roti isi milikku dan sebotol s**u, aku bergegas kembali ke gedung kesehatan. Aku masih punya waktu satu jam lagi sebelum latihan dimulai. Begitu melewati jalan di mana drama Panca-Jill tadi, jejak-jejak mereka tak lagi tertebak olehku. Aku terus berjalan sambil menggigit rotiku dengan gigitan yang besar-besar. Sehingga ketika aku sampai di depan gedung kesehatan itu, aku sudah selesai dengan rotiku dan meneguk setengah botol s**u sekaligus. Namun, lagi-lagi mataku menangkap hal lain—sebuah gedung pencakar langit—yang terletak tidak jauh dari gedung kesehatan. Aku melihat Arya masuk ke sana. Rasa ingin tahuku tergelitik. Waktu luangku sebelum latihan masih sekitar empat puluh lima menit lagi. Kupikir tidak masalah jika aku mengikuti Arya beberapa menit saja, lalu memeriksa keadaan Dylon sebentar sebelum berlari ke gedung pertemuan. Aku menyentuh gagang pintu itu dan tersengat dengan rasa dingin yang menjalari sekujur tubuhku seketika. Seperti menyadari kehadiranku, Arya berbalik dan langsung menangkap basah diriku yang tak lagi sempat bersembunyi. "Hei, apa yang kau lakukan di sini?" Arya mengangkat sebelah alisnya. "Tidak ada," ucapku kalem. Meskipun tubuhku masih dialiri perasaan dingin yang tak nyaman. Arya masih mengangkat alisnya. "Apa kau yakin?" Aku mengangguk cepat. "Aku tahu apa yang sedang mengganggumu. Tapi aku takkan memberitahumu sampai kau bertanya.” Aku tahu dia berniat menggodaku. Panca pasti sudah memberitahunya tentang rasa-ingin-tahu yang ada pada diriku. "Aku tidak tahu bagaimana cara menanyakannya," ungkapku jujur. "Begitulah akibatnya jika kau melampaui batas. Tidak setiap jengkal tempat di sini bisa diakses olehmu. Termasuk gedung kendali. Ini batas pribadi para Restrain. Tapi jika kau ingin masuk, aku bisa mengurusnya." Aku baru tahu perihal batas tempat ini. Hah! Aku benar-benar harus membuka dokumen-dokumen itu nanti malam agar aku tidak lagi melakukan hal bodoh seperti ini. "Bisakah?" "Tentu saja. Tapi mungkin selama di dalam nanti, kau akan merasa tidak nyaman." Bukankah setiap hal itu memiliki harga? Anggap saja rasa tidak nyaman itu sebagai harga yang harus kubayar untuk masuk ke gedung kendali. "Tidak masalah bagiku." "Baiklah, tetaplah di belakangku." Setelah berkata begitu, Arya masuk lebih dulu di depanku. Membimbingku menyusuri lorong-lorong redup yang entah bagaimana caranya berjalan di sini tanpa tersesat. Tampak seperti labirin. Jika aku nekad berjalan-jalan di sini sendirian, jelas sekali aku akan tersesat. Arya tiba-tiba berbalik ke arahku, membuatku menabrak dadanya. "Ups!" seruku terkejut. "Jangan menyentuh apapun, atau sidik jarimu akan menimbulkan masalah." Arya berbisik penuh peringatan. "Oke, kau bisa membunuhku jika aku menyentuh apa pun." "Itu cukup meyakinkan." Lalu Arya berbelok ke arah kiri, sehingga tampaklah ruangan besar dengan monitor di setiap jengkalnya. Monitor-monitor itu menampakkan berbagai view sudut distrik ini, Termasuk Barak Menacer Menacer. Oh, inilah sebabnya mengapa kami harus menjaga bicara kami. Aku beralih menatap Arya meminta penjelasan. "Tidak," kata Arya tiba-tiba. Seolah bisa membaca pikiranku. "Kami tidak mendengarkan semua hal. Hanya jika ada aktivitas yang mencurigakan." Arya mengangkat tangannya. "Lalu, bagaimana Jill bisa tahu saat kami membicarakannya?" "Kami tidak tahu. Percayalah. Kebetulan kami memang sedang menuju ke Barak Menacer dan memergoki kalian berbicara tentang Jill." "Apa suatu saat akan ada yang membuka rekaman percakapan-percakapan itu?" Ini tentang hal lain yang kubicarakan. Sepertinya Arya mengerti maksudku. "Hanya jika diperlukan." Kata-kata itu tidak menjamin apa-apa. Membuatku semakin menyadari bahwa aku selama ini terekam dalam sebuah masalah besar. Aku menggigit bibir bawahku. Aku bukannya mengkhawatirkan diriku, tapi orang yang terlibat bersamaku. Patron-ku. Tentu saja. "Aku sengaja menunjukkan semua ini padamu," jelasnya singkat. Aku terkejut. Apa maksudnya? "Aku ingin kau berhati-hati," lanjutnya. Sebelum aku sempat bertanya hal lain lagi. Hening setelahnya. Tak ada yang bisa kami bicarakan satu sama lain. Mataku menyusuri monitor-monitor yang ada di belakang Arya, sebab ia berdiri menghadapku. Monitor-monitor itu menampakkan rekan-rekan Menacer-ku yang sedang bersiap-siap, para dewan dan inspektur dari divisi satu, Patron-Patron yang sedang dalam perjalanan ke tempat latihan, rumah sakit. Ya, rumah sakit. Kemudian aku teringat seseorang yang seharusnya kutemui pagi ini. Astaga. "Aku harus menemui Dylon!" seruku tiba-tiba, lalu sebelum aku meraih pintu, mataku menemukan Dylon! Dylon ada dalam monitor. Tubuhnya memberontak dan ia sedang dipegangi oleh beberapa orang berpakaian putih. Kemudian ia terjatuh dari ranjangnya. Menyisakan noda merah di seprai putih ranjang itu. Sebelum aku menyadari sesuatu, Arya segera menarikku keluar dari gedung kendali itu dan terseret-seret memasuki gedung rumah sakit. Aku tahu aku terlambat. Karena sesampainya aku di ruangan itu, aku hanya menemukan darah yang tercecer di lantai dan seprai berwarna putih itu. Mataku nyalang mencari-cari siapa pun yang bisa disalahkan. Lalu di belakangku, salah satu petugas berpakaian putih yang kulihat di monitor tadi berbicara pada Arya. Mungkin ia tahu bahwa aku tak mungkin bisa diajak bicara sekarang. Aku tak bisa mendengar kata-kata petugas itu karena aku terlalu kalut. Dan Aku tak pernah lagi melihat Dylon sejak saat itu.   ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN