Tergesa, Agung membuka ruangan kerjanya, melepaskan jas yang dia kenakan kemudian menggantung ke hanger yang terletak di sebelah mejanya.
"Bagaimana?" tanyanya.
Tangannya bergerak menyalakan komputer, memeriksa setiap email yang masuk dan memilah dari yang paling penting untuk dia balas.
"Seperti yang diduga, ada 'lubang' di divisi Iklan. Begitu beritanya keluar, saya langsung mengadakan virtual meeting dengan Kepala bagian dan Manajer Periklanan. Mereka mengatakan jika masing-masing dari mereka sudah mencari siapa kira-kira yang membocorkan konsep iklan yang sudah akan kita buat. Menurut Kabag Periklanan, sulit mencari tahu karena Tim satu yang menangani konsep iklan ini adalah tim yang terbaik. Mereka yang selalu dipercaya untuk menjalankan proyek besar terkait perusahaan kita. Apalagi mereka semua adalah orang-orang yang loyal dan dapat dipercaya. Maka dari itu saya memberikan waktu pada mereka untuk mencari siapa yang mencurigakan."
Kepala Agung mengangguk. Matanya masih fokus menatap ke arah depan, ke layar komputer yang menyala.
"Jadi, bagaimana?"
"Sudah ketemu, Pak."
Mengerutkan kening, Agung langsung mendongak.
"Sudah ketemu? Orang yang membocorkan ini?"
Kini giliran Radi yang mengangguk. Tangannya mengulurkan sebuah dokumen ke arah Agung.
Meninggalkan fokus pada layar komputer nya, Agung membuka dokumen itu. Matanya menatap tenang pada barisan kata yang membentuk profil seorang karyawan. Bawahan di perusahaannya.
"Kamu yakin, kalau ini orangnya?"
Tanpa ragu, Radi langsung mengangguk.
"Kabag sendiri yang menyerahkan profil orang ini pada saya. Sama seperti yang Bapak rasakan, saya juga tidak percaya setelah membaca profil lengkapnya. Karena bagaimana pun, dia adalah ketua tim yang sudah bekerja cukup lama disini. Apalagi dia dikenal sebagai karyawan teladan tahun lalu dan dipercaya menjadi ketua tim selama satu tahun penuh. Tapi jika dipikirkan lagi, memang orang sekelas dia lah yang bisa membocorkan konsep ini ke pihak luar. Karena sebagai ketua tim, dia memiliki fleksibilitas yang lebih besar dari semua orang."
"Alasannya?"
Bukannya menjawab, Radi justru berjalan ke arah pintu dan membuka nya.
"Bapak akan tahu setelah menanyakannya secara langsung."
Begitu pintu dibuka, langsung terlihat seorang wanita yang mengenakan setelan kerja yang formal. Kepalanya menunduk. Jika diperhatikan lagi, ada bulir keringat di sekitar keningnya. Orang itu gugup.
Agung langsung mengambil sikap, dia duduk bersandar dan menatap tanpa ekspresi pada orang yang sudah membuat perusahaannya mengalami kerugian.
"Selamat pagi, Pak!" sapa wanita itu lirih.
Sapaan itu hanya dijawab sekenanya oleh Agung. Telapak tangannya menunjuk ke arah kursi, gestur yang mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
"Kalau begitu, saya akan menunggu di luar," kata Radi.
Agung membiarkan asistennya itu pergi, kembali ke mejanya. Sedangkan dia berhadapan dengan wanita yang sejak kedatangannya malah diam dan tidak berbicara apapun.
Melihat lawan bicaranya yang tidak berniat untuk memulai perbincangan, Agung tadinya sudah hendak membuka mulut. Namun ia urung melakukannya saat ketukan di pintu kemudian terdengar.
Sebelah alis Agung terangkat naik. siapa yang datang di saat di dalam ruangannya sudah ada tamu lebih dulu?
"Maaf, Pak. Ada Ibu Anggi dari Pemasaran yang ingin bertemu Bapak."
Terkejut, Agung berdeham pelan. Entah kenapa dia tiba-tiba diingatkan dengan makan siang mereka berdua kala itu.
"Silahkan masuk!"
Tidak jauh berbeda dari sebelumnya, pakaian yang dikenakan oleh Anggi masih mencolok seperti biasanya. Kali ini wanita itu mengenakan celana katun berwarna biru dan blouse berwarna abu-abu. Walaupun begitu, entah kenapa Agung merasa bahwa itu bukan lagi hal yang aneh. Mungkin karena matanya mudah beradaptasi dengan keadaan yang baru.
"Ah, maaf kalau saya menganggu. Tapi sejujurnya, saya datang karena saya mendengar bahwa 'lubang' nya akhirnya ketemu. Saya butuh untuk berbicara juga, tapi tentu saja dengan seizin Pak Agung."
Sejenak pandangan Agung teralih pada wanita di depannya. Dia terkejut melihat pemandangan dimana wanita itu yang tadi tunduk ketakutan, tertangkap matanya tengah menyeringai setelah mendengar ucapan Anggi.
"Silahkan duduk, Bu Anggi. Saya mengizinkan Ibu untuk ikut dalam pembicaraan kami."
Alih-alih membiarkan mereka duduk berhadapan dengannya di meja kerja ini, Agung menggiring kedua orang itu ke arah sofa.
Tidak lama setelah itu, Yunita masuk sambil membawa tiga cangkir teh panas yang kemudian dihidangkan kepada tiga orang itu.
"Jadi..." Agung menaikan satu kakinya ke kaki yang lain. "Apakah ini pengakuan atau interogasi?"
Wanita yang merupakan ketua Tim di Divisi Periklanan itu, bernama Kinta. Berpenampilan menarik dan juga tampak bisa diandalkan. Maka dari itu tujuan Agung selain mendapatkan pengakuan dari Kinta, juga untuk mencari tahu alasan wanita itu melakukannya.
"Maafkan saya, Pak. Memang saya yang sudah membocorkan konsep iklan itu pada pihak Bahar."
Menatap datar, Agung tidak terkejut sama sekali.
"Alasannya?"
Kinta tidak langsung menjawab. Wanita itu lebih dulu melirik ke arah Anggi yang diam.
"Tidak ada alasan berarti, Pak. Saya hanya goyah karena penawaran yang mereka berikan kepada saya."
"Berapa banyak?"
Bukan Agung yang bertanya, namun justru Anggi.
Tapi berbeda dengan tingkah patuh yang beberapa saat lalu ditunjukkan oleh Kinta pada Agung, kali ini Kinta terang-terangan menatap sinis pada Anggi.
"Bukannya yang berhak menginterogasi saya adalah Pak Agung? Kenapa Ibu malah ikut bertanya?"
Agung terkejut. Dia tidak menduga jika Kinta akan bersikap demikian pada orang yang memiliki jabatan lebih tinggi dari dirinya. Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah karena Anggi tampak biasa saja mendengar ucapan tidak sopan dari wanita itu.
"Karena tujuan saya datang kesini memang untuk mengetahui tujuannya. Kamu sudah bekerja berapa tahun, sampai tidak tahu kalau divisi Periklanan dan divisi Pemasaran memiliki keterkaitan yang erat? Kamu pikir, yang dirugikan dari tindakan kamu itu hanya divisi Periklanan? Lagipula Pak Agung sudah mengizinkan saya turut dalam pembicaraan ini." Lalu mata Anggi melirik ke arah Agung. "Benar begitu kan, Pak Agung?"
Agung mengangguk. "Benar. Lagipula pertanyaan yang diajukan oleh Bu Anggi serupa dengan yang hendak saya tanyakan, jadi tidak ada masalah. Yang bermasalah adalah sikap kamu kepada Bu Anggi. Memangnya, ada dendam pribadi apa kamu sama Bu Anggi sampai menatap orang yang merupakan atasan kamu dengan tatapan yang seperti itu?"
Kinta tampak tersentak dengan ucapan Agung. Wanita itu meneguk ludah dan menunduk.
"Maafkan saya kalau saya tidak sopan. Saya tidak memiliki dendam pribadi kepada Bu Anggi."
Kedua alis Agung menukik tajam saat mendengar jawaban dari Kinta.
"Bukannya itu malah lebih mengerikan? Kamu, yang mengaku tidak memiliki dendam pribadi dengan Bu Anggi, sampai menatap sinis seperti itu. Apa alasannya?"
Agung sebenarnya bisa menebak apa alasan Kinta begitu memandang rendah Anggi. Namun dia ingin memastikan dengan jelas bahwa dugaannya adalah benar.
Sayangnya, Anggi menyela, menginterupsi kekesalan mendadak yang Agung rasakan pada Kinta.
"Maaf sebelumnya, Pak. Saya berterimakasih karena Bapak sudah menegur dia karena bersikap seperti itu kepada saya, tapi sejujurnya saya tidak perduli dengan cara orang lain memandang saya. Lagipula.." mata wanita itu melirik dingin pada Kinta yang masih menunduk. "Tujuan kita ada disini bukan karena itu. Melainkan karena untuk membahas masalah lain."
Menarik napas berat, Agung mengangguk.
"Benar. Jadi, berapa nominal yang mereka tawarkan sampai akhirnya membuat kamu goyah?" tanya Agung kemudian.
Harusnya Kinta bisa langsung menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Agung. Namun gadis itu tampak ragu, berulang kali membuka mulut dan kemudian urung.
Agung merasa ada yang janggal disini, dia memutuskan menunggu sampai Kinta membuka mulut, menjawab pertanyaan darinya. Namun lebih dulu pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Maaf saya mengganggu, Pak. Tapi rasanya saya perlu menyampaikan apa yang baru saja saya dapatkan."
Radi masuk ke dalam ruangan dengan wajah datarnya seperti biasa. Pria itu berjalan mendekat ke arah Agung, menunduk kemudian berbisik.
Seksama, Agung mendengarkan apa yang sedang dikatakan Radi padanya. Lalu dia gagal mengendalikan ekspresi wajahnya hingga tanpa sadar membulatkan mata dan langsung melirik ke arah Kinta.
Rupa-rupanya, Kinta tahu bahwa atasannya sudah tahu. Gadis itu menunduk dengan jemari yang saling bertaut.
Berbeda dengan Anggi yang masih berusaha tenang, memperhatikan keadaan.
"Jadi akhirnya, adik kamu diterima di Bahar dan mendapatkan posisi yang setara dengan kamu?"
Ruangan itu menjadi hening. Denting jam besar yang ada di atas tembok bahkan terdengar saking sunyinya.
Anggi sebagai pihak ketiga tetap diam, mungkin di kepala wanita itu sedang merancang reka peristiwa dari apa yang dikatakan oleh Agung tadi.
"Saya sama sekali tidak menyangka, karena kasih sayang yang kamu miliki untuk adik kamu, kamu rela menghancurkan karir kamu sendiri, demi menjulang karir adik kamu. Dia yang baru saja lulus, langsung mendapatkan posisi yang setara dengan yang kamu miliki, yang sudah kamu rintis selama tiga tahun bekerja disini. Apa setelah melakukan itu, kamu merasa bangga dan senang?"
Tadinya, Agung berniat untuk mengontrol emosinya sendiri. Dia tidak ingin meledak-ledak, namun mengetahui fakta yang seperti itu membuat dia sangat marah dan kecewa.
"Maafkan saya, Pak. Belakangan, persaingan untuk masuk kantor besar sangat tinggi. Sedangkan adik saya sudah memimpikan untuk masuk ke Bahar sejak dia masih di bangku SMA. Awalnya saya hanya bertanya pada kenalan saya yang ada di Bahar, bagaimana caranya agar adik saya bisa diterima di sana? Tapi kenalan saya menawarkan kesepakatan seperti itu. Saya.." Wajah Kinta semakin menunduk. "Saya sempat menolak karena merasa tidak bisa melakukan itu, tapi saya tidak tega melihat adik saya kecewa. Selama ini saya hanya hidup berdua dengan adik saya, maka dari itu saya ingin membuat dia--"
"Maaf, sepertinya saya tidak bisa disini lebih lama karena ada urusan."
Agung mendongak cepat pada Anggi yang tiba-tiba saja berdiri dari duduknya. Kening Agung berkerut, bingung. Entah dia salah lihat atau tidak, namun wajah Anggi terlihat tidak baik-baik saja.
Mungkin kah Anggi masih tersinggung dengan masalah tadi?
"Oh begitu? Kalau memang begitu, tidak masalah. Ibu bisa kembali," balas Agung.
Sampai punggung Anggi menghilang di balik pintu, fokus nya masih belum beralih. Dia tidak salah paham, wajah dan ekspresi Anggi yang tenang, Tiba-tiba saja berubah. Entah apa alasannya.
**