Suasana di rumah Oma Yasmin tidak sepenuhnya damai. Di balik penjagaan ketat dan kesunyian halaman yang berhiaskan angin malam, ada badai yang perlahan menggerogoti dinding ketenangan keluarga kecil itu. Jiva baru saja tiba setelah seharian mengatur keamanan baru di kantor dan memperketat sistem pengawasan. Dia langsung menuju kamar, berharap bisa menemani Salwa melepas lelah. Namun, wajah istrinya tak secerah biasanya. "Aku ngomong sama Bude tadi—" Salwa memulai, begitu Jiva duduk di sampingnya. “Tentang Rania.” Mata Jiva menegang, sorot protektifnya menyala seketika. “Dia hubungi kamu lagi?” tanya Jiva, nyaris tanpa jeda. Salwa mengangguk. “Dia menanyakan soal kesediaanku lagi. Aku tetap menolak—tapi aku merasa bersalah, A’.” Jiva menghela napas panjang. “Kamu nggak salah. Kamu mel

