Hadiah

1275 Kata

Khairan mendapati istrinya mencebikkan bibir, sebuah ekspresi merajuk yang manis. Dengan sedikit canggung, ia menarik tangannya sambil berharap Ayunda tak akan semakin murka. “Jangan!” Suara Ayunda menahan, saat jemari Khairan mengambang di udara. Khairan membeku. “J-jangan?” tanyanya ragu. “Lakukan lagi,” pinta gadis itu pelan, malu-malu, menunduk. Senyum lega merekah di bibir Khairan, diiringi helaan napas yang tak tertahankan. Diturutinya keinginan Ayunda, sekaligus membangkitkan keberanian dalam dirinya untuk mengusap kepala sang istri sekali lagi dengan kelembutan. “Umma bilang aku tidak boleh lama. Kita masih dihukum karena ‘tidak beretika’.” Khairan menarik utuh tangannya dan kembali duduk tegak seperti semula. “Percayalah. Rindumu tidak sendirian, Ayunda.” Ayunda suka.

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN